Who I am

Agus Setiawan, adalah pria kelahiran jakarta keturunan jawa. Meskipun besar di jakarta, kampung halaman orang tuanya di kebumen adalah isimewa baginya yang tetap harus dikunjungi setiap tahunnya. Kegemarannya sebagai penggiat alam bebas, hobby mendaki gunung, juga berprofesi seorang desainer grafis, interaksi sosial merupakan hal yag selalu ditemui dalam perjalanan hidupnya. Karena menurutnya segala sesuatu yang ditemui dalam kehidupan selalu berbuah hikmah, maka apa yang ditemui dan di rasakan terkadang selalu dituangkan dalam tulisan. Agus juga menyukai puisi dan sastra, baginya sepeninggal hidupnya hanya tulisan yang bisa menghadirkan dirinya untuk tetap hidup......Oleh karena itu agusonpapers.blogspot.com adalah kamar dan ruang baginya untuk menumpahkan apa yang ingin ditumpahkan dengan semangat persahabatan,  berbagi dan membawa manfaat bagi orang lain. Selamat membaca dikamarnya!

Kereta Setan (True Story) Tamat

Cerita Sebelumnya (Kereta Setan True Story) PART 1 Klik disini <<



Aku : '""PPPaPPApAA...maaf Pak begini…..pak…hmmmh..anu…saya mahasiswa dari Jakarta pak, lagi study banding ke Yogya, lalu ada bagian acara yang mengharuskan ke Klaten, saya cuma bertiga pak, ini dua teman saya, yang ini punya gangguan jiwa pak, sambil aku menunjuk kearah Ujang, trus yang ini hidupnya sebatang kara pak, hidupnya susah…(sengaja aku meninggikan suaraku agar didengar oleh kedua temenku yang menjengkelkan ini, lantaran kesel banget).” “Kami dah ketinggalan rombongan kampus saya untuk pulang ke jakarta.....

PPPaapappaak, saya ga punya uang lagi pak dah abis buat beli oleh-oleh...nah kaya kendi itu pak (sambil nunjukin kendi dan nunjukin kartu mahasiswa)…”

"Air Mata Malam Itu Melekat Sampai Hadirmu Kembali" (True Story)

Kejadian ini terjadi tahun 2011 silam.....

Kulihat jam yang berada di dinding yang menempel pada meja bundar tempat logo workshop coqelat printing berada menunjukan pukul 22.00 wib, saatnya waktu jam tutup untuk segala aktifitas pekerjaan kantor ini kecuali memang ada yg lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang sifatnya urgent, tetapi malam itu memang tidak ada aktifitas lembur atau pun pekerjaan lain yang bersifat urgen untuk dikerjakan. Malam itu memang rasanya sedang tidak ada minat untuk pulang lebih larut untuk mengerjakan desain yang menurutku masih bisa di lanjutkan esok harinya.

Sengaja memang Rollingdoor di tutup tidak terlalu rapat karena memang masih ada beberapa motor yang parkir, sehingga dari dalam beberapa karyawan coqelat masih bisa melihat kondisi motornya. 15 menit berselang tampak 2 gadis yang tampak tergesa gesa turun dari angkot setengah berlari menuju ke workshopku, yang satu mengenakan hijab lalu yang satu lagi temannya tidak. Karena diruangan itu hanya ada aku ya otomatis kedua gadis itu langsung menghampiriku dengan nafas yang sedikit terengah-engah dan sedikit panik. Nyaris aku mengucapkan "Wah sudah tutup printingannya", tapi sebelum aku mengucapkan itu salah satu diantaranya sudah nyeletuk duluan..lalu berkata.."Pak tolongin pak, kita dah muter-muter kesana kemari bolak-balik margonda, mana udah mau jam 11 lagi, tapi belum beres juga....
"Ini pak...bisa ngga mengecilkan file Size foto saya jadi ukuran sesuai dengan kriteria pendaftaran online penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negri", kita sudah ke sana, ke sana juga lalu ke sana (menunjukan tempat lain) tapi operatornya ngga bisa pak padahal kan gampang ya pak"..!!!

Hmm.....dalam hatiku bergumam "Oooh gadis-gadis ini yang pada baru lulus SMA sedang sibuk mengurusi formulir pendaftaran online perguruan tinggi negri). Karena waktu penutupan pendaftaran online perguruan tinggi negeri saat itu ditutup Pukul 24.00 wib malam itu....pantas saja mereka berdua ini tampak panik. Yang mendaftar sih cuma satu, namun saya sangat bangga terhadap teman satunya yang menemani dan terus membantu agar teman satunya yang berhijab ini bisa mengirimkan formulir pendaftaran onlinenya.

