Pengertian Persepsi


Kehidupan individu sejak dilahirkan tidak lepas dari inter­aksi dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Dalam interaksi ini, individu menerima rangsang atau stimulus dari luar dirinya.
Persepsi merupakan proses akhir dari pengamatan yang diawali oleh proses pengindraan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh alat indra, kemudian individu ada perhatian, lalu diteruskan ke otak, dan baru kemudian individu menyadari tentang sesuatu yang dinama­kan persepsi. Dengan persepsi individu menyadari dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada di sekitarnya maupun tentang hal yang ada dalam diri individu yang bersangkutan.

PENGERTIAN 
a. Persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap rangsang yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan ak­tivitas yang integrated dalam diri individu (Bimo Walgito,2001)

b. Persepsi ialah daya mengenal barang, kualitas atau hubungan, dan perbedaan antara hal ini melalui proses mengamati, me­ngetahui, atau mengartikan setelah pancaindranya mendapat rangsang (Maramis, 1999).
Dengan demikian, persepsi dapat diartikan sebagai proses di­terimanya rangsang melalui pancaindra yang didahului oleh per­hatian sehingga individu mampu mengetahui, mengartikan, dan menghayati tentang hal yang diamati, baik yang ada di luar maupun dalam diri individu.

MACAM-MACAM PERSEPSI
Ada dua macam persepsi, yaitu:
    External perception, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsang yang datang dari luar diri individu.
   Self-perception, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rang-sang yang berasal dari dalam diri individu. Dalam hal ini yang men­jadi objek adalah dirinya sendiri.

GANGGUAN PERSEPSI (DISPERSEPSI) 
  Dispersepsi adalah kesalahan atau gangguan persepsi.

Penyebab
Gangguan otak karena kerusakan otak, keracunan, obat halusino­genik; gangguan jiwa, seperti emosi tertentu yang dapat mengakibat­kan ilusi, psikosis yang dapat menimbulkan halusinasi; dan pengaruh lingkungan sosio-budaya, sosio-budaya yang berbeda menimbulkan persepsi berbeda atau orang yang berasal dari sosio-budaya yang berbeda.

Macam-Macam Gangguan Persepsi
Menurut Maramis (1999), terdapat 7 macam gangguan persepsi, yaitu: halusinasi, ilusi, depersonalisasi, derealisasi, gangguan soma­tosensorik pada reaksi konversi, gangguan psikologi dan agnosia.

Halusinasi atau mava
Halusinasi adalah pencerapan (persepsi) tanpa adanya rangsang apapun pada pancaindra seseorang, yang terjadi pada keadaan sadar/bangun dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun his­terik (Maramis, 1990).
Oleh karena itu, secara singkat halusinasi adalah persepsi atau pengamatan palsu.

Jenis-jenis halusinasi:
a. Halusinasi penglihatan (halusinasi optik):
  • Apa yang dilihat seolah-olah berbentuk: orang, binatang, barang, atau Benda.
  • Apa yang dilihat seolah-olah tidak berbentuk: sinar, kilat­an, atau pola cahaya.
  • Apa yang dilihat seolah-olah berwama atau tidak berwama.
b. Halusinasi auditif/halusinasi akustik—Halusinasi yang seolah­olah mendengar suara manusia, suara hewan, suara barang, suara mesin, suara musik, dan suara kejadian alami.
c.  Halusinasi olfaktorik (halusinasi penciuman)Halusinasi yang seolah-olah mencium suatu bau tertentu.
d. Halusinasi gustatorik (halusinasi pengecap)Halusinasi yang seolah-olah mengecap suatu zat atau rasa tentang sesuatu yang dimakan.
e. Halusinasi taktil (halusinasi peraba)Halusinasi yang seolah‑olah merasa diraba-raba, disentuh, dicolek-colek, ditiup, di­rambati ulat, dan disinari.
f. Halusinasi kinestik (halusinasi gerak)Halusinasi yang seolah‑olah merasa badannya bergerak di sebuah ruang tertentu dan merasa anggota badannya bergerak dengan sendirinya.
g. Hal usinasi viseralHalusinasi alat tubuh bagian dalam yang seolah-olah ada perasaan tertentu yang timbul di tubuh bagian dalam (mis. lambung seperti ditusuk-tusuk jarum).
h. Halusinasi hipnagogikPersepsi sensorik bekerja yang salah yang terdapat pada orang normal, terjadi sebelum tidur.
i.  Halusinasi hipnopompikPersepsi sensorik bekerja yang salah, pada orang normal, terjadi tepat sebelum bangun tidur.
j.  Halusinasi histerikHalusinasi yang timbul pada neurosis histerik karena konflik emosional.
  Isi halusinasi adalah terra halusinasi dan interprestasi pasien tentang halusinasinya, seperti mengancam, menvalahkan. Keagamaan, menghinakan, kebesaran,seksual, membesarkan hati, membujuk atau hal-hal yang baik.
Hal-hal yang dapat menimbulkan halusinasi adalah skizofrenia, psikosis fungsional, sindrom otak organik (S00), epilepsi, neurosis histerik, intoksikasi atropin atau kecubung, dan zat halusinogenik.

Ilusi adalah interpretasi yang salah atau menyimpang tentang penyerapan (persepsi) yang sebenamya sungguh-sungguh terjadi karena adanya rangsang pada pancaindra.
Secara singkat ilusi adalah persepsi atau pengamatan yang me­nyimpang.
Contoh:
  • Bayangan daun pisang dilihatnya seperti seorang penjahat.
  • Bunyi angin terdengar seperti ada seseorang memanggil nama­nya. 
  • Suara binatang di semak-semak, terdengar seperti ada tangis­an bayi.
Depersonalisasi ialah perasaan yang aneh tentang dirinya atau perasaan bahwa pribadinya sudah tidak seperti biasa lagi, tidak menurut kenyataan atau kondisi patologis yang seseorang merasa bahwa dirinya atau tubuhnya sebagai tidak nyata.
Contoh:
a.    Perasaan bahwa dirinya seperti sudah di luar badannya.
b.    Perasaan bahwa kaki kanannya bukan kepunyaannya lagi.

Derealisasi ialah perasaan aneh tentang lingkungan di sekitar dan tidak menurut kenyataan sebenarnya (mis. segala sesuatu di­rasakan seperti dalam mimpi).

Gangguan somatosensorik pada reaksi konversi, secara harfiah soma artinya tubuh, dan sensorik artinya mekanisme neuroligis yang terlibat dalam proses pengindraan dan perasaan. Jadi, somatosensorik adalah suatu keadaan menyangkut tubuh yang secara simbolik meng­gambarkan adanya suatu konflik emosional.

Contoh:
a.  Anestesia, yaitu kehilangan sebagian atau keseluruhan kepe­kaan indra peraba pada kulit.
b. Parestesia, yaitu perubahan pada indra peraba, seperti ditusuk­tusuk jarum, di badannya ada semut berjalan, kulitnya terasa tebal
 c. Gangguan penglihatan atau pendengaran.
d.  Makropsia (megalopsia), yaitu melihat benda lebih besar dari keadaan sebenarnya bahkan kadang-kadang terlalu besar seh­ingga menakutkan.
e.       Mikropsia, yaitu melihat benda lebih kecil dari sebenarnya.

Gangguan psikofisiologik ialah gangguan pada tubuh yang di­sarafi oleh susunan saraf yang berhubungan dengan kehidupan (ner­vus vegitatif) dan disebabkan oleh gangguan emosi.
Contoh:
Gangguan ini mungkin terjadi pada:
a.  Kulit: radang kulit (dermatitis), biduran (urtikaria), gatal-gatal (pruritis), dan banyak cairan pada kulit (hiperhidrosis).
b. Otot dan tulang: otot tegang sampai kaku (tension headache), otot tegang dan kaku di punggung (lowback pain).
c. Alat pernapasan: sindrom hiperventilasi (bernapas berlebihan yang mengakibatkan rasa pusing, kepala enteng, parestesia pada tangan dan sekitar mulut, merasa berat di dada, napas pendek, perut gembung, tetani, dan asthma bronchiale.
d. Jantung dan pembuluh darah: debaran jantung yang cepat (palpitasi), TD meningkat (hipertensi), dan vascular headache.
e. Alat pencernaan: lambung perih, mual dan muntah, kembung (meteorisme), sembelit (konstipasi), dan mencret (diare).
f. Alat kemih dan alat kelamin: sering berkemih, ngompol (enuresis), memancarkan air mini secara dini (evaculation precox), hubungan seksual yang sakit pada wanita (dispareunia), sakit waktu menstruasi (dismenore), tidak mampu menikmati rangsangan seksual pada wanita (frigiditas), dan impoten.
g. Mata: mata berkunang-kunang dan telinga berdenging (tinitus).


Agnosia adalah ketidakmampuan untuk mengenal dan mengartikan persepsi, baik sebagian maupun total sebagai akibat kerusakan otak.Pengertian persepsi

0 comments:

Posting Komentar

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Popular Posts

agusonpapers. Diberdayakan oleh Blogger.