CatPer : Pendakian Cinta & Persahabatan Merbabu 20-23 Januari 2012


Tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehku untuk bisa melaksanakan pendakian di bulan dan momen yang tidak baik, seperti musim hujan dan cuaca buruk angin putting beliung yang kerap sulit diprediksi arah datangnya......Januari memang bukan bulan yang bagus untuk menjalankan trip dengan tujuan gunung bagi beberapa pendaki….
Namun jika melihat posisiku sebagai kuli yang bekerja trus memburu waktu, maka momen libur tgl merah menjadi schedule yang teramat mahal untuk menebus waktu itu, karena rebutan dengan agenda lain keluarga dan sebagainya…..Ajakan dari rekan sejawatku seorang anggota MyQpala (yang merupakan bagian dari MyQuran sebuah komunitas forum yang besar di dunia maya) di Yogya untuk mengambil momen tgl merah di januari kemarin untuk melakukan pendakian ke Gunung Merbabu pun menjadi hidangan lezat buatku kala itu untuk mengobati ruh yang sudah terkoyak koyak akibat aktivitas kaum urban…

Tgl pun ditentukan 20-23 Januari 2012, untukku melaksanakan itu..prepare pun disiapkan, dimulai dari meminta ijin kepada istri seperti biasanya kl ingin berangkat naik pasti harus mendapat keridhoan dulu dari istri tercinta..dan Finally semua ijin dan perlengkapan pun mulai berbenah kulengkapi selengkap dan seaman mungkin, karena aku tahu kalau pendakian kali ini pasti akan berbenturan dengan cuaca..
Sekitar Seminggu seblm perjalanan….Lemas rasanya, ketika rekanku yang akan berangkat bersama tiba-tiba batal lantaran suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan. Aku pun mulai berfikir Keras untuk gimana caranya aku tetap berangkat melaksanakan agenda yg sudah kubuat, …..kebiasaan jelekku adalah dalam hal hiking adalah ketika sudah di agendakan bagaimanapun keadaanya ya tetap harus barangkat walaupun hujan badai..atau Cuma sekedar kemping-kemping doang di tempat tujuan, atau memindahkan tujuan pendakian ke gunung yang lain.


Aku mulai melisting teman2 ku yang selama ini bisa diajak untuk naik gunung bersama…Namun Nihil, kondisi kerjaan, cuaca menjadikan alasan untuk tidak bisa berangkat. Masih terus berfikir dan terus cenderung memaksakan keinginan..Lalu kucoba Iseng untuk menghubungi Sahabat kuliahku dulu di El Rahma (Sobat yang ada dalam cerita Yogya ku dating tapi ku bingung Pulang yang sudah kira2 4 tahun nda bertemu), hal yang tidak mungkin tapi kenapa tidak kucoba…Alhasil ketika kutawarkan Alhamdulillah beliau bersedia ikut walaupun dalam perjalanannya membutuhkan perjuangan keras untuk mendapatkan izin dari Istrinya tercinta. Cholid pun siap menemaniku untuk berangkat, namun dia akan mengajak satu orang temannya lagi untuk menemaninya dalam perjalanan kali ini ke merbabu…

Tiket kereta Pun Terbayar…4 buah karcis Kereta Ekonomi Gaya Baru Malam sudah ditangan, Pertanyaannya kenapa ada 4 karcis sedangkan yang fix hanyalah aku bertiga…? Yaah itu juga menjadikan kebiasaan buatku selalu membeli lebih, soalnya biasanya disaat mepet2 ada yg dadakan tiba2 minta ikut. 2 Hari sebelum hari H…kucoba iseng memainkan BBm ku untuk menjajakan satu kuota karcis ke yogya untuk melengkapi tim pendakian kali ini menjadi 4 orang, Alhamdulillah…sunggul hal yang nda pernah dan mustahil untuk dipercaya…Sahabatku STM dulu yang 10 tahun lebih tidak ketemu dan beliau termasuk orang yang supersibuk sebagai seorang pengusaha Handpone dibogor yang waktunya selalu habis untuk pekerjaannya…ternyata memutuskan untuk ikut, lagi2 karena Istrinya telah mengizinkannya berangkat karena tahu selama ini suaminya lelah bekerja tanpa menggunakan hari liburnya untuk liburan buat tubuhnya..
Finally fix 4 orang yang siap berangkat untuk melakukan pendakian ini.

 Rizal Koto,  NurCholid Maulana, Agus Setiawan, dan Uphey (Sukma). (Dilihat berurut dari kiri ke kanan pada foto paling atas)

perlu menjadi catatan ini adalah perjalanan terjauh uphey dalam berlibur sendirian, karena hari harinya ruang lingkupnya hanya di Kota Bogor, Kalau soal gunung, dia memang tidak diragukan kemampuannya secara fisik dan pengetahuan, walau selama ini hanya beberapa gunung saja yang sering dinaiki seperti Pangrango yang beberapa kali naik turun via jalur ekstreem Cisarua, dimana bukan jalur umum para pendaki yang biasa dilalui....Hanya saja Uphey sudah 5 tahun terkahir ini Gantung Keril alias pensiun dari dunia nanjak, Karena fokus dalam bisnis yang dijalaninya. Untuk itu suatu keanehan untuk kali ini beliau mau saat kuajak ikut bersama dalam pendakian liburan ini…sekalian reuni sekaligus berbagi kisah atas perjalanan 10 tahun nda bertemu..
Kami pun saling berkoordinasi soal persiapan dan perlengkapan, karena pastinya pendakian kali ini adalah pendakian yang sedikit rumit karena tidak bisa ditebak bagaimana cuaca disana, dan tak lupa aku juga berkoordinasi dengan rekanku di  yogya mas Raga Tantra dari MyQpala yang berhalangan ikut namun beliau siap menjamu dan menjadikan basecamp untuk kami transit dan menikmati suasana yogya.

Hari yang ditentukan pun tiba…kami sepakat untuk kumpul dan bertemu di stasiun senin. Jum’at 20 Januari 12.30 tertera di kacis kereta gaya baru malam meninggalkan stasiun pasar senen.

Jum’at, 20 Januari 2011
12.30 – 21.30 WIB

Aku dan Uphey bertemu distasiun pasar senen, bersendau gurau dan menyempatkan makan siang di stasiun. Namun aku belum bisa melihat sosok 2 orang lagi sobatku yg lain. Adzan Sholat Jumat pun berkumandang, bergegas aku mengambil wudhu untuk melaksanakan Sholat jumat diatas Peron..namun hal yg tidak disangka, saat khutbah berlangsung Kereta Gaya Baru Malam  tujuan Surabaya yang akan kami tumpangi  datang memasuki peron stasiun. Aku dan Uphey pun berdiri mengambil keputusan untuk langsung Berdiri dan melaksanakan Sholat Dzuhur dan Ashar di jamak, kami meninggalkan area sholat dan segera masuk ke gerbong yang dimana 2 sobatku Cholid dan Koto sudah di dalam gerbong..mereka pun tidak sempat melaksanakan sholat Jum’at. Ternyata Kereta ini Ontime sekali, kereta beranjak pergi meninggalkan Stasiun disaat Khutbah Jum’at masih berlangsung..sempet Cholid bertanya kepada Inspektur “ Pak nih Masinis kaga sholat dulu apa”…namun pertanyaan itu hanya dibalas dengan cengengesan senyum sang inspektur…
Dalam perjalanan kereta dalam gerbong kami bila diurut hanya kursi kami yang tampak heboh, Hampir beberapa penumpang dibelakang, depan dan sebelah yang beberapa kali kepergok sedang nguping dan konsen menyimak semua pembicaraan berat kami….

suasana kereta ekonomi

Huuffh…..namanya reunian sobat semua topik pasti jadi pembicaraan dengan gaya bahasa yang lepas dan filosofis. Dari Soal Negara, Bisnis, Agama, Perjalanan Hidup, Penjajahan, Daendels, bahkan sampai kepada pembahasan Atlantis dan Lemuria…Wow pantas saja penumpang lain terheran heran sama bahasan kami. Tidak terasa perjalanan dengan kereta ekonomi kali ini jauh sangat mengasyikan, disamping tidak ada yang berdiri, hidangan makanan pun beraneka ragam lalu lalang disamping kami. Diselingi beberapa kali menikamti hidangan kereta sambil bercerita Cholid dengan Bisnis Wayoutnya melayout buku dan majalah kementrian, Uphey dengan Bisnis Counter ponselnya, aku sendiri dengan coqelatnya dan Rizal yang masih menyandang gelar perjaka dan Berstatus Karyawan...Disitulah kami saling memprovokasi  agar rizal Koto STOP berhenti jadi karyawan dan beralih menjadi wirausahawan dimasa mudanya…ha..ha..ha..provokasi yang berjalan mulus 3 : 1….

21.30 wib
Tiba di Stasiun Lempuyangan…

Mesjid di stasiun lempuyangan

bergegas mencari Mesjid untuk melaksanakan Sholat, lalu sambil berkoordinasi dengan sohibku Adji Raga Tantra yang akan menampung kami bermalam di basecampnya. Ternyata beliau sudah standby menunggu kami di pangkalan ojeg stasiun,….Suasana hangat menyelimuti pertemuan kami rasanya seperti teman lama yg tidak bertemu, padahal ini adalah pertemuan pertamaku dengan Raga Tantra. Kami pun berjalan kecil menuju basecam sederhana tempat ext Mes KAI dahulu yang kini digunakan sebagai kos kosan mahasiswa, hanya 10 menit waktunya dari stasiun menuju ke basecamp dengan berjalan kaki.
Basecamp MyQapala Yogya

Angkringan dekat basecamp

Setibanya  di basecamp beristirahat sejenak melepas lelah dan saling memperkenalkan diri lebih dalam, selanjutnya setengah jam kemudian aku dan teman kru tidak ingin kehabisan momen dan waktu dalam menikmati mala mini. Lalu kami bergegas bersama Raga Tantra untuk mencari Angkringan sambil santap malam mengakrabkan hubungan dengan santai sekaligus bercerita hal-hal seputar pengalaman kami mendaki.
Tak terasa ngobrol ngalor ngidul waktu sudah menunjukan pukul 01.00 wib Dinihari…kami segera meninggalkan angkringan dan kembali ke basecamp untuk repacking dan sharepacking ulang keril dan bawaan kami agar senyaman mungkin esok harinya. Setelah semuanya fix aku langsung menuju pulau kasur untuk meregangkan otot dan merefreshkan ruhku untuk persiapan perjalanan esok.

SABTU, 21 Januari 2012
04.40 WIB – 08.00 WIB

Aku Terbangun karena weker Handpone yang kusetting berbunyi…..sambil membangunkan yang lain untuk sholat Shubuh dan kembali prepare persiapan pagi ini, karena aku tidak mau perjalanan berangkat dari basecamp terlalu siang, apalagi hari sabtu ini tuan Rumah Raga Tantra juga harus masuk Kerja Jam 08.00 pagi. Setelah sarapan Nasi Uduk dengan Wedah teh anget sekaligus memeriksa Lagi Persiapan perlengkapan, kami menyempatkan orienteering Peta sejenak untuk melihat arah dan jalur mana yang akan kami lalui serta rute angkutan yang harus kami naiki menuju ke kaki merbabu. Kami Berempat belum pernah ada yang ke merbabu apalagi nyobain trayek-trayek angkutannya….semuanya Nol, maka dari itu orienteering ini dilakukan untuk lebih meyakinkan dan memantapkan perjalanan kami.

Orientering sejenak
 Kami Akan menaiki Puncak Merbabu via Jalur Wekas dan Tulur Lewat Jalur Selo, kebanyakan orang mengatakan jalur wekas adalah jalur yang paling mudah dan cepat menuju puncak untuk pemula…namun jalur selo adalah kebalikannya.
Bagi aku …Semudah apapun Jalur yang dilalui untuk menuju puncak Gunung, namun selama yang dituju adalah Gunung maka tidak ada istilah gampangin atau menyepelekan sesuatu hal yang terkaitnya…karena Alam bukan kita yang mengendalikan dan bahkan jalur yang mudah pun dalam kondisi tertentu bisa sangat mematikan, sebuah teori dasar dalam pendakian.

Jam 08.00-11.00WIB

Setelah berfoto bersama, Kami  mulai berjalan Meninggalkan Base camp menuju Shelter TransYogya dengan Tarif Rp.3000,- menuju terminal Jobor (terminal dalam kotanya yogya). Transyogya sam dengan TransJakarta, hanya saja ukurannya lebih mini..yang membedakan adalah isi penumpang dan petugasnya yang ramah dan senenag melemparkan senyum.
Transyogya...cholid dah mulai pusing dari sini
 Setiba di terminal Jobor, kami menaiki Bus Besar Tujuan Magelang Dengan tarif Rp. 8.000,-/org, didalam perjalanannya tampak 2 buah gunung berjajar dengan keindahannya masing Merapi dan Merbabu. Pagi ini cuaca masih cerah sehingga Gunung merapi dan merbabu jelas sekali terlihat dari jendela bis…walau di puncaknya ada segepulan awan yang melingkupi punggun dan sisi gunung. Sampai di terminal Magelang kami haru menaiki Bus ¾ tujuan Kopeng dengan Tarif Rp.5000,- selama satu jam perjalanan kurang lebihnya dan turun di Gapura Desa terakhir di jalan ini yaitu Wekas. Dari Gapura untuk menuju ke Basecamp POS I kami harus berjalan menusuri desa dan perkebunan selama 2 jam menanjak, namun karena kami tidak ingin membuang energy disini akhirnya kami coba bernegosiasi dengan tukan ojek yang menurutnya dari pagi belum ada sewaan keatas, selain ingin menghemat energy kami coba ingin membantu secara ekonomi kepada para Ojeg tersebut. Kami sepakat Dengan Biaya Rp. 15.000,- untuk mencapai Basecamp POS I…namun setelah melihat dan melakukan perjalanan naik dengan ojekt tersebut, sebenarnya dengan Ongkos Rp.20.000,- pun kami tidak masalah (muncul perasaan kenapa harus nawar yaa..kasian juga).

Jam 11.00 – 14.00 WIB
Setelah melakukan Registrasi dan Pembayaran pintu masuk dengan tari Rp.4000,-/org, serta berfoto ria sambil memantapkan posisi bawaan kami masing-masing…tepat pukul  11.15 WIB Pendakian pun dimulai dengan Pembacaan Do’a dan penunjukan aku sebagai Kumendan perjalanan (istilah koor perjalanan).
Basecamp registrasi
 Pembukaan jalur ini adalah jalanan Cor menanjak tajam sehingga usaha untuk tubuh kami beradaptasi dengan medan ini terasa sangat cepat. Maklum 2 orang dalam pendakian kali ini sudah 5 taunan tidak nanjak. Akhirnya aku memutuskan posisi Untuk di depan sebagai advance dan Uphey di belakang sebagai Penyapu dengan beban keril 120 liternya itu…
Aku berjalan sudah sampai ke ujung jalan tanah batas jalan desa menuju hutan, disitu aku berhenti dan menurunkan keril serta daypack yang ada di tubuhku. Aku kembali turun sedikit untuk melihat situasi..ternyata Cholid sudah memulai perjalanan ini dengan muntah-muntah dan paru-paru yang menyempit. Wow, baru 20 menit perjalanan padahal…akhirnya disitu kucoba memastikan kondisi fisik cholid yang memang masuk angin dan kurang istirahat sejak semalam, dia merasakan agak pusing dan mual. Setelah beristirahat sejenak diputuskan untuk menukar Keril…Aku Membawakan Keril 120 liternya dengan muatan full dan Daypack berisi makan didepan dan cholid membawa kerilku yang lebih kecil dengan muatan sedikit lebih enteng karena packingan yang baik, lalu perjalanan dilanjutkan dengan formasi yang dirubah, aku menjadi penyapu dan Koto didepan sebagai advance dengan cholid dibelakangnya. 
2 jam perjalanan berlalu, Cholid sudah beradaptasi dengan medan jalur hutan ini…sesekali kamu melemparkan canda dan guyonan yang membuat kami lemas terpingkal pingkal seperti Cholid yang sudah bisa melawak dengan berteriak..

” MANING MANING MABOK MANING MANING MABOK DASAR WONG KOTA NUMPAK BECAK BAE WUTAAH” (lagi lagi mabok..lagi lagi mabok..dasar orang kota naik becak aja Muntah)…guyonan ini dia lemparkan untuk dirinya sendiri yang tadi diawal perjalanan muntah…

Lalu disambut lagi dengan teriakan…”MIJONE…MIJON..MIJONE..MIJON…ANU MBOK DITUKU KIE PAK MIJONE..<< ( Ha..ha..ha..Inget Penjual minuman Mizone dikereta ketika selepas stasiun Cirebon)….

Selang beberapa saat kemudian Aku mengambil keputusan untuk Break Makan Siang dan Ishoma di sebuah dataran yang tidak begitu luas di punggungan hutan pinus. Waktu menunjukkan pukul  14.00 WIB. Huuffhh…tulang bahuku sudah mulai senut2…ternyata Keril Cholid ini luarbiasa beratnya, belum lagi Daypack didepanku yang isi makanannya belum tersentuh. Kami menurunkan Kompor dan makanan lainnya untuk disantap…diantaranya Roti, Tuna Kaleng, Mie Sedap, Sosis dan Kornet berikut Kejunya menjadi Obat power untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Ditutup dengan wedang jahe dan Teh panas, kami kembali merapihkan bawaan dan melanjutkan perjalanan…kali ini aku kembali merubah formasi dan bertukar keril seperti sedia kala..toh kondisi cholid sudah tampak normal, aku kembali pada posisi advance dan Uphey sebagai penyapu…1,5 jam berikutnya aku sedikit terlalu jauh berjalan bersama koto meninggalkan Cholid, akhirnya kucoba cari tempat yang sedikit lebih datar dan dibawah pohon pula, kembali kulepaskan kembali keril dan daypack yang menempel pada tubuhku.

Aku menyuruh Koto untuk tetap di tempat sembari tiduran menjaga keril dan aku putuskan turun lagi sedikit menghampiri Cholid…Ternyata benar saja, Cholid sedang beristirahat karena kembali oleng karena bawaannya…paru parunya menyempit kembali dan nyaris muntah lagi. Disitu aku kembali membawakan Kerilnya dan meminta melanjutkan perjalanan lagi menuju tempat aku menaruh keril diatas…Cuaca sudah mulai tidak mendukung saat ini, Kabut mulai turun dan rintik2 hujan juga sedikit sedikit mulai berjatuhan.
Benar saja ketika samapai ditempat aku menaruh keril dan tempat koto beristirahat, tidak lama kemudian Hujan pun turun..aku pun meminta semua memakai raincoatnya untuk berlindung dari hujan. Kembali aku bertukar membawakan Kerilnya cholid dibelakang dengan daypack didepan serta melanjutkan perjalanan perlahan lahan denga jarak yang sangat berdekatan.

PUKUL  16.00 WIB
Hujan semakin Deras mengguyur kami, serta kabut juga semakin pekat mengiringi jalur perjalanan kami, namun Alhamdulillah kami Sampai di POS II disebuah Hamparan luas tempat dimana dignuakan banyak pendaki untuk membuka tenda dan beritirahat. Sesampai di POS II memang sudah ada beberapa tenda yang berdiri dengan kesenyapan yang termata sangat karena kondisi Hujan lebat disertai Kabut. Disana aku coba melemparkan Pilihan kepada Kru…STAY atau LANJUT, namun karena kondisi temaku bertiga ini masih dirasa enakan akhirnya dipilihlah untuk melanjutkan perjalanan, karena menurut prediksi kami dari Pos II menuju Pos III Helipad tidak begitu Jauh.. (Aku sendiri belum tau bagaimana kondisi Pos III Helipad layak buat ngecamp dalam kondisi seperti ini atau tidak).

Meninggalkan Pos II kami dihadapkan dengan pertigaan cabang, lantaran kabut tebal dan Hujan deras…rupa dari ketiga jalur itu sangat mirip, aku memutuskan mengambil yang tengah karena terdapat jalur pipa Air. Benar saja dari sini aku dan Uphey sedikit berselisih soal jalur ini, setelah satu jam perjalanan pelan pelan menyusuri jalur terdapat banyak keanehan, diantaranya tidak ada bekas jejak tapak ataupun sampah, tidak juga ada petunjuk, dan jalur yang lambat laut semakin hilang dan lebat. Uphey meminta balik berputar arah untuk kembali, namun aku masih kekeuh lanjut karena sesekali aku menemukan bungkus bumbu indomi dan jejak kaki walaupun sudah lama. Dengan Hening dengan tenang perjalanan masih dilanjutkan, Cholid mulai mengigil Beku pada paha dan telapaknya karena terus bergesekan dengan tumbuhan dan hujan, karena dia menggunakan celana pendek dan sandal jepit dengan raincoat batman, sedangkan kabut bukan main pekatnya. Akhirnya jalur yang kami lalui terjawab sudah dengan Ujung Jurang lembah dengan kedalaman lebih dari 15 meter  dengan sungai dibawahnya, yang untuk menuruninya sangat sulit membawa keril. Wow ternyata Jalur buntu yang aku ambil, disitu aku berusaha tenang dan Melakukan STOP di bibir lembah..sedikit berdiskusi dengan mengambil keputusan untuk kembali namun aku dan Uphey coba melakukan orienteering jalur dulu sebelum kembali ke Pos II, karena siapa tau aja ada jalur bypass yang bisa memangkas waktu untuk bertemu jalur utama atau kembali ke Pos II, saat itu kondisi masih Hujan deras dan berkabut, dan cholid berusaha terus bergerak melawan rasa gigilnya pada tubuhnya.

Kulihat keatas ada bekas Longosoran jurang dan bebatuan yang tampak seperti jalur, Aku meminta waktu setengah jam untuk naik ketas dan menyusuri jalur itu. Kami pun sepakat akhirnya aku putuskan naik ketas sendiri menyusuri celahan jalur itu, sedangkan Cholid dan Uphey tetap stay di bibir lembah. Aku mengatakan setelah 10-15 menit Aku minta Koto menyusulku keatas untuk membantu karena tidak mungkin aku bisa turun kembali kebawah sendirian tanpa bantuan. Aku terus menggapai batuan longsor untuk samapai keatas, ketika sampai diatas ternyata betul ada jalur mati yang lama tidak di pakai mengitari gigir punggungan lembah, yang aku prediksi bisa memutar bertemu jalur utama atau jalur kembali ke Pos II, namun liar sekali tumbuhan diatas sini, rantingnya juga sulit untuk dipaksakan…kulihat jam sudah menunjukan pukul 17.30 WIB sore…Tidak mungkin ujarku. Aku pun kembali ke atas longsoran batu tadi, selang tak lama tampak koto menyusulku untuk membantuku turun kembali ke posisi cholid dan uphey stay. Ketika sampai Bawah kulihat wajah Cholid sudah mengigil hebat dan tampak payah, akhirnya tidak pakai lama langsung aku meminta bergerak menyusuri kembali jalur salah ini balik ke pos II. Benar saja perjalanan kembali ke Pos II ini sangat payah, Cholid beberapa kali terjatuh karena juntai posisinya, dia sudah mulai tidak bisa menahan rasa dinginnya sore itu menjelang gelap.

PUKUL 18.20 – 05.30 WIB
 kami tiba kembali di Pos II dan tidak membuang waktu, karena aku sendiri sudah mulai ditusuk oleh hawa dingin merbabu ini. Bila di ukur dengan Mandalawanginya pangrango tentu masih dingin mandalawangi ketimbang Pos II ini, segera dengan target waktu tertentu Tenda pun berdiri dilapisi dengan Flysheet yang lebar sebagai pendukung dan tempat untuk dapur. Setelah merapihkan posisi dan salin Pakaian Koto dan Cholid langsung istirahat Total, Cholid meningkat suhu tubuhnya dan kembali muntah di dalam tenda, tampak payah sekali kondisinya malam itu…Aku dan Uphey pun trus disibukan dengan kebutuhan makan, dengan memasak air panas, makanan dan lain sebagainya untuk menstabilkan kondisi cholid. Setelah semua penghuni tenda merasa kenyang dan lebih hangat, sebelum tidur Uphey memberikan Paracetamol penurun demam dan melumurinya denga Counterpain di sudut2 tubuhnya yang dirasakan sakit. Aku pun bertukar posisi dengan membierikan posisi yang senyaman cholid agar lebih cepat recovery tubuhnya…dengan terbungkus sleeping bag dia pun perlahan tidur.

Aku tidak bisa tidur malam ini karena cholid yang terus Gelisah karena sakit badannya serta kedinginan menggigil begitu juga Uphey yang beberapa kali berteriak karena mimpi Buruk ngelindur…Huuffhhh ada2 aja yang terjadi malam ini. Melihat kondisi seperti aku tidak tahan juga tidak tega melihatnya, lalu PUKUL 01.15 WIB aku bangun dan kembali memasak untuk membuat minuman panas dan makanan lagi, karena sepertinya cholid kurang subsidi makanan buat tubuhnya. Kembali aku buatkan Mie dan Air Jahe serta teh panas, benar2 kucekokin kubuat kenyang si cholid tengah malem…setelah itu kupastikan Cholid dan uphey merasa lebih hangat kembali mereka ke posisi tidurnya. Alhamdulillah kali ini tidur mereka berdua nyenyak sekali tanpa gelisah…Pukul 02.10 wib aku pun baru bisa tidur secara sempurna sampai alarm handpone menunjukan waktu shubuh tiba.

MINGGU, 22  JANUARI 2012
Pukul  05.30 -09.00 WIB

Setelah Shubuh…Ajaib memang kondisi Cholid berubah 180 derajat menjadi normal, gada tanda sama sekali habis drop malamnya, begitu juga Uphey dan Koto. Karena kondisi demikian agntian aku meminta Uphey untuk masak enak pagi  menyiapkan kebutuhan sarapan bersama cholid dan Koto…sedangkan aku melanjutkan kembali tidur dalam sleeping bag yang kurasa masih kurang waktu istirahatku.
Pukul 07.30 kubuka mata, kulihat menu masakan istimewa pagi ini sedikit lagi matang beserta lauk pauknya. Aku pun bangkit dan melakukan Stiching sebentar lalu Kubongkar isi seluruh tenda dan melakukan Packing. Sementara Uphey dan cholid terus menyiapkan masakan, Koto mencari air dan Aku membongkar tenda dan packing barang.

Makan pagi pun dihidangkan, menu pagi ini adalah…Nasi dengan Sarden dan Abon sapi bersanding dengan Roti isi Kornet dan Keju, serta Mie daging tuna. Minumnya teh Panas, Jahe dan Kopi Item untuk meningkatkan stamina…huufhh Super sekali makanan pagi ini, sengaja hal ini kami lakukan karena menurut kami hari ini akan jadi perjalanan yang teramat amat melelahkan.
Tubuh kembali sempurna, barang pun siap dibawa serta perbekalan penunjangnya, sebelum melanjutkan perjalanan tak lupa kami berdoa untuk keselamatan kami berempat agar sampai ke tempat Tujuan.

PUKUL 09.00 – 10.40 WIB
Cuaca Merbabu Pagi ini teramat Cerah, tidak ada awan mendung dan kabut yang melintas pagi ini..kami pun bergerak meninggalkan POS II dengan mengikuti jalur yang benar, Formasi masih sama Aku didepan advance dengan membawakan Kerilnya Cholid (ternyata beratnya tidak berkurang sedikitpun dari hari sebelumnya..heran) dan Uphey di belakang Uphey sebagai penyapu.

Pukul 10.20 kami sampai di pertigaan Pintu angin Pos III Helipad…wow Luar biasa, pantas aja dinamakan pintu angin…Anginnya itu loh..kalau kita berdiri tegak pasti terhempat apabila tidak bersandar batu, dinginya angin juga menembus kulitku yang hanya menggunakan kaos tipis. Di pintu angin cuaca masih cerah hanya anginnya saja yang kencang sekali, kami pun menurunkan keril dan membungkus tubuh kami dengan keril dimana sebelumnya kami sempat berfoto foto di situ.



pertigaan pintu angin
View dilihat dari pertigaan pintu angin
Di pintu angin ini kami mencoba menganalisa kembali perjalanan kemaren, Subhanallah betapa indahnya skrenario Allah ini…bayangkan kalau saja Allah tidak sasarkan kami kemaren sore disaat hujan kabut, tentu saja pasti sesuatu yang teramat buruk akan menimpa kami jika ternyata sampai di pintu angin ini malam hari hujan dan berkabut…brrrrrrrrrr…sudah kutakar betapa akan jadi bencana buat kami berempat. Sambil menahan derpaan angin yang sangat kencang dan dingin kami  berempat segera menggunakan jaket untuk menjaga tubuh kami agar tetap sehat.

Setelah menggunakan jacket, kami berunding…jalur mana yang harus kami ambil, sedang kan kami tidak tahu kemanakah arah jalur turun Selo. Dari pada salah akhirnya kuputuskan untuk Pendaki Puncak 1 TOWER, karena disana kulihat ada beberapa pendaki yang sedang beristirahat terlihat dari jaket merahnya melambai lambai tertiup angin hanya untuk bertanya kemanakah jalur yang harus diambil bila ingin melalui SELO…


Puncak Tower
Pertigaan Pintu angin dilihat dari puncak Tower

20 menit berjalan memuncak sampailah kita ke puncak 1 TOWER, disana aku bertanya kepada salah seorang diantaranya soal jalur selo, beliaupun menunjukan arahnya sekaligus memberikan alternative jalur turun melewati jalur di bawah TOWER BTS ini yaitu jalur CHUNTEL…lebih cepat dan aman. Untuk menuju Selo kami harus turun lagi dari Puncak Tower lau naik lagi menuju ke PUNCAK KENTENG SONGO dan Puncak TRIANGULASI (Puncak Tertinggi Merbabu). Kira kira membutuhkan waktu sekitar 3 jam lah kalau melihat kondisi kami dengan bawaan keril yang besar besar, beliau juga memberitahukan kondisi medannya yang membutuhkan kehati hatian super extra saat melewatinya seperti  merayap, lepas keril dan sebagainya saat Melalui GEGER SAPI, PERTIGAAN PUNCAK SARIF, JEMBATAN SETAN dan ONDO RANTE…(disitu masih belum terbayang seperti apa rupa jalur tersebut.

Hmmmhh tawaran menarik, tapi karena niatan awal kami adalah selo berarti aku pun harus konsisten melalui jalur SELO…sambil Melihat jam baru menunjukan pukul 10.50 WIB, aku rasa cukup dengan target jam 14.00 sampe ke Puncak Triangulasi, karena feelingku mengatakan selepas pukul 14.00 pasti rawan Hujan, maka itu aku berharap saat di terpa hujan kami sudah berada dalam jalur penurunan Selo.

PUKUL 10.40 – 14.30
Perjalanan menuju Puncak Kenteng Songo bukan hal mudah…Ampun-ampunan kami dibuat Shock dengan jalurnya, batu cadas dan undakan tinggi yang beberapa kali kami harus melepas keril untuk menaikinya. Ditambah Angin Kabut yang kencang sekali membuat dingin pipiku ini….Sebenarnya bila dilakukan perlahan bisa begitu mudah dalam memanjat jalur menuju puncak Kenteng songo, Namun yang jadi permasalahannya adalah Keril yang menjadi beban dan menjadikan pendakian teramat sulit.

Menuju simpang puncak sarif


Hampir semua pendaki yang naik ke puncak sarif pada hari itu tidak ada yang menggunakan keril…rata2 daypack dan jacket saja…merka kebanyak buka tenda di Pos II, lalu menggapai puncak tanpa keril kemudian turun kembali ke tenda di Pos II. Tapi apa yang terjadi dengan kami tidaklah demikian karena kami harus melitasi itu semua untuk menuju jalur kami turun yaitu SELO, dengan penuh perjuangan dan kenekadan buat ku saat itu aku tetap tenang dan optimis bahwa kami pasti mampu. Saat di Jembatan setan kami sempat agak Drop saat melihat jalur menuju Kenteng songo yang sangat jelas di depan mata kami dimana kami harus memanjat manjat, begitu juga di Ondo rante dimana aku melakukan bodoh manjat dengan keril dan tentu saja nyaris nyebur ke lereng. Satu satunya jalan adalah melepas keril dan estafet menaikannya keatas bergantian….huuuff…

Jembatan Setan
Ondo Rante
Ondo rante yang nguras Tenaga
Tepar Unlimited stelah melakukan perjalanan dibawah ini

Pukul 14.00 WIB kami sampai di puncak Kenteng songo dengan TEPAR kelelahan…Angin tidak mau kompromi dengan kami, aku tidak mau berlama lama di sini karena aku takut dengan Badai Merbabu yang bisa tiba2 datang begitu saja…Setelah beristirahat sejenak dan mengambil Foto di Puncak Kenteng Songo kami segera naik legi menuju Puncak Triangulasi yang hanya membutuhkan waktu 10 menit..di Puncak Triangulasi inilah kami mengambil Photo untuk terkahir kalinya.
Dipuncak ini Aku bingung dengan jalurnya, karena ada 2 cabang dipuncak ini menjadi jalur turun, dan kedua duanya melalui dua punggungan yang berbeda. Setelah melakukan orienteering kembali aku melihat di kejauhan SABANA ada pendaki yang sedang mengarah ke kami namun masih jauh jaraknya, lagi lagi menggunakan Jaket Merah. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil jalur kekiri menuju punggungan SABANA dibawahnya, karena aku yakin pasti inilah jalur SELO…dari sini CUACA sudah tidak bersahabat, kami mengambil foto untuk terakhir kalinya karena langsung dimasukan ke plastik khawatir hujan tiba2. Disitu kami menyempetkan Rehat Sejenak dengan mengisi Perut kami sebagai menu makan siang dan penambah power…karena ini penting sekali buat kami.

PUKUL 15.00 – 20.30 WIB

Di bawah adalah posisi terakhir kami makan, dan terlihat jalur turun menuju selo harus menaiki 3 bukit sabana baru bertemu dengan jalur turun.
Foto terakhir diatas...Rizal memandangi awan hitam yan mulai datang dari arah sisi kanan..sedangkan dodepan membentang bukit sabana teletubbies jalur turun menuju selo.
Dari posisi kami makan aku melihat sekepulan awan Hitam pekat dan merata sedang menuju kea rah kami dengan sekitar jarak 20 – 30 menit untuk sampai ke posisi kami, (dalam hatiku bergumam..wah jangan-jangan itu Badai Merbabu). Kecemasan dan bisik bisik suara diantara kami berempat untuk segera packing pun terlihat agak menegangkan, ternyata persis 15 menit kemudian hujan tipis pengantarnya sudah mulai membasahi kami.

Aku segera melapisi Tubuhku dengan Plastik Sampah hitam yang besar dengan di lubangi untuk bagian leher dan tangan serta bagian pantat, Lalu setelah itu kulapisi kembali dengan Raincoat. Packing pun siap, kuliaht Cholid tetap dengan sandal busanya dengan raincoat celana dan Konco batman, Koto dengan raincoatnya dan terakhir Uphey juga dengan raincoatnya. Kami kembali berdo’a untuk memulai perjalanan mengarungi Padang Sabana yang luas dan kemudian menuruni jalur Selo yang seperti Got tanah.

Hujan dengan Ritme deras pun mulai turun aku mengatur kembali formasinya dimana aku advance dan Uphey di penyapu…Deras..deras dan semakin deras hujan yang yang turun, awan hitam pekat yang jauh tadi kini sudah sampai di atasku, Aku pun mempercepat langkah untuk ngetrek mengarungi sabana namun karena terlalu terbawa suasana hujan saat turun dari kenteng songo menuju sabana aku sampai  terlupakan sejenak kalau dibelakangku ada 3 orang yang kondisinya ga bisa ngetrek….benar saja ku tengok belakang ternyata cholid dan kedua lainnya masih di ¾ jalur turun dari kenteng songo…aku pun berhenti dan mulai menunggu.

Setelah kondisi kami kembali merapat Badai pun datang…..Masya Allah anginnya besar sekali suasana Gelap dan terlihat kilatan kilatan petir di tengah-tengah sabana, aku takut sekali melihat kondisi ini karena tidak menutup kemungkinan kami tersambar petir saat berada di tengah tengah Sabana….aku pun fokus untuk menerjang badai tersebut sambil menyipitkan mata karena tajamnya Air hujan yang dibawa angin, dan serasa menusuk pipi dan badan…berjalan dan terus berjalan samapai sampai sudah tidak terdengar suara Apapun lagi kecuali tanah yang di tusuk air, suara angin rebut dan petir. Sebenernya pengalaman diterjang badai bukan kali ini saja terjadi denganku, namun untuk merasakan Badai sedahsyat ini ditengah padang sabana, disuasana yang gelap mencekam tidak ada rombongan lain lagi, dan berjalan diantara kilatan-kilatan petir yang saut sautan di depanku…khawatir sekali disambar petir..

Setelah Berjalan hamper setengah dari Sabana, aku coba tengok ke belakang ternyata…Masya Allah…siyip siyip aku lihat si Uphey,cholid, dan Koto Jauh sekali jaraknya denganku terpaut sekitar 15 menit. Disini akiu merasa sangat berdosa sekali karena hampir2 mnghiraukan mereka. Disinilah posisi terberatku, aku menunggu 3 orang temanku di dalan terpaan badai dahsyat merbabu sore itu.

Aku mencoba berjalan Maju mundur, maju 10 meter dan mundur 10 meter….ini kulakukan sambil menunggu agara ku tetap bergerak dan tetap hangat, karena aku harus menjaga suhu tubuhku. 10 menit kemudian sudah terlihat sosok si Cholid,koto dan uphey sayup sayup mendekat namun jarak mereka masih jauh dariku, dan terlihat diseret kakinya untuk berjalan. Ujian baru datang lagi, Badai gelombang ke dua sampai juga pada posisiku saat ini… Anginnya lebih kencang dari sebelumnya, hujannya juga semakin deras dan dingiiiin sekali. Aku pun mulai membaca Ayat Kursi dan Do’a Nabi Yunus saat ditelan Ikan Paus disertai zikir atmatsurat berulang ulang…entah bagaimana aku menceritakannya, saat itu aku mengalami rasa takut oleh alam yg lumayan berasa sampai kedalam qolbu akan kebesaran Allah ini. Badai Gelombang kedua ini sangat hebat sekali, posisiku masih sendirian saat itu di tengah sabana aku coba berteriak namun suara sudah sama sekali tertiup oleh angin…semakin keras aku melagalkan surat dan do’a karena dinginnya angin badai itu bibir dan pipiku membeku keram sampaiga bisa lagi digerakan karena otot yang mengeras di sekitar pipi sampai bibir sampai disini aku tidak bisa berbicara dengan membuka mulut lebar lagi…..Alhamdulillah Cholid,koto dan uphey sampai pada posisiku berdiri ini…Cholid jalannya diseret karena ternyata saat menuni turuna menuju sabana tadi dia terjatuh, tumit, telapak tangan dan lengan atasnya terkilir. Disitu kami saling berteriak namun apa yang diteriakan cuma sayup sayup terdengar karena badai gelombang ini, denga isyarat tangan akhirnya kami kembali merubah formasi, uphey advance bersama Koto dan Cholid bersamaku dengan aku dibelakang sebagai penyapu. Perjalanan dilanjutkan, karena tajamnya air hujan yang turun akhirnya kami berjalan mundur membelakangi angin pelan pelan, sesekali kami juntai karena terpaan angin yang mendorong keril kami, terus kami bergerak menyusuri sabana dengan kilatan kilatan petirnya sambil berzikir. Aku sangat berharap bertemu hutan dan mengakhiri sabana, karena dengan bertemu pohonan angin menjadi relative lebih ringan ketimbang di tengah sabana.

Jam pun menunjukan pukul 17.30, Alhamdulillah kami sudah memasuki ujung dari sabana…tapi diluar dugaan ujungnya ternyata tidak langsung bertemu vegetasi melainkan selokan selokan air tanah licin dan terjal. Benar saja Jungkir balik kami menuruni jalur ini habis habisan, Aku dan uphey masih bisa mengimbangi jalur karena sepatu botsku dan fisik yang masih relative fit dan badan lebih kering sedikit karena kupakai pelapis plastik sampah tadi, sedangkan uphey menggunakan sepatu dan fisik yang masih fit juga . Namun tidak begitu dengan Cholid dan koto yang habis habisan badannya dan cedera di beberapa bagian tubuhnya, cholid sampai Pos batu tulis harus merosot ngesot melepas sendalnya karena tidak kuat telapak kakinya menahan beban lagi dan telapak tangannya menopang beban tubuhnya saat menuruni undakan…kondisinya payah sekali, selain itu raincoat jas dan celananya pun sobek karena banyak terjatuh dan terseret.

Dibelakang hanya aku berdua dan cholid..pelaaan sekali kami bergerak maju, aku sabar dan terus membantu cholid menuruni setiap undakan selokan turun. Sesekali Cholid berteriak tidak sanggup,…ngga kuat….namun teriakan itu tidak aku hiraukan karena aku tau siapa cholid, sahabatku yang satu ini biasanya pandai mengelola mental namun aku mengerti apa yang saat itu yang sedang dia rasakan. Berkali kali aku coba menukar sepatuku dan perlengkapanku ke dia agar dia lebih nyaman tapi cholid selalu menolak……Dia beralasan agar aku harus tetap menjaga fisik dan suhu tubuhku, karena kalau aku juga babak belur maka, ketika didepan nanti ada suatu musibah terjadi, tidak ada lagi yang diandalkan untuk mencari bantuan evakuasi. Karena saat itu kami sadar bahwa jalur ini masih panjang banget untuk sampai ke bawah….saat itu fisikku dan uphey memang sedikit lebih baik dan masih merasa sehat untuk melakukan perjalanan satu malam lagi….Di selokan selokan ini kami bertemu dengan Nisan bertuliskan In MEMORIAM Heri Susanto, wow ternyata Disinilah lokasi Heri Susanto tewas saat naik ke atas lewat jalur ini. Dari sini kami semakin berhati hati menuruni jalur licin curam ini.

Hujan masih turun namun tidak begitu deras..Gubraak Cholid jatuh lagi…bangun dan jatuh lagi….kembali dia berteriak Gus, gw ngga Kuaaat, bener bener dah ga sanggup, sambil duduk dia mengucapkan lagi sambil melihat kedepan jalur yang dah gelap dan sudah mulai menyalakan senter. Disitu aku berkata sama cholid, “Saat ini bro cumin MENTAL yang bisa membawa lo ke kehidupan selanjutnya…Cuman mental yang bisa bawa lo untuk istirahat didepan sana..!! bukan botol air minum ini, bukan sisa makanan yang ada di keril ini…Mental bro..mental !!  Sesakit apapun seancur apapun kaki ma tangan lo sekarang lo harus tetep gerak maju jangan diem disini, Gw ga bakalan ninggalin lo, asal lo punya tekad untuk bergerak dan dangan kecut mental lo itu trus lo ikutin untuk tetep diem disini bro…”

Disini hanya ada aku dan cholid, sedangkan Uphey dan cholid sudah tidak terlihat karena berjalan terus didepan, cukup lumayan jarak antara aku dan uphey……Alhamdulillah beberapa saat Cholid berdiri lagi tanpa bicara dan mulai bergerak, dan aku pun tidak lagi bertanya dan berkata kata lagi kepadanya, di depan dia mulai menyerahkan botol air 1 liter kepadaku…kubilang “ Buang aja”,  botol botol yang ada di tasku pun kubuang, aku hanya menyisakan botol kecil dengan air yang terisi setengah. Air2 itu tadinya disiapkan karena Jalur selo ini tidak ada sumber air, tp di tengah perjalanan malah jadi petaka beban buat ku dan cholid. Penurunan ini tidak membuat kami haus, karena motivasi kami adalah cepat sampai jadi rasa haus itu seolah tidak pernah terlintas lagi…toh kalaupun kami haus, banyak kubangan2 air hujan yang tersisa di kiri kanan jalur kami turun. Aku dan cholid terus bergerak tanpa suara, sambil memegang senter kuterangi jalannya dia, cholid sudah tidak bisa tangannya untuk memegang senter, sambil berjalan didepan aku kembali bertemu uphey yang sedang beristirahat kedinginan bersama koto..dan akhirnya kami kembali berjalan beriringan sambil saling menyoroti senter.

Jalur selo ini memang kelewat panjang, dalam kegelapan malam kami terus berjalan namun rasanya tetap saja masih berada di ketinggian, ngga ada tanda tanda mendekat ke perkebunan atau desa. Jalanannya seperti itu terus, persis seperti Jalur Salak via Cimelati…ngga ada habisnya. Menjadi penyapu itu memang luar biasa capenya, pelan sekali aku mengiringi cholid dibelakangnya lambat laun kejenuhan dan drop tubuh mulai menggerogoti…tulang belikat bahu rasanya seperti sedikit lagi akan lepas dari engselnya karena beban keril yang semakin berat, jari jari kaki sudah melepuh karena lecet beradu dengan sepatu Uphey pun mulai terserang dengkulnya, sementara aku nyeri hebat di bahu akibat beban keril cholid dan daypack didepanku making a tertahankan rasanya. Namun apapun yang terjadi pokoknya harus tetap bergerak. Kami sudah melewati Pos II dimana sebelumnya pos pos yang kami lewati tidak begitu kami hiraukan, hebatnya Pos II menuju Pos I ini panjang sekali jalurnya, mungkin karena kami dah lelah kali ya atau memang semua pendaki yang lewat jalur selo ini sepakat kalau pos I sampe ke pos II ini terlalu panjang. Perjalanan dari pos II ke Pos I ini seperti mayat berjalan, hening tanpa suara....aku sendiri merasakan berjalan seperti mimpi, pikiran ini kemana  mana membayangkan segala hal namun kaki trus melangkah tertatih tatih. dan ternyata yang lain juga merasakan seperti ini, berjalanan sambil melamun..kami dah tidak menghiraukan gelap, lubang, jarak yang masih jauh, rasa sakit...yang ada hanya jalan..jalan..dan terus berjalan...Mungkin dalam posisi seperti ini kalau saja naas mudah sekali untuk kerasukan jin hutan atau dibuat berputar putar oleh halusinasi.

Pukul 20.30-22.00 WIB
Hujan masih berlangsung, Alhamdulillah ditengah lamunanku sambil berjalan, dalam kejauhan aku bisa melihat aspal dan rumah penduduk…segera ku mempercepat langkah untuk mencapainya tentunya mencari basecamp untuk singgah dan merecovery semua anggota tubuhku. Singgahlah kami di Basecamp Pak Narto/kang Bari, sepi sekali memang momen pendakian selo pada hari ini hanya kami yang melaluinya…pantesan aja gada satupun manusia pas pasan selama turun. Kulepaskan semua isi Keril dan daypack dengan kondisi yang berantakan,  di basecamp kami disambut dengan ramah oleh kang bari dan istrinya malam itu. Kami pun brgantian ke kamar mandi dan salin pakaian selanjutnya adalah duduk di Kompor Pawon yang hangat menunggu si Ibu membuatkan masakan untuk makan malam dengan wedang teh panas sambil kami bercerita mereview perjalanan turun tadi. Selepas melahap santap malam, kami langsung, mengobati luka, minum obat obatan dan bedress total karena besok kami akan bergegas langsung ke Jakarta.

Senin 05.00-10.00 WIB
Setelah Sholat shubuh, sambil menanti pagi Uphey memutar kembali video dan dokumentasi perjalanan kami, dan tak lama kemudian, susu, kopi, dan teh panas dengan Indomie telor panas dating kejadapan kami. Menu pembuka sebelum sarapan pagi. Dari situ kondisi tubuh kami jauh lebih baik dari kemaren sore…seger kurapihkan isi keril, kujemur di depan Basecamp sampe kering dan berjalan jalan di sekitar basecamp melihat pemandangan merapi yang tampak cerah pada pagi ini.
Basecamp Pak Narto/Kang Bari..
Mobil carteran menuju yogya
Setelah itu kami pun menghubungi Kang Bari untuk mencarter Mobil agar bisa mengantarkan kami sampai ke Yogyakarta tepatnya kembali ke Basecamp Raga Tantra untuk Transit sambil Hunting Mencari Tiket pulang Kejakarta. Mobil pun didapat dengan ongkos 250rb sampe ke basecamp yogya…Akhirnya jam 10.00 wib kami berpamitan dan meluncur ke yogya.

PUKUL 01.00 – 19.00 WIB
Sampai juga di Basecamp Raga Tantra, setelah beristirahat sejenak aku meminjam motor Mas Raga utntuk mencari tiket kejakarta. Dengan 2 motor kami keseluruh penjuru yogya demi mendapatkan ticket, dari Stasiun lempuyangan, Stasiun Tugu, Travel & Carteran, Terminal Jobor, Terminal Giwangan, semuanya Ludes untuk hari itu. Kepikir untuk mencari Calo, stetlah bertemu dan negosiasi harga ternyata mentah…calo minta 2x lipat harga tiket ekonomi gajah wong, tentu saja tidak kami ambil…akhirnya dengan sedikit mengalah kami pun membeli karcis Bus dari terminal Giwangan untuk keberangkatan selasa sore.
Huuffhhh….perlu satu malam dan satu hari lagi di yogya, momen ini kumanfaatkan untuk melepas lelah refreshing sejenak untuk menikmati Yogyakarta dengan Gudeg Yu Djum nya, dan membeli sedikit tentengan pasar khas yognya seperti batik beringharjonya, malioboro dengan bapia patok 25nya,dan menghabiskan malam dengan menikmati Kopi Joss dan menu angkringan di stasiun tugu….
Night Malioboro

Kopi Joss ada areng nya didalem
Selasa 18.00 dan Rabu 08.00 WIB
Kami berempat mulai meninggalkan Yogya dan cerita merbabu yang akan menjadi bagian dari catatan perjalanan hidup kami di alam bebas…Sampai akhirnya kami berpisah Terminal Kampung Rambutan Rabu paginya dan kembali ke tempat bisnis masing masing untuk menjalankan aktivitas normal seperti biasanya….
Entah kapan lagi aku bisa melakukan perjalanan dengan orang yang sama…walaupun sudah ada semangat dari ketiga temanku menawarkan diri ikut ke trip trip selanjutnya perjalanan naik bersamaku lagi berikutnya…

Depok, Januari 2012
True Story


2 komentar:

  1. Subhanallaah....luar biasa phisik dan kekompakan dan semangatnya.....salam kenal, kapan mau nanjak