KERETA SETAN (True Story)




"Seumur perjalanan gue hidup sampai sekarang, inilah perjalanan naik kereta dimana setiap waktunya diliputi rasa takut dan capek yang luar biasa dan bahkan  sampai ketempat yang tidak jelas pula."
-Korban Kereta Setan-



Desa Bayat Klaten, Maret 2001

Suasana malam saat itu saat mencekam, teras Rumah Budi yang letak rumahnya ditengah perkampungan dan tegalan sawah, gelap, penerangan hanya ada cahaya bohlam 10 watt yang memancar menerangi meja dan kursi kayu dengan lantai yang masih berupa plesteran semen kasar, sedangkan sebagiannya masih tanah. Dihadapan tiga gelas kopi hitam yang diantaranya sudah tinggal setengah, terdapat tiga laki-laki yang sedang dilanda kecemasan dan kebingungan, salah satu diantara tiga laki-laki itu adalah aku sendiri. Ekspresi wajah diantara kami hanya bisa saling pandang, bingung, sesekali menyeruput kopi sambil menghisap rokok kretek berharap mendapatkan ide dan jawaban atas permasalahan yang sedang kami hadapi ini.

Malam itu adalah malam terakhir, dari rangkaian 10 hari perjalanan liburan nekat dari tiga orang mahasiswa kere yang memiliki keinginan jalan-jalan seperti orang-orang pada umumnya yang bisa pergi dari kota satu kota lainnya, dari pulau satu ke pulau lainnya. Malam itu adalah malam terakhir terdamparnya kami di desa Bayat Klaten, dimana kami bertiga memutuskan untuk menghentikan rencana perjalanan impian kami ke Bali saat itu.

Cholid biasa dipanggil Gondrong, karena memang rambutnya panjang seperti Kaka Slank, kuliah satu jurusan dan masih seumuran denganku, Gondrong adalah sahabatku berkelana, perjalanan hidupnya penuh petualangan dan ujian hidup yang membuat orang tertempa batin serta karakter kemandiriannya. Anehnya itu menular, akulah suspect yang tertular dari dirinya atas semua pengalamannya, saat itu Gondrong duduk di kursi sebelah kiriku dangan menaikan kakinya sambil terus memandangi lampu bohlam dan menghisap kreteknya, seolah-olah hal berat sedang ada di ubun-ubunnya untuk dipecahkan.

Kemudian Ujang, laki-laki yang duduk di kursi sebelah kananku berasal dari Tasik, matanya agak kurang sempurna, namun masih bisa melihat jelas. Ujang adalah sosok pribadi yang sangat polos dan lugu, dia adalah mahasiswa jurusan Akunting di kampusku, cuma menurutnya bergaul dengan anak-anak jurusan DKV itu lebih asyik maka ketika mengenalku, nyaris setiap waktu senggang dia selalu nongkrong bersamaku, bahkan mau menjadi bagian dari perjalanan nekat bersamaku saat itu. Ujang memanggilku Kang Gusrak, penurut dan jarang membantah, setiap diminta pendapatnya, ia hanya menjawab "saya mah bagaimana Kang Gusrak sajah, saya mah ngikut ajah, iyaah setujuh, jangan atuuh, map atuh kang tidak sengajaa"Hahaha, rasanya kosa kata yang selalu keluar dari mulutnya hanya itu dan kemudian selalu diakhiri dengan kata…Hidup Persib euy!. Aku memperhatikan dirinya malam itu memainkan bungkus rokok sambil tangannya memegang gelas kopi, sambil seraya berfikir…entah apa yang dipikirkannya, setahuku biasanya dia hanya akan bersuara setelah mendapatkan hasil keputusan, kalau bukan iyaaah setujuh, paling tidak saya mah gimana Kang Gusrak sama Kang Gondrong sajaah, ngikuut euy…persib pokoknyaa..! terkadang sangat menjengkelkan siih anak itu.

Aku sendiri biasa dipanggil Gusrak oleh teman-temanku, dosen dan semua orang dikampus, satu-satunya dalam sejarah jurusan DKV berdiri, ada perwakilannya yang terpilih menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa ditahun itu yaitu diriku. Sambil memegang gelas kopi buatan Lastri, adik paling kecil si Budi yang manis sekali, sayangnya saat ini aku tidak sedang menceritakan lastri, meskipun ada cerita tersendiri dengannya saat berada di Bayat. Aku melihat jam dinding yang berada didalam rumah Budi, oh iya Budi adalah salah satu staff pekerja bantu di kampusku, karena dikampus dia sering nongkrong bareng, sedangkan letak rumah di kampungnya berada pada posisi dimana kami berada saat itu, sehingga dengan bantuannya kami menumpang untuk tinggal disana untuk sekedar singgah. Jam dinding menunjukan pukul 21.00 wib, dan saatnya untuk menuangkan gagasan ide bagaimana caranya untuk bisa pulang ke Jakarta. Uang kami sudah habis, perjalanan nekat kami memang dengan uang minim, rasanya untuk meminta bantuan Budi dengan meminjam uang hanya untuk sekedar membeli tiket kereta api rasanya malu sekali. Sudah bisa singgah saja bagi kami sudah cukup merepotkan apalagi sampai meminjam uang yang tidak sedikit untuk membiayai kami untuk bisa sampai ke Jakarta.

Aku : “Jadi seriusnya gimana nih,....’Bali atau pulang”?.

Ujang : “Duh punten kang Gusrak, pulang ajah lah....maap bukannya ngga komitmen tapi beneran saya jadi inget tugas akhir bu Eno, nanti di Bali nasib kita ga jelas....tugas akhir saya hancur...hancurlah hati saya kang!.”

Aku: “huufffhh… gimana lagi ya, gimana ndrong?.”

Gondrong : “Ya sudah lah, kita balik aja, tapi inget kita jangan pinjem uang sama Budi ya, jadi gembel lebih baik untuk sampe ke Jakarta, kita dah nyusahin budi banyak banget disini..”

Aku: “oke deh, kalau gitu paling kita minta tolong budi anterin kita aja pake motor ke stasiun Klaten, setelah itu biar selanjutanya adalah urusan kita, gimana?.”

Gondrong : “Eh Srak!...perjalanan balik kita ini pokoknya elu deh komandannya!.”

Aku: “Hmmmm…kenapa gue?.”

Gondrong: “ Ya elu yang biasa mudik nyepur, tau lah pasti seluk-beluk kereta gimana.”

Aku : “Ya udah, pokoknya kalau ada apa-apa hadapin bareng-bareng lah….jangan gue sendiri, gue kan cuman kenal sekedarnya doang medan perkereta apian!. Eh iya tetep harus punya rencana B nih, belum kepikir sih gue, liat besok deh sambil jalan gue pikirin.

Gondrong: “terserah elu lah, duit gua tinggal ceban nih, harus bertahan buat kita survive dengan duit ini gimana caranya gua percayain elu, pokoknya gua bakalan ngikut aja apa yang lu bilang,…'Jang elu juga ya, ngikutin gusrak aja.'!”

Ujang: “Iyah siap lah kang saya mah….Persib pokoknya euy!.”

Aku sruput habiskan kopiku, lalu bergegas masuk kedalam untuk tidur, kemudian Gondrong dan Ujang pun mengikuti. Setidaknya sudah ada gambaran keputusan apa yang harus kami lakukan untuk hari besok, aku menutup pintu dan naik ke atas dipan kayu yang dilapisi tembikar anyam dengan selimut kain serta bantal. Kami merebahkan badan dan tidur disitu sambil menatap langit-langit, setiap diantara kami bergeser memindahkan posisi badan, dipan kayunya berbunyi..."krekeeet…krekeeeet…krekeeet”…hehehe, Gondrong pun nyeletuk “Wooi, lu pada tidur napaaah berisik amaaat ya, kaga bisa dieem.!.” Sontak aku dan Ujang tertawa, karena bunyi dipan ini sangat mengganggu namun membuat suasana menjadi lucu.

Keesokan harinya sekitar pukul 11.00 s/d 13.00 wib kita keliling-keliling liat suasana kampungnya Budi untuk terakhir kalinya sambil pamitan dengan tetangga sekitar. Usai sholat dzuhur, Lastri masak enak hari ini untukku sebagai tamu istimewa untuk terakhir kalinya, senyumnya merekah manis sekali, melihatnya membuat ingin terus lama nginep dirumah ini. Sambil makan dan ngobrol-ngobrol ringan aku memberikannya oleh-oleh yang sengaja aku beli untuk Lastri beberapa hari sebelumnya di Malioboro saat aku singgah di Yogyakarta.

Aku : “Dik Lastri, terima ya…ini kenang-kenangan dari saya looh, mbok jangan diliat dari harganya tapi dari maknanya....he..he..(cendramata boke pinsil kayu dari padi lucu)”

Lastri: “Waaah, makasih yo maaas…Aku nda minta loh ini, tapi seneng benget dapet oleh-oleh.” (senyumnya memancar lagi, sejuk rasanya). “Mas Gusrak jangan kapok kesini, kapan-kapan harus kesini lagi loo, tak tungguin pokoknya”.!

Aku: “Looo kok kamu jadi ikut-ikutan keterusan manggil aku gusrak tooh, kemarin dah bener manggilnya ‘Mas Agus gituuu’, enak dengernya kalau kamu yang manggil.”

Lastri: “ooh iyaa….lali maas akuuuu, yoo maaf tooh, oh iya temen-temen sekolahku yang kemarin pas mas anterin aku, itu pada nanya loh, ‘Lastri siapa tuuh, tumben ada yang anter jemput.?’, aku nda jawab loh mas, nah besok kalau pada nanya lagi aku jawabnya apa yo mas..?.”

Aku: “Moso gitu aja musti tanya toh dik, ya jawab aja dengan tegas dan lantang…’ooh itu Masku’ gituuu, yaa..jawab ajaa!.”

Tiba-tiba “Pletaaak” bungkus rokok melayang dan mendarat di kepalaku, ternyata gondrong yang melemparnya lantaran nguping obrolanku dengan Lastri..

Aaaah lagu luuu sraaak…sraaak..!, Lastri, jangan mau luu.. eh kamuu sama gusraaak, susah nanti hidup, kuliah aja nunggak, coba geledah aja tuh kaga ada duitnyaa…hahahahah”!. Ucapan Gondrong ke Lastri mengejekku sambil tertawa. Lastri pun tertawa lirih sambil berkata “Yooo men toh maas..!

Hahaha, Aku pun melemparkan kembali bungkus rokok tadi ke gondrong, “tuuh woooi dengeeriin..Yooh Meen..Yooh Meen….hahaaay.” Obrolan sambil makan siang itupun diisi dengan tawa canda perpisahan

Akhirnya waktu menunjukan Pukul 14.00 wib siang...waktunya kami untuk bergegas, karena menuju Jakarta saat itu kereta yang akan kami tumpangi dari stasiun Klaten itu adalah kereta tujuan purwokerto, dimana waktu berangkatnya pukul 15.00,- wib, setelah sampai Purwokerto, disambung dengan kereta tujuan Jakarta yang melewati jalur selatan.

Perpisahan pun tiba…Tiga motor sudah disiapkan untuk mengantar kami, cek kantong masing-masing, duitku tinggal Rp. 5.000,- gondrong Rp. 10.000,- Ujang Rp. 1.500,-. Menatap langit tegak siap menantang ujian didepan, kami pun pamitan lagi dengan segenap seluruh keluarga besar Budi, dan yang terakhir dengan degup jantung yang berdegup menyalami dik Lastri,

“Mas pamit yaa, sekolahnya yang pinter, jaga dirimu, dan salam buat temen-temen yang kemarin,!.” Lastri hanya mengangguk dengan mata ngembeng air mata yang tak menetes melepas kepergian kami. “Maas jangan lupa main lagi kesinii…!” Kami pun saling melambaikan tangan kepada semua yang ada disitu saat itu.

Tak lupa oleh-oleh desa Bayat yaitu kendi tanah liat pun tak ketinggalan, kendi yang kami beli di hari sebelumnya di desai tersebut. Iring-iringan motor pun meluncur melewati tegalan sawah melintasi desa Bayat, jalannya berliuk-liuk, dengan hembusan angin sepoi dan agak mendung langit sore itu. Kebetulan aku satu motor dengan Budi, diatas motor aku sambil berbincang dengannya.

Aku : “Bud...sorry banget ya kalau gue sama anak-anak nyusahin lo selama disini.”

Budi: “udaaah nyantai aja sih, lo jadi jadi kaya orang lain aja sama gue, jujur gue seneng kok elo bertiga bisa sampe disini.”

Aku : “Yaaah...ngga nyangka yah akan berakhir seperti ini, doain kita bertiga ya biar bisa sampe jakarta selamat kerumah, bukan ke pos polisi..hehehe,.” Ujarku.

Budi : “Iya...gw nih yg minta maaf ga bisa minjemin lo pada duit buat beli tiket kereta.!”
Aku : “Udah lah, kan kita laki-laki strong Bud, tenang aja ...pasti ada jalan!.”

Brrmmmbrrmmmm.......gas kembali dihentakan menambah laju sepeda motor menuju tujuan stasiun Klaten

Pukul 02.40 wib...sampailah kita di tujuan. Stasiun yang bersih, dengan nuansa tempo dulu banget, dan alhamdulillah kami tiba tepat waktu sesuai rencana, persis di atas kami disambut dengan spanduk besar berukuran 1,5 x 4 m yang terpampang dengan tulisan

"PENUMPANG YANG KEDAPATAN TIDAK MEMILIKI KARCIS AKAN DIKENAKAN 10 x LIPAT DARi HARGA KARCIS NORMAL".

Baca spanduk itu terus terang membuat nyali ku DOWN saat itu!. Namun halaaah…semangat harus dibakar terus ga boleh surut. Dari Stasiun Klaten kami harus naik kereta pramex dengan tujuan akhir purwokerto, dimana kereta tersebut melewati stasiun Lempuyangan dan stasiun Tugu di Yogyakarta. Saat komandan perjalanannya adalah aku, namun kita telah berikrar kalau terjadi sesuatu atau ada masalah kita akan menghadapinya bersama-sama senasib seperjuangan, sejauh ini perjalanan kami sudah sangat melelahkan dan payah.

Akhirnya pukul 15.15 wib kereta yang dituju pun tiba di stasiun klaten........!, kami bertiga saling merangkul dan berdoa, serta menguatkan ikrar kembali.

Gondrong : “Siap-siap, petualangan akan kita mulai lagi…!” Eh iya srak, lu udah punya rencana B belum, kalau terjadi sesuatu…?”

Aku: “Oh iyaaa beloom, duuh…Ah nantilah, semesta mendukung, rencana B hanya ada jika ada masalah, dan kita ini ngga akan ada masalah maka itu ngga ada rencana B.”

Ujang : Kang Gusrak..kalau kasih aba-aba yang keras ya suaranya, sayah mah atuh bener-bener ngikut aja ini, kalau kang Gusak nyemplung sawah, saya juga nyemplung sawah…Persib pokoknya euy.!

Akupun menyalami dan memeluk sama budi tanda perpisahan terakhir, kemudian bergerak menuju kereta yang baru saja berhenti dihadapan kami. Aku langsung menginstruksikan ke dua orang itu pada. "Inget pas naik elo pada pokoknya ikutin gue terus aja ya...!”

Gondrong: “Kita ntar stay dimana srak?...sambungan atau…WC....?”

Ujang : “Apa di gerbong paling belakang aja kang Gusrak..?.”

Aku: “Bentar...gue perhatiin dulu nih kereta....setelah tiga menit memandang dari depan ke balakang rangkaian gerbong untuk aku pelajari, gerbong ketiga adalah pilihan cocok menurutku.”

Aku: “Nyok cabut kita hajar gerbong tiga.” Kami langsung menaiki kereta menuju pintu gerbong lima karena gerbong lima letaknya tepat di hadapan kami, kemudian kami masuk kedalamnya menyusuri lorong gerbong dan terus bergerak menuju ke gerbong tiga dengan semangat berapi-api.

Beberapa saat kemudian sampailah kita di gerbong tiga, ketika sampai sampe didalamnya...si Gondrong dan si Ujang terhentak Kaget!

Aku : “Nah…kita stay disini dah kita bertiga ngeriung aja jongkok disini jangan pisah-pisah atau jalan kemana-mana termasuk WC sampai situasi kondusif.” Gerbong tiga adalah gerbong yang isinya adalah ruangan kantor para masinis dan kondektur, sekaligus ruangan restorasi dan administrasi, pergantian shift kondektur dan sebagainya.

Gondrong : “Busyeeeet..!, dah gila lu Srak….ini mah bunuh diri kita nongkrong disiniii…!”

Ujang : Kang Gusrak ngga salaah nih, ini mah bentar lagi juga ditangkep kita...!

Aku: “Udah tenang aja, lo percaya aja ma gue, kalau di sambungan atau di WC itu tempat sasaran tembak yang empuk!.” “Jadi gini, rencana Gue nanti pas kereta jalan, dan kondektur mulai keluar dari tuh ruangan langsung kita hampirin bertiga, kita jujur aja ngomong apa adanya, minta dispensasi dan keringanan bilang kita adalah mahasiswa yang study banding ke Klaten ketinggalan rombongan untuk pulang ke jakarta kehabisan uang...gituuuu....ini namanya menantang ujian, soal gimana-gimananya urusan belakang, namanya jujur itu biasanya dapet jalannya yang baik-baik.”

Gondrong : “Hmmmh, ok deh…kalau berhasil Alhamdulillah, kalau kaga palingan kita gembel ye dilempar ke rel.”

Aku : “Nah lo ngerti...udahlah hanya Allah yang tau nanti jawabannya, kita berdo’a deh.

Ujang: “Kang saya teh deg-degan ya, takut euy…ga Persib ini mah kang kalau gini…!”. Kalau ada apa-apa tolong jangan tinggalin saya kang yah..”

Aku: “Eh iya jang, Kendi-kendi kita taro depan sini aja biar keliatan, kondektur kan bisa liat kita masiswa beneran bawa hasil apa gitu dari klaten.!”

Gondrong: “Kendi gue paling depan deh srak,…paling gede kan ini kendi gue.!” Dia pun melepas koran yang membungkus kendi besarnya agar bisa terlihat jelas.

Pintu kereta tertutup otomatis petanda perjalanan dimulai, goyangan gerbong demi gerbong sudah terasa tanda kereta mulai bergerak menambah kecepatannya. Jantung mulai DAG...DUG....DAG...DUG...DAG...DUG...DAG...DUG....20 menit kemudian terlihat bayangan kondektur mulai keluar dari ruangannya bawa alat pembolong karcis untuk memeriksa gerbong demi gerbong. Bapak kondektur itu pun nampak dengan perawakan badan yang sedang tidak terlalu gemuk, dengan kemeja putih ber berdasi, tidak lupa dengan topinya berjalan pelan menuju ke arah kami bertiga.

Aku: “Kalau gue kasih aba-aba 1...2...3...4...nah langsung kita berdiri bareng- bareng, kita hadapin tuh kondektur.....Jangan lupa, ingeet yee.!”

Gondrong, Ujang : Oke, Persiib kang....!”

Tak lama kemudian jarak kondektur hanya tinggal dua langkah lagi dari posisi kami bertiga duduk di lantai, mulai lah gue berhitung. “1...2...3...........................4....Diriiiiii.!”

KONDEKTUR sudah berdiri Persis didepan muka gue berhadap hadapan......daaan Shiiiiiit.....!!!

Gue tengok kanan kiri, si Gondrong sama Ujang ngga ikutan berdiri... dua orang itu masih jongkok aja....(KEJENGKELAAAANN akhirnya mulai melepuh sampe ke ubun-ubun untuk dua orang itu). Karena posisiku sudah kadung hadap-hadapan ya terpaksalah telan mentah-mentah apa yang akan terjadi...!!

Kondektur : " KARCIIISS"... LOH KOK PADA DUDUK DI GERBONG INI...KALIAN HARUSNYA DI GERBONG PENUMPANG....PADA NGAPAIN INI!!

Aku : '""PPPaPPApAA...maaf Pak begini…..pak…hmmmh..anu…saya mahasiswa dari Jakarta pak, lagi study banding ke Yogya, lalu ada bagian acara yang mengharuskan ke Klaten, saya cuma bertiga pak, ini dua teman saya, yang ini punya gangguan jiwa pak, sambil aku menunjuk kearah Ujang, trus yang ini hidupnya sebatang kara pak, hidupnya susah…(sengaja aku meninggikan suaraku agar didengar oleh kedua temenku yang menjengkelkan ini, lantaran kesel banget).” “Kami dah ketinggalan rombongan kampus saya untuk pulang ke jakarta.....PPPaapappaak, saya ga punya uang lagi pak dah abis buat beli oleh-oleh...nah kaya kendi itu pak (sambil nunjukin kendi dan nunjukin kartu mahasiswa)…”Tolong saya pak…! saya ngga mau ngumpet-ngumpet pak di WC, apa lagi kejar-kejaran sama bapak, saya juga ga mau bohong pak, maka itu kita langsung duduk disini aja biar bisa ngomong langsung sama bapak!.”

-Bersambung  >>  Kereta Setan True Story Part.2-


FOLLOW US @ INSTAGRAM

Popular Posts

agusonpapers. Diberdayakan oleh Blogger.