Who I am

Agus Setiawan, adalah pria kelahiran jakarta keturunan jawa. Meskipun besar di jakarta, kampung halaman orang tuanya di kebumen adalah isimewa baginya yang tetap harus dikunjungi setiap tahunnya. Kegemarannya sebagai penggiat alam bebas, hobby mendaki gunung, juga berprofesi seorang desainer grafis, interaksi sosial merupakan hal yag selalu ditemui dalam perjalanan hidupnya. Karena menurutnya segala sesuatu yang ditemui dalam kehidupan selalu berbuah hikmah, maka apa yang ditemui dan di rasakan terkadang selalu dituangkan dalam tulisan. Agus juga menyukai puisi dan sastra, baginya sepeninggal hidupnya hanya tulisan yang bisa menghadirkan dirinya untuk tetap hidup......Oleh karena itu agusonpapers.blogspot.com adalah kamar dan ruang baginya untuk menumpahkan apa yang ingin ditumpahkan dengan semangat persahabatan,  berbagi dan membawa manfaat bagi orang lain. Selamat membaca dikamarnya!

Kereta Setan (True Story) Part.2

Cerita Sebelumnya (Kereta Setan True Story) disini <<

Aku : '""PPPaPPApAA...maaf Pak begini…..pak…hmmmh..anu…saya mahasiswa dari Jakarta pak, lagi study banding ke Yogya, lalu ada bagian acara yang mengharuskan ke Klaten, saya cuma bertiga pak, ini dua teman saya, yang ini punya gangguan jiwa pak, sambil aku menunjuk kearah Ujang, trus yang ini hidupnya sebatang kara pak, hidupnya susah…(sengaja aku meninggikan suaraku agar didengar oleh kedua temenku yang menjengkelkan ini, lantaran kesel banget).” “Kami dah ketinggalan rombongan kampus saya untuk pulang ke jakarta.....PPPaapappaak, saya ga punya uang lagi pak dah abis buat beli oleh-oleh...nah kaya kendi itu pak (sambil nunjukin kendi dan nunjukin kartu mahasiswa)…”Tolong saya pak…! saya ngga mau ngumpet-ngumpet pak di WC, apa lagi kejar-kejaran sama bapak, saya juga ga mau bohong pak, maka itu kita langsung duduk disini aja biar bisa ngomong langsung sama bapak!.”

Kondektur: “Alesaan aja kamu…!, tadi baca tulisan di stasiun tidak?, yang kedapatan tidak memiliki karcis harus apa..?” 

Aku: “Tau pak, tapi uang saya tinggal lima ribu pak, tolong saya lah pak…saya doain Bapak rejekinya lancar, sehat terus pak, umurnya panjang, selalu dimudahkan, dijauhkan dariii…..””

Kondektur: “Halaaaaah!…sudah-sudah nyerocos aja kamu, kalian disini saja, ngga usah kemana-mana! Kalau mau nurut sama saya, aman kamu, jangan bikin ulah macem-macem kalau mau tetap ada di kereta ini…saya mau periksa karcis dulu.” 

Aku: “ Jadi Pak…..? kami boleh tetep disini numpang pak….(sambil rada senyum melongok mencari kepastian)”

Kondektur : “Iyaa….nanti kalau ada petugas lain ngedapetin dan menanyakan kalian lagi, bilang aja dah ketemu dan diurus oleh saya.”!

Aku: “Subhanalloh…Alhamdulillaaaaaah paaak!” (aku menatap nama dada disebelah kanan yang bertuliskan Soemarno), kemudian meraih tangan kanannya kemudian aku ciuum seraya mengatakan…”Terima kasiiih Pak Sum…eh Pak marno, pak Sumarnooo maksud saya..maaf pak….Alhamdulillah Ya Alloh…!”, kemudian aku balik badan menghadap si Gondrong dan Ujang sambil melakukan selebrasi gerakan lebay dan berteriak…Yeess..yeess…yeeeeess aamaaan cooooy!!

Pak Soemarno pun meninggalkan kami untuk melanjutkan kegiatannya ke gerbong belakangku untuk memeriksa karcis. Saat itu aku masih melakukan gerakan lebay selebrasi mendekati Gondrong dan si Ujang….Pertama aku ngeledekin Gondrong dengan mencabut topi dan membuangnya ke lorong tengah gerbong sambil berkata…”Eluu reseee..eluu reseee…!, kemudian  aku tarik sweater rajutnya si Ujang, aku buka paksa sambil mendorongnya jatuh sambil bilaang…”Eluu jugaa resee..eluuu resee dodoool tasiiik!!! 

Pelukan dan tawaa ngakak bahagiaa diantara kami bertiga pun pecaah saat itu, aku mereview menuntut perlakuannya yang tidak ikut berdiri saat menghadapi kondektur tadi. Sesaat kemudian aku kembali duduk bersila dan kembali menjadi bagian dari mereka berdua.

Gondrong: “Sorry Sraak…tadinya gue mau berdiri, cuma gue dari pada berdiri juga ngga ngomong apa-apaan, pan ada elu komandannya, daripada malah ngeribetin palingan jongkok lagi abisannya…Nah dari pada begitu keterusan jadi niat berdiri gua batalin, lagian kebayang coba tadi kalau ngomong bertiga-tigaan yang ada belibeet….bla…bla…bla (membela diri dengan alesan yang ora nggenah, kalau orang jawa bilang."

Ujang pun tak mau ketinggalan beralibi, “Waah kang Gusrak sayaah mah apalagii, beneran tadi dah mau berdiri, dah ngangkat pantat saya kang…Sok atuh kalau ga percaya tanya kang Gondrong tah!" sayah dah setengah nungging kang beginih nih (sambil mraktekin pantatnya yang nunggin ngeselin)…eeeh terus liat kang Gondrong masih duduk ya tuh saya kebawa kang Gondrong jadinya…!

Gondrong langsung ngeplak kepala Ujang, “Aaaah eluuuu mah ngikut-ngikut ajaaah, ngapain gue merhatiin lu nungging…dasar Dodol Tasiik!

Ujang: Beneran kang…untungnya kita tetep duduk, jadinya bener-bener Persib pisaan tadi itu mah kang Gusrak ngadepin Pak Polisi tadiii…..kereeen heroik euy.

Aku: Polisiii….Kondektuur itu namanyaa pla’uuun..!, gua heran kok orang kaya lu bisa masuk jurusan akutansi siih hadeeeeuh…!!


Ujang malah tertawa sambil nyender ke dinding kereta, “hahahah lega yah Alhamdulillah duuh seneng sayah euy, tadi mah deg-degan pisan!...kang Gondrong ngomong-ngomong bagi rokoknya atuh, asem euy…punten kang…
Gondrong: “Uenaak aja luu, Puasaaaa dulu!…macem juragan, kelar perkara ngerokok..minta lagi!!...kaga-kagaaa..!

Kemudian suasana mencair dan kemudian lebih tenang, kami bertiga duduk dilantai menyender dinding kereta dibalik dinding ruangan bahan baku gudang restorasi yang tidak besar. Saat itu aku mengambil buku kecil beserta pulpennya dari tas Alpinaku, dan mulai menarik nafas pajang, lalu menuliskan beberapa bait Puisi untuk mengisi ketenangan situasi saat itu.


"Yang Tertinggal Dari Bayat"

Tak ku kira ada senyum manis yang tetap melekat,
Sesaat dan sewaktu menjauh dari Bayat.
Diantara kelokan-kelokan itu,
dan laju angin yang menampar wajah,
diatas kuda besi yang tak sabar ingin membuangku di stasiun klaten.

Namun manisnya rona wajahmu,
seolah mendekapku agar tak beranjak.
Beberapa tragedi memang terjadi….
Dan tragedi itu membuat bayang hilang beberapa saat tadi.

Namun kini…..kamu tahukah?
Aku yang telah bersandaar……………………

Baru sampai bait itu aku menulis puisi tiba-tiba Ujang memanggilku, sedangkan disebelahnya Gondrong yang sedikit sayu terlelap berusaha untuk tidur karena sudah disergap oleh rasa kantuk. “ Kang Gusraaaak….Nulis apaan siih?, bisa banget nulis sambil goyang-goyang gini gerbong…


Aku tidak menjawabnya....

“Kang Gusrak….Ngomong-ngomong tadi teh, pas sama polisi kondektur kenapa saya dibilang sakit jiwa kang..?” namanya pelecehan eta mah kang…(sambil ngelap-ngelap kendinya).

Lagi-lagi aku hanya melirik menatapnyaa, tanpa menjawab…konsentrasi puisiku mulai kacau…

Ujang: “Ah nanti kalau dah sampe Jakarta, sampe kampus saya mah mau saya tempelin tulisan ah di mading, Ketua Himpunan Mahasiswa ngatain sayah sakit jiwa didepan polisi kondektuur…..(terus meracau ngga karuan sambil ngelap kendi)…gimana Kang Gusrak setuju nggaaa…kalau saya bikin gituh…!

Aku pun merobek selembar dari buku kecilku, lalu meremasnya menjadi bola kertas…kemudiaan….”Pluuuuuk!, lemparan kertas ku mengenai bibirnya yang lagi manyun-manyun berhadapan dengan kendi yang dilap tapi ga bersih-bersih….”Hadoooooooooh….rusaaaak dah puisiii guaaaa dodooool tasiiiiiik!!! Beriisik amaat sih lu Jang ah….

Lantaran Stuck, puisi tak selesai pun hanya berakhir disitu, feel dan idenya menghilang, jikalau dipaksakan jadi jelek puisinya pasti. Tak berselang lama dari situ setelah sekitar 30 Menit berlalu, Pak Soemarno yang tadi memeriksa karcis kini sudah kembali ke tempat kami berada, aku pun tersenyum memberikannya salam kembali.

Kondektur: “Oh iyaa…sebentar lagi sampai di stasiun Lempuyangan, kemudian stasiun Tugu Yogyakarta, semua nanti petugas yang ada disini akan tukeran shift dengan petugas yang baru. Kalau ada pemeriksaan lagi bilang aja kalian titipannya saya, tetaplah disini.

“iya pak,…baik Pak, Siaap….kami bertiga bersahutan menjawab pesan pak Soemarno dengan perasaan senang. Kira-kira pukul 16.30 wib sore kereta memasuki stasiun Lempuyangan, berhenti beberapa saat kamudian bergerak lagi menuju stasiun Tugu. Di stasiun Tugu kereta berhenti cukup lama, lebih 30 menit. Terus terang lamanya waktu berhenti dengan pintu gerbong terbuka, sedangkan kami duduk lesehan di lorong pinggir gerbong tersebut, perasaanku kembali menjadi tidak enak dan jantung mulai berdegup kembali, meskipun tadi sudah ada jaminan dari pak Soemarno untuk kami bertiga memastikan dalam keadaan aman. Dihadapanku lalu lalang petugas kru kereta yang berganti shift tugas, bahkan pak Soemarno masih sekali lagi jalan melewatiku dengan berpamit dan mengucapkan kalimat hati-hati diperjalanan semoga sampai tujuan dengan lancar, beruntung aku bertemu dengan orang baik seperti pak Soemarno.

Setelah 45 menit, pintu kereta mulai ditutup, hatikupun berasa sedikit lega rasanya karena perjalanan dilanjutkan. Saat itu suasana hening, hampir tidak ada pembicaraan diantara kami bertiga, kecuali hanya tatapan-tatapan kosong, perut berasa lapar, haus juga…”huuuuufttt seandainya megang uang yang cukup, rasanya ingin sekali membeli roti dan minuman saat berhenti tadi.

Kereta yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Stasiun Tugu. Posisi kami belum berubah sama seperti kondisi kami memasuki stasiun lempuyangan.

Aku: “Hmmmm…Perasaan gue kok ga enak ya, mau masuk maghrib lagi ini….!” Beda kaya tadi daah…
Gondrong: “Srak abis ini berenti lagi ngga sih tiap stasiun, kaya KLR Jakarta gitu..?”

Aku: Ngga sih, berhentinya cuma di stasiun-stasiun yang lumayan gede, feeling gue ini nanti berhenti di stasiun Wates.”

Gondrong: “Mudah-mudahan ga ada masalah, lancar ini…Inget srak, nanti sama kaya tadi yang pak Soemarno bilang, lu aja lah yang gandepin, dah gampang jelas ini posisi kita.

Aku: “Ya liat nanti lah…”.

Tak lama berselangnya waktu, mulai lagi drama Karcis dimulai. Kali ini ada dua orang yang bertugas untuk memeriksa Karcis penumpang yang naik dari Yogyakarta. Pertama Kondekturnya, usianya tampak lebih tua dari Pak Soemarno, hitam, perawakannya mirip orang sumatera, namun saya lupa namanya, jika tak salah ingat namanya Pak Hengky. Kemudian petugas salah satunya lagi masih muda, tampaknya seperti asissten kondektur untuk membantu aktivitasnya.

Kedua petugas tersebut kini ada dihadapanku seraya mengatakan….”KARCISSS.!!

Aku berdiri dan mulai menjawab diplomatis seperti yang pak Soemarno pesankan, dan juga aku sampaikan alasan-alasannya, kali ini aku menghadapinya dengan lebih tenang ketimbang yang pertama tadi.

Aku : “Saya mahasiswa dari jakarta pak, lagi study banding ke Yogya lalu ada bagian acara yang mengharuskan ke klaten, kami cuma bertiga disni, kemarin ketinggalan rombongan kampus saya untuk pulang ke Jakarta, dan betul-betul tidak punya uang lagi. Tadi saya sudah menghadap Pak Soemarno, dan beliau mengijinkan kami menumpang disini ini, tidak boleh kemana-mana, begitu pak.”

Kondektur 2 : “Heh…Kalian pikir ini kereta punya Bapak Moyangmu apaa…punyanya Mbahmu..??? Hah..!!”

“Yang namanya naik kereta itu harus bayar dan punya karcis…NGERTI..!! (sambil tangan kanannya mendorong bahu kananku), sambung ucapannya.”


Aku : “Saya faham pak maka itu saya kasih tahu alasan saya, sama tadi yang saya sampaikan ke pak Soemarno…!” saya cuma minta tolong pak baik-baik.

Kondektur 2 : “Weeeeessss…banyak alesaan, Mahasiswa kok guoooblook ra ngerti aturaan! (Ngga tau aturan) 

Asisten Kondektur : “Wess di guang ae pak lempar men kapok…nek ora ditindak, kebiasaan!! (daah dibuang aja lah lempar keluar biar kapok, kalau ngga ditindak makin kebiasaan)

Aku : “Mas….Cangkeemmu kae looh..sompral ! (mas, mulutmu itu loh songong) , sampeyan disini cari makan aja sombong….sekolahin tuh mulut yang beneer..!

Suasana memanas, Gondrong pun berdiri dari duduknya dengan tangan mengepal hendak memukul namun tertahan oleh badanku.., Ujang setengah berdiri sambil mengumpulkan menyatukan kendi-kendi. Aku meyakinkannya lagi kepada kedua orang tersebut, “Saya tahu saya salah, tapi saya ngga songong…….bapak yang tadi aja bisa nerima alesan kita kok, masa yang ini ngga, ngomong yang enak dong…!

Kondektur 2 : “Saya ngga mau tau, pokoknya stasiun depan (Wates) kalian turuun..!, kalau saya sampai balik lagi kesini masih lihat kalian, Saya akan gunakan cara yang biasa berlaku dalam peraturan didalam kereta ini.

Assisten kondektur sombong itu tidak berbicara lagi, dia kemudian berjalan mengikuti Kondektur 2 untuk melanjutkan memeriksa karcis, saat melewati depanku, matanya menatap wajahku dengan nanar namun tidak melakukan gerakan yang membuat keributan.

Stasiun Wates sebentar lagi sampai, aku segera menggunakan ranselku, begitu juga dengan Ujang dan Gondrong. Kami bertiga tidak berbicara, karena perasaan kami sedang diliputi rasa kesal dan ketidakjelasan dengan apa yang harus kami lakukan selanjutnya. Aku pun mendekati pintu dan menunggu detik detik sampai di stasiun Wates sambil menatap jendela didekatnya. Dibelakangku ada Gondrong dan di sisi kananku Ujang yang membawakan kendiku.

“Jang, sorry ya…pegangin dulu kendi gue….gue mau mikir dulu harus ngapain”…Ujarku.

Gondrong: “Rencana B lu srak, gimana..?”

Aku: “Ngga ada, dan gue belum mikirin soal rencana B.” (saat itu otakku sedang berputar dengan RPM tinggi untuk mencari rencana B itu sambil menantikan detik-detik tiba di stasiun Wates) dan ini sedang gue lakuin…

Gondrong: “Rasanya gue pingin nampol orang dah niih…”!

Aku: “Lu tampol aja nih Ujang,……issssshhhh lu ngapain siih Jang mepet-mepet ginii iggghhh risiih gua, kaya hombreeng…..sanaan-sanaan..!” (ujang berdiri mepeet ke tubuhku sembari nyender)


Ujang: “Yeeee…kalau sayah ditampol, pecah semua ntar nih kendi, satu buat nangkis, satu sayah buang keluar, satu lagi simpeen..kan tinggal kendi sayaah"…hahahah (dia melucu)


Aku dan Gondrong pun sontak jadi nyengir dan ketawa, perasaan tegang lumayan menurun. Kereta pun berhenti di Stasiun Wates, pintu gerbong dibuka….aku membiarkan penumpang yang ada dibawah untuk naik kedalam gerbong terlebih dahulu, kemudian aku yang turun. Penumpang dari stasiun wates saat itu yang naik di pintu gerbong aku berdiri tidak begitu banyak, aku perhatikan hanya ada kurang lebih tujuh orang, diantaranya keluarga dengan membawa anak, dan selebihnya hanya laki-laki paruh baya yang bepergian sendiri, sepertinya mereka penumpang dengan tujuan akhir Purwokerto.

Kini tiba giliranku untuk turun, saat kakiku sampai di anak tangga paling bawah, perasaanku galau, langkahku terhenti, pandanganku kosong, namun otakku terus berfikir keraas. Ujang yang kini ada dibelakangku pun mendorong ku agar turun lebih cepat, namun tertahan oleh tubuhku yang tidak juga ingin menapakkan kakiku menuruni kereta. Hatiku seperti sedang menghitung kancing dengan kalimat…turun…ngga…turun…ngga…turuun…ngga…! dan…..Engga adalah kata akhirnya yang ada dalam benakku.

Aku: “Balik…balik, naik lagiii….kita ga usah turun….Rencana B..!” Ndrong lu siap-siap ya, gue pengen tau kalau kita terus disini, bakalan apa yang terjadi…

Ujang: “Duuuh Kang Gusrak jangan nakutin gitu kang…nanti kalau ada apa-apa gimana kang”!


Gondrong: “Asal dah nemu rencana B, gue ngikut aja….percaya gue ma lu Srak..!!


Aku: “Ya udah, kita hadapin lagi tuh kondektur, maunya apa..!” dan gua minta ma lu juga, tahan tuh tangan jangan sampe ada tampolan, gue pengen cantik mainnya jalanin rencana B ini…huuuuufftt, mudah-mudahan berhasil.


Langit sudah gelap, pintu pun ditutup dan kereta melanjutkan perjalanan, sedangkan kami bertiga kembali ke titik semula tadi. Lima belas menit kemudian kedua petugas yang berseteru denganku sebelumnya telah kembali, dan kageet melihat kami bertiga belum turun dan masih dalam posisi yang sama.

Kondektur 2: “Heeeh kurang ajar, masih disiini….Dipikir saya bercanda yaa…!”

Kondektur itu menunjuk-nunjuk wajahku, namun aku tidak menjawab sama sekali. Kami bertiga hanya diam saja, Ujang dan Gondrong diam karena mengikuti aku diam. Kemudian Kondektur itu melewatiku, dan memanggil petugas lainnya untuk meminta bantuan. Petugas lainnya pun keluar, ada tiga orang orang lagi di depanku, badannya cukup besar, dan memintaku, Ujang dan Gondrong mengikutinya. Aku pun mengikuti apa yang mereka mau, kami dibawa disebuah ruangan, dengan sedikit bicara aku meresponnya, mereka menggeledah semua bawaan kami, memeriksa kartu, tas dompet dan sebagainya. Diruangan itu kami didata semacam penyidikkan, kemudian dicatat disebuah kertas yang entah apakah itu ditanda tangani tau apa, aku tidak peduli…

Belakangan aku tahu, kalau ternyata ruangan itu adalah ruangan buat kurungan para penumpang yang memiliki nasib sama sepertiku, dijaga ketat oleh awak kereta, meskipun ada seseorang diantara mereka itu yang baik memberikan kami minum air mineral gelas. Beberapa waktu kemudian, datang seseorang ke ruangan kami berada…., aku menangkapnya dia semacam kepala kereta jabatannya, lumayan koorporatif orangnya, dilihat dari caranya memulai pembicaraan kepada kami.

Kepala Kereta: “Mahasiswa….?”

Aku: “Iya…Pak…..saya sudah jelaskan tadi kenapa kami ada disini, saya Cuma tidak mau disamakan dengan penumpang yang berkasus biasa dikereta tanpa karcis.”


Kepala Kereta: “Gini ya, KAI juga baru saja menerapkan peraturan dan sanksi tegas, dan memang peraturan ini harus dijalankan tanpa terkecuali, jadi Mas-mas ini kami data, nanti tiba stasiun akhir ikut ke pihak berwenang, kemudian tunaikan sanksinya 10x harga tiket normal, jika tidak bisa maka nanti biar pihak berwenang yang akan melanjutkan proses selanjutnya, atau Kalian bertiga turun di stasiun berikutnya.


Mendengar itu, aku sudah malas berdebat soal alasan dan sebagainya, sebenernya aku hanya ingin mengulur waktu, untuk bisa berjalan lebih jauh lagi.

Gondrong: “Srak….Sebenernya rencana B lu apaan sih, dari tadi anteng manut manut ajaa perasaan gue, jadi bingung gue nih..! (berbisik sambil mendekatkan mulutnya ke telingaku.
Aku: Sabar……!, aku melanjutkan dialogku dengan Kepala Kereta itu.


Aku: “Pak, Begini…saya diperiksa sudah, digeledah sudah, identitas dan kartu mahasiswa saya sudah dilihat, dari awal naik kami tidak berbuat hal-hal yang mengganggu kenyaman penumpang, kami juga langsung mengutarakan masalah kami secara koorperatif tidak ngumpet atau kabur-kaburan, kami juga tidak membawa barang bahaya, narkoba, dan sebagainya…..Kami cuma mau pulang pak, uang habis!. Oke kami terima memang dengan peraturan yang diterapkan ini, kami sudah tidak mungkin bisa menumpang sebagi penumpang sampai stasiun terakhir,…Tapi saya minta kebijaksanaan bapak, jika diperkenankan biar saya turun di stasiun Karang Anyar Kebumen." (bagian dari rencana B, Karang Anyar adalah stasiun menuju ke kampungku)

Kepala Kereta: “Maaf itu tidak bisa…harus distasiun berikutnya ini.


Negosiasi berjalan sedikit alot, namun Kepala Kereta sedikit lebih melunak, akhirnya ia mengijinkan kami menumpang sampai stasiun Kutuarjo, artinya kami harus turun di stasiun Kutuarjo, dan menyepakatinya tanpa ada sanksi administrasi, dsb. Perbincangan pun berakhir, Kepala Kereta meninggalkan ruanganku, namun aku tetap dalam penjagaan ketatp para petugas lainnya yang ada di sekitar kami saat itu.

Aku: “Jadi rencana B yang bisa gw sampein adalah, kita harus abis-abisan apapun caranya pokoknya harus sampe stasiun Karang Anyar…Harga mati itu…! Sementara itu dulu, gue kasih tau lanjutannya kalau kita bener-bener sampai disana.

Ujang: “Tapi kita tadi sepakat di Kutuarjo, dari Kutuarjo ke Karang Anyar ada berapa stasiun lagi kang?


Gondrong: “Dah malem lagi nih…!” dari Kutuarjo untuk ampai ke Karang Anyar bisa naik apaan lagi selain kereta, dah gelap gini..?


Aku: “Agak lupa gue, kalau ngga salah, abis Kutuarjo, Purworejo, trus Karang Anyar…dah deket siih…Hmmmmh…lo pada masih percaya ma gue kan…pokoknya ini kaki harus nginjek Karang Anyar dengan kereta ini….!! Ngerti ga kira-kira maksud gw…kita harus apa…? Hehe


Gondrong, Ujang: “Kagak”!


Aku: “Dah lah…istirahat dulu.., kita bakalan cape nanti…siap-siaap.”


Aku sedikit terlelap ringan saat itu, sampai tidak sadar ternyata kereta sudah mau berhenti di stasiun Kutuarjo. Kami bersiap, dengan kawalan petugas kami dikawal sampai pintu gerbong kereta untuk meyakinkan kalau kami betul-betul turun dari kereta.

Kereta pun berhenti, dengan perasaan yang berusaha menghibur, aku sengaja menyalami petugas yang mengawalku sampai pintu, semacam pamitan, meskipun petugas itu hanya senyum ringan menanggapi kelakuan kami saat itu.

“Makasiih ya paak,…..Jangan kangen loooh sama kitaaa…, jangan galak-galak juga kalau nemu lagi yang kaya kita ini…”Ujarku setelah bersalaman dan turun menginjakan kaki, aku coba meledek petugasi itu..”

Ujang: “Nuhun ya pak tumpangannya…pokoknya persib pak!

Setelah berdadah-dadah dengan petugas yang masih berdiri di pintu kereta, aku berjalan berjajar bertiga di sisi kereta dengan gerakan yang tenang. Aku memandangi tiap bagian dari stasiun Kutuarjo yang ada di hadapanku malam itu, sampai kemudian bunyi pengumuman dari stasiun, bahwa kereta yang kami tumpangi tadi akan segera berangkat melanjutkan perjalanan….Disitu aku kembali menepuk pundak Ujang dan Gondrong tanda bersiap menerima instruksi selanjutnya…

Aku : “Tenaaang boooy…kalem jalannyaa….Gue itung sampe sepuluh, dihitungan kesepuluh lo pada lari mencar yaaa….kita pisah, pilih gerbong masing-masing yang jauh, jangan sampe ketauan lo pada naik lagi ke keretaaa….Gua naik gerbong kedua dari terakhir, itu titik kumpul kita….!”

Gondrong: “Oke, gua gerbong 6 deh…, kelamaan lu itung ampe sepuluuuh, gua duluan dah misaaah yaaa..!”


Ujang: “Kaang….saya naik dimanaa…”!


Gondroong: “Udaah lu jangan ngeselin, jangan bikin curigaa oraaang…! Terseraaah pokoknya ketemu di gerbong kedua dari terakhir…Paham lo Jang..!”


1…….2…….3………4…………5……….dah sekarang daaaaah….Mencaaar!!.....jangan sampe keliatan, pinter-pinter loo yaa….., Ujarku memberi instruksi terakhir.

Gondrong langsung memisahkan diri, aku berlari ke kiri meninggalkan Ujang menuju rel yang berbeda, menuju tukang dagang kopi, pura-pura duduk sebentar dan kemudiaan berlari kecil sampai cepat dan Haaaaaap….!! aku sudah berhasil sampai di pintu gerbong kedua terakhir dan menaikinya. Aku pun duduk disitu, menunggu Gondrong dan Ujang merapat yang saat itu aku belum tau dimana posisinya, rasanya tidak terlalu lama, gerak cepatnya gondrong menyusuri lorong demi lorong kini dia sudah berdiri didepanku, sementara klakson kereta dan pluit sudah berbunyi, kereta pun mulai bergerak melaju.

Aku: “Ujang mana….?
Gondrong: “Ngga tau……kaga liat gue, coba bentar gw liat aman ga dipintu…"

Gondrong melangkahiku menuju pintu dan mengeluarkan badannya untuk melongok ke gerbong depannya…

Gondrong: “Anjriiiit…Sraak…!, kondektur yang tadi ngeliat gue…ah sueeee, ketauan kita disini….!

Aku: “aaaah abiiiis dah kita disini..!,mati aja lu ndrong dah….,! aku shock, mendengar gondrong mengucapkan itu..

Gondrong: “Halaaaaah….dah lah sekaliaan ajaaaalaah….!...F**k looo ah…..!


Aku melihat Gondrong mengeluarkan tubuhnya lagi menggelantung di pintu keretaa sambil mengacungkan jari tengah kearah gerbong terdepan, sepertinya ia mengacungkannya ke petugas tadi gerbong kami bermasalah, sambil berteriak F**k luuu!! Sesaat setelah itu ia merubuhkan badannya duduk disampingkuu….

Gondrong: “Sekalian deh Srak, sorry deh kesel banget gue, biarin deh abis-abisan dah...gue bakalan hadapin, cape banget kitaa..!

Aku tidak menjawap perkataanya, kecuali tatapan kosong menatap jendela pintu dari area toilet tempat aku duduk. Lima menit kemudian, grusaak…grusaaak, Ujang muncul dihadanku membawa dua kendi yang salah satunya adalah milikku. “Alhamdulilllah ketemu jugaa, duuh kaaang itu dibelakang ada petugas restorasi lagi ngarah kemari…..tadi sayah ngelewatin untung dia ga ngenalin sayah kaang, lagi ngarah kesini..”, ujang yang baru saja tiba langsung memberikan kabar menegangkan.

Gondrong: “Gue rasa, orang-orang itu semua pasti mengarah kesini ngejar kita..!” Tinggal dua stasiun lagi kan nih, ga jauh kan srak lu bilang?

Aku: “Sial….!, kenapa ga mulus sih ini rencana, ada aja masalah!, kalau nasib kita baik, kita bisa sampe tujuan sebelum mereka sampe sini….” Dengerin nih, Stasiun Karang Anyar setelah stasiun Purworejo depan yang ngga lama lagi sampai ini..”


Ujang: “Kita mencar lagi…?”


Aku: “Kita mecah deeh, jangan ngumpul gini, pokoknya bertahan…kita turun di stasiun setelah stasiun depan ini..” Yuuuk gerak sekarang…!!


Keadaan kereta saat itu sedang penuh penumpang, ada yang duduk di lorong jalan gerbong juga, zaman dulu, meskipun kereta penuh, berdiri tidak mendapatkan kursi, namun tetap memiliki karcis. Keadaan penumpang tersebut sedikit membantu kami menyamrkan dan memperlambat pergerakan para petugas-petugas kereta.

Aku bergerak ke gerbong paling belakang dan duduk jongkok dekat kursi pojok, nimbrung dengan penumpang keluarga yang aku tidak kenal seolah menjadi bagian dari keluarganya. Aku mengeluarkan sarung dari tasku dan melilitkannya menjadi seperti syal di leher dan setengahnya menutupi kepalaku, demi penyamaran.

 Kali ini kami jadi buronan gerbong yang paling diburu, Jantungku kembali berdegup cepat..dag dug dag dug tak bisa tenang,…sambil zikir dan berdo’a “Ya Alloh jangan sampaikan itu para petugas ke posisi kami berada sebelum sampai ditujuaaan…”

Lampu di gerbong tempatku memang sedikit redup, dan itu membuat suasana menjadi agak mencekam, sampai-sampai tak terasa sedikit lagi kami mulai memasuki stasiun Purworejo, dan aku tidak melihat lagi Gondrong dan Ujang saat itu. Tiba-Tiba terdengar suara sedikit gaduh, aku melirik ke ujung lorong gerbang ternyata itu adalah kondektur yang sudah sampai di gerbongku……


DAG…DUG…DAG…DUG….DAG….DUG……! jantungku semakin berdegup diatas ambang wajaar..! karena aku tidak tau bagaimana nasib Ujang dan Gondrong, hatiku hanya bergumam…”Perjuangan belum berakhir kawaan…!, semoga kalian bernasib baik…..!



Bersambung


KERETA SETAN (True Story)



"Seumur perjalanan gue hidup sampai sekarang, inilah perjalanan naik kereta dimana setiap waktunya diliputi rasa takut dan capek yang luar biasa dan bahkan  sampai ketempat yang tidak jelas pula."
-Korban Kereta Setan-



Desa Bayat Klaten, Maret 2001

Suasana malam saat itu saat mencekam, teras Rumah Budi yang letak rumahnya ditengah perkampungan dan tegalan sawah, gelap, penerangan hanya ada cahaya bohlam 10 watt yang memancar menerangi meja dan kursi kayu dengan lantai yang masih berupa plesteran semen kasar, sedangkan sebagiannya masih tanah. Dihadapan tiga gelas kopi hitam yang diantaranya sudah tinggal setengah, terdapat tiga laki-laki yang sedang dilanda kecemasan dan kebingungan, salah satu diantara tiga laki-laki itu adalah aku sendiri. Ekspresi wajah diantara kami hanya bisa saling pandang, bingung, sesekali menyeruput kopi sambil menghisap rokok kretek berharap mendapatkan ide dan jawaban atas permasalahan yang sedang kami hadapi ini.

Malam itu adalah malam terakhir, dari rangkaian 10 hari perjalanan liburan nekat dari tiga orang mahasiswa kere yang memiliki keinginan jalan-jalan seperti orang-orang pada umumnya yang bisa pergi dari kota satu kota lainnya, dari pulau satu ke pulau lainnya. Malam itu adalah malam terakhir terdamparnya kami di desa Bayat Klaten, dimana kami bertiga memutuskan untuk menghentikan rencana perjalanan impian kami ke Bali saat itu.

Cholid biasa dipanggil Gondrong, karena memang rambutnya panjang seperti Kaka Slank, kuliah satu jurusan dan masih seumuran denganku, Gondrong adalah sahabatku berkelana, perjalanan hidupnya penuh petualangan dan ujian hidup yang membuat orang tertempa batin serta karakter kemandiriannya. Anehnya itu menular, akulah suspect yang tertular dari dirinya atas semua pengalamannya, saat itu Gondrong duduk di kursi sebelah kiriku dangan menaikan kakinya sambil terus memandangi lampu bohlam dan menghisap kreteknya, seolah-olah hal berat sedang ada di ubun-ubunnya untuk dipecahkan.

Kemudian Ujang, laki-laki yang duduk di kursi sebelah kananku berasal dari Tasik, matanya agak kurang sempurna, namun masih bisa melihat jelas. Ujang adalah sosok pribadi yang sangat polos dan lugu, dia adalah mahasiswa jurusan Akunting di kampusku, cuma menurutnya bergaul dengan anak-anak jurusan DKV itu lebih asyik maka ketika mengenalku, nyaris setiap waktu senggang dia selalu nongkrong bersamaku, bahkan mau menjadi bagian dari perjalanan nekat bersamaku saat itu. Ujang memanggilku Kang Gusrak, penurut dan jarang membantah, setiap diminta pendapatnya, ia hanya menjawab "saya mah bagaimana Kang Gusrak sajah, saya mah ngikut ajah, iyaah setujuh, jangan atuuh, map atuh kang tidak sengajaa"Hahaha, rasanya kosa kata yang selalu keluar dari mulutnya hanya itu dan kemudian selalu diakhiri dengan kata…Hidup Persib euy!. Aku memperhatikan dirinya malam itu memainkan bungkus rokok sambil tangannya memegang gelas kopi, sambil seraya berfikir…entah apa yang dipikirkannya, setahuku biasanya dia hanya akan bersuara setelah mendapatkan hasil keputusan, kalau bukan iyaaah setujuh, paling tidak saya mah gimana Kang Gusrak sama Kang Gondrong sajaah, ngikuut euy…persib pokoknyaa..! terkadang sangat menjengkelkan siih anak itu.

Aku sendiri biasa dipanggil Gusrak oleh teman-temanku, dosen dan semua orang dikampus, satu-satunya dalam sejarah jurusan DKV berdiri, ada perwakilannya yang terpilih menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa ditahun itu yaitu diriku. Sambil memegang gelas kopi buatan Lastri, adik paling kecil si Budi yang manis sekali, sayangnya saat ini aku tidak sedang menceritakan lastri, meskipun ada cerita tersendiri dengannya saat berada di Bayat. Aku melihat jam dinding yang berada didalam rumah Budi, oh iya Budi adalah salah satu staff pekerja bantu di kampusku, karena dikampus dia sering nongkrong bareng, sedangkan letak rumah di kampungnya berada pada posisi dimana kami berada saat itu, sehingga dengan bantuannya kami menumpang untuk tinggal disana untuk sekedar singgah. Jam dinding menunjukan pukul 21.00 wib, dan saatnya untuk menuangkan gagasan ide bagaimana caranya untuk bisa pulang ke Jakarta. Uang kami sudah habis, perjalanan nekat kami memang dengan uang minim, rasanya untuk meminta bantuan Budi dengan meminjam uang hanya untuk sekedar membeli tiket kereta api rasanya malu sekali. Sudah bisa singgah saja bagi kami sudah cukup merepotkan apalagi sampai meminjam uang yang tidak sedikit untuk membiayai kami untuk bisa sampai ke Jakarta.

Aku : “Jadi seriusnya gimana nih,....’Bali atau pulang”?.

Ujang : “Duh punten kang Gusrak, pulang ajah lah....maap bukannya ngga komitmen tapi beneran saya jadi inget tugas akhir bu Eno, nanti di Bali nasib kita ga jelas....tugas akhir saya hancur...hancurlah hati saya kang!.”

Aku: “huufffhh… gimana lagi ya, gimana ndrong?.”

Gondrong : “Ya sudah lah, kita balik aja, tapi inget kita jangan pinjem uang sama Budi ya, jadi gembel lebih baik untuk sampe ke Jakarta, kita dah nyusahin budi banyak banget disini..”

Aku: “oke deh, kalau gitu paling kita minta tolong budi anterin kita aja pake motor ke stasiun Klaten, setelah itu biar selanjutanya adalah urusan kita, gimana?.”

Gondrong : “Eh Srak!...perjalanan balik kita ini pokoknya elu deh komandannya!.”

Aku: “Hmmmm…kenapa gue?.”

Gondrong: “ Ya elu yang biasa mudik nyepur, tau lah pasti seluk-beluk kereta gimana.”

Aku : “Ya udah, pokoknya kalau ada apa-apa hadapin bareng-bareng lah….jangan gue sendiri, gue kan cuman kenal sekedarnya doang medan perkereta apian!. Eh iya tetep harus punya rencana B nih, belum kepikir sih gue, liat besok deh sambil jalan gue pikirin.

Gondrong: “terserah elu lah, duit gua tinggal ceban nih, harus bertahan buat kita survive dengan duit ini gimana caranya gua percayain elu, pokoknya gua bakalan ngikut aja apa yang lu bilang,…'Jang elu juga ya, ngikutin gusrak aja.'!”

Ujang: “Iyah siap lah kang saya mah….Persib pokoknya euy!.”

Aku sruput habiskan kopiku, lalu bergegas masuk kedalam untuk tidur, kemudian Gondrong dan Ujang pun mengikuti. Setidaknya sudah ada gambaran keputusan apa yang harus kami lakukan untuk hari besok, aku menutup pintu dan naik ke atas dipan kayu yang dilapisi tembikar anyam dengan selimut kain serta bantal. Kami merebahkan badan dan tidur disitu sambil menatap langit-langit, setiap diantara kami bergeser memindahkan posisi badan, dipan kayunya berbunyi..."krekeeet…krekeeeet…krekeeet”…hehehe, Gondrong pun nyeletuk “Wooi, lu pada tidur napaaah berisik amaaat ya, kaga bisa dieem.!.” Sontak aku dan Ujang tertawa, karena bunyi dipan ini sangat mengganggu namun membuat suasana menjadi lucu.

Keesokan harinya sekitar pukul 11.00 s/d 13.00 wib kita keliling-keliling liat suasana kampungnya Budi untuk terakhir kalinya sambil pamitan dengan tetangga sekitar. Usai sholat dzuhur, Lastri masak enak hari ini untukku sebagai tamu istimewa untuk terakhir kalinya, senyumnya merekah manis sekali, melihatnya membuat ingin terus lama nginep dirumah ini. Sambil makan dan ngobrol-ngobrol ringan aku memberikannya oleh-oleh yang sengaja aku beli untuk Lastri beberapa hari sebelumnya di Malioboro saat aku singgah di Yogyakarta.

Aku : “Dik Lastri, terima ya…ini kenang-kenangan dari saya looh, mbok jangan diliat dari harganya tapi dari maknanya....he..he..(cendramata boke pinsil kayu dari padi lucu)”

Lastri: “Waaah, makasih yo maaas…Aku nda minta loh ini, tapi seneng benget dapet oleh-oleh.” (senyumnya memancar lagi, sejuk rasanya). “Mas Gusrak jangan kapok kesini, kapan-kapan harus kesini lagi loo, tak tungguin pokoknya”.!

Aku: “Looo kok kamu jadi ikut-ikutan keterusan manggil aku gusrak tooh, kemarin dah bener manggilnya ‘Mas Agus gituuu’, enak dengernya kalau kamu yang manggil.”

Lastri: “ooh iyaa….lali maas akuuuu, yoo maaf tooh, oh iya temen-temen sekolahku yang kemarin pas mas anterin aku, itu pada nanya loh, ‘Lastri siapa tuuh, tumben ada yang anter jemput.?’, aku nda jawab loh mas, nah besok kalau pada nanya lagi aku jawabnya apa yo mas..?.”

Aku: “Moso gitu aja musti tanya toh dik, ya jawab aja dengan tegas dan lantang…’ooh itu Masku’ gituuu, yaa..jawab ajaa!.”

Tiba-tiba “Pletaaak” bungkus rokok melayang dan mendarat di kepalaku, ternyata gondrong yang melemparnya lantaran nguping obrolanku dengan Lastri..

Aaaah lagu luuu sraaak…sraaak..!, Lastri, jangan mau luu.. eh kamuu sama gusraaak, susah nanti hidup, kuliah aja nunggak, coba geledah aja tuh kaga ada duitnyaa…hahahahah”!. Ucapan Gondrong ke Lastri mengejekku sambil tertawa. Lastri pun tertawa lirih sambil berkata “Yooo men toh maas..!

Hahaha, Aku pun melemparkan kembali bungkus rokok tadi ke gondrong, “tuuh woooi dengeeriin..Yooh Meen..Yooh Meen….hahaaay.” Obrolan sambil makan siang itupun diisi dengan tawa canda perpisahan

Akhirnya waktu menunjukan Pukul 14.00 wib siang...waktunya kami untuk bergegas, karena menuju Jakarta saat itu kereta yang akan kami tumpangi dari stasiun Klaten itu adalah kereta tujuan purwokerto, dimana waktu berangkatnya pukul 15.00,- wib, setelah sampai Purwokerto, disambung dengan kereta tujuan Jakarta yang melewati jalur selatan.

Perpisahan pun tiba…Tiga motor sudah disiapkan untuk mengantar kami, cek kantong masing-masing, duitku tinggal Rp. 5.000,- gondrong Rp. 10.000,- Ujang Rp. 1.500,-. Menatap langit tegak siap menantang ujian didepan, kami pun pamitan lagi dengan segenap seluruh keluarga besar Budi, dan yang terakhir dengan degup jantung yang berdegup menyalami dik Lastri,

“Mas pamit yaa, sekolahnya yang pinter, jaga dirimu, dan salam buat temen-temen yang kemarin,!.” Lastri hanya mengangguk dengan mata ngembeng air mata yang tak menetes melepas kepergian kami. “Maas jangan lupa main lagi kesinii…!” Kami pun saling melambaikan tangan kepada semua yang ada disitu saat itu.

Tak lupa oleh-oleh desa Bayat yaitu kendi tanah liat pun tak ketinggalan, kendi yang kami beli di hari sebelumnya di desai tersebut. Iring-iringan motor pun meluncur melewati tegalan sawah melintasi desa Bayat, jalannya berliuk-liuk, dengan hembusan angin sepoi dan agak mendung langit sore itu. Kebetulan aku satu motor dengan Budi, diatas motor aku sambil berbincang dengannya.

Aku : “Bud...sorry banget ya kalau gue sama anak-anak nyusahin lo selama disini.”

Budi: “udaaah nyantai aja sih, lo jadi jadi kaya orang lain aja sama gue, jujur gue seneng kok elo bertiga bisa sampe disini.”

Aku : “Yaaah...ngga nyangka yah akan berakhir seperti ini, doain kita bertiga ya biar bisa sampe jakarta selamat kerumah, bukan ke pos polisi..hehehe,.” Ujarku.

Budi : “Iya...gw nih yg minta maaf ga bisa minjemin lo pada duit buat beli tiket kereta.!”
Aku : “Udah lah, kan kita laki-laki strong Bud, tenang aja ...pasti ada jalan!.”

Brrmmmbrrmmmm.......gas kembali dihentakan menambah laju sepeda motor menuju tujuan stasiun Klaten

Pukul 02.40 wib...sampailah kita di tujuan. Stasiun yang bersih, dengan nuansa tempo dulu banget, dan alhamdulillah kami tiba tepat waktu sesuai rencana, persis di atas kami disambut dengan spanduk besar berukuran 1,5 x 4 m yang terpampang dengan tulisan

"PENUMPANG YANG KEDAPATAN TIDAK MEMILIKI KARCIS AKAN DIKENAKAN 10 x LIPAT DARi HARGA KARCIS NORMAL".

Baca spanduk itu terus terang membuat nyali ku DOWN saat itu!. Namun halaaah…semangat harus dibakar terus ga boleh surut. Dari Stasiun Klaten kami harus naik kereta pramex dengan tujuan akhir purwokerto, dimana kereta tersebut melewati stasiun Lempuyangan dan stasiun Tugu di Yogyakarta. Saat komandan perjalanannya adalah aku, namun kita telah berikrar kalau terjadi sesuatu atau ada masalah kita akan menghadapinya bersama-sama senasib seperjuangan, sejauh ini perjalanan kami sudah sangat melelahkan dan payah.

Akhirnya pukul 15.15 wib kereta yang dituju pun tiba di stasiun klaten........!, kami bertiga saling merangkul dan berdoa, serta menguatkan ikrar kembali.

Gondrong : “Siap-siap, petualangan akan kita mulai lagi…!” Eh iya srak, lu udah punya rencana B belum, kalau terjadi sesuatu…?”

Aku: “Oh iyaaa beloom, duuh…Ah nantilah, semesta mendukung, rencana B hanya ada jika ada masalah, dan kita ini ngga akan ada masalah maka itu ngga ada rencana B.”

Ujang : Kang Gusrak..kalau kasih aba-aba yang keras ya suaranya, sayah mah atuh bener-bener ngikut aja ini, kalau kang Gusak nyemplung sawah, saya juga nyemplung sawah…Persib pokoknya euy.!

Akupun menyalami dan memeluk sama budi tanda perpisahan terakhir, kemudian bergerak menuju kereta yang baru saja berhenti dihadapan kami. Aku langsung menginstruksikan ke dua orang itu pada. "Inget pas naik elo pada pokoknya ikutin gue terus aja ya...!”

Gondrong: “Kita ntar stay dimana srak?...sambungan atau…WC....?”

Ujang : “Apa di gerbong paling belakang aja kang Gusrak..?.”

Aku: “Bentar...gue perhatiin dulu nih kereta....setelah tiga menit memandang dari depan ke balakang rangkaian gerbong untuk aku pelajari, gerbong ketiga adalah pilihan cocok menurutku.”

Aku: “Nyok cabut kita hajar gerbong tiga.” Kami langsung menaiki kereta menuju pintu gerbong lima karena gerbong lima letaknya tepat di hadapan kami, kemudian kami masuk kedalamnya menyusuri lorong gerbong dan terus bergerak menuju ke gerbong tiga dengan semangat berapi-api.

Beberapa saat kemudian sampailah kita di gerbong tiga, ketika sampai sampe didalamnya...si Gondrong dan si Ujang terhentak Kaget!

Aku : “Nah…kita stay disini dah kita bertiga ngeriung aja jongkok disini jangan pisah-pisah atau jalan kemana-mana termasuk WC sampai situasi kondusif.” Gerbong tiga adalah gerbong yang isinya adalah ruangan kantor para masinis dan kondektur, sekaligus ruangan restorasi dan administrasi, pergantian shift kondektur dan sebagainya.

Gondrong : “Busyeeeet..!, dah gila lu Srak….ini mah bunuh diri kita nongkrong disiniii…!”

Ujang : Kang Gusrak ngga salaah nih, ini mah bentar lagi juga ditangkep kita...!

Aku: “Udah tenang aja, lo percaya aja ma gue, kalau di sambungan atau di WC itu tempat sasaran tembak yang empuk!.” “Jadi gini, rencana Gue nanti pas kereta jalan, dan kondektur mulai keluar dari tuh ruangan langsung kita hampirin bertiga, kita jujur aja ngomong apa adanya, minta dispensasi dan keringanan bilang kita adalah mahasiswa yang study banding ke Klaten ketinggalan rombongan untuk pulang ke jakarta kehabisan uang...gituuuu....ini namanya menantang ujian, soal gimana-gimananya urusan belakang, namanya jujur itu biasanya dapet jalannya yang baik-baik.”

Gondrong : “Hmmmh, ok deh…kalau berhasil Alhamdulillah, kalau kaga palingan kita gembel ye dilempar ke rel.”

Aku : “Nah lo ngerti...udahlah hanya Allah yang tau nanti jawabannya, kita berdo’a deh.

Ujang: “Kang saya teh deg-degan ya, takut euy…ga Persib ini mah kang kalau gini…!”. Kalau ada apa-apa tolong jangan tinggalin saya kang yah..”

Aku: “Eh iya jang, Kendi-kendi kita taro depan sini aja biar keliatan, kondektur kan bisa liat kita masiswa beneran bawa hasil apa gitu dari klaten.!”

Gondrong: “Kendi gue paling depan deh srak,…paling gede kan ini kendi gue.!” Dia pun melepas koran yang membungkus kendi besarnya agar bisa terlihat jelas.

Pintu kereta tertutup otomatis petanda perjalanan dimulai, goyangan gerbong demi gerbong sudah terasa tanda kereta mulai bergerak menambah kecepatannya. Jantung mulai DAG...DUG....DAG...DUG...DAG...DUG...DAG...DUG....20 menit kemudian terlihat bayangan kondektur mulai keluar dari ruangannya bawa alat pembolong karcis untuk memeriksa gerbong demi gerbong. Bapak kondektur itu pun nampak dengan perawakan badan yang sedang tidak terlalu gemuk, dengan kemeja putih ber berdasi, tidak lupa dengan topinya berjalan pelan menuju ke arah kami bertiga.

Aku: “Kalau gue kasih aba-aba 1...2...3...4...nah langsung kita berdiri bareng- bareng, kita hadapin tuh kondektur.....Jangan lupa, ingeet yee.!”

Gondrong, Ujang : Oke, Persiib kang....!”

Tak lama kemudian jarak kondektur hanya tinggal dua langkah lagi dari posisi kami bertiga duduk di lantai, mulai lah gue berhitung. “1...2...3...........................4....Diriiiiii.!”

KONDEKTUR sudah berdiri Persis didepan muka gue berhadap hadapan......daaan Shiiiiiit.....!!!

Gue tengok kanan kiri, si Gondrong sama Ujang ngga ikutan berdiri... dua orang itu masih jongkok aja....(KEJENGKELAAAANN akhirnya mulai melepuh sampe ke ubun-ubun untuk dua orang itu). Karena posisiku sudah kadung hadap-hadapan ya terpaksalah telan mentah-mentah apa yang akan terjadi...!!

Kondektur : " KARCIIISS"... LOH KOK PADA DUDUK DI GERBONG INI...KALIAN HARUSNYA DI GERBONG PENUMPANG....PADA NGAPAIN INI!!

Aku : '""PPPaPPApAA...maaf Pak begini…..pak…hmmmh..anu…saya mahasiswa dari Jakarta pak, lagi study banding ke Yogya, lalu ada bagian acara yang mengharuskan ke Klaten, saya cuma bertiga pak, ini dua teman saya, yang ini punya gangguan jiwa pak, sambil aku menunjuk kearah Ujang, trus yang ini hidupnya sebatang kara pak, hidupnya susah…(sengaja aku meninggikan suaraku agar didengar oleh kedua temenku yang menjengkelkan ini, lantaran kesel banget).” “Kami dah ketinggalan rombongan kampus saya untuk pulang ke jakarta.....PPPaapappaak, saya ga punya uang lagi pak dah abis buat beli oleh-oleh...nah kaya kendi itu pak (sambil nunjukin kendi dan nunjukin kartu mahasiswa)…”Tolong saya pak…! saya ngga mau ngumpet-ngumpet pak di WC, apa lagi kejar-kejaran sama bapak, saya juga ga mau bohong pak, maka itu kita langsung duduk disini aja biar bisa ngomong langsung sama bapak!.”

-Bersambung  >>  Kereta Setan True Story Part.2-


FOLLOW US @ INSTAGRAM

Popular Posts

agusonpapers. Diberdayakan oleh Blogger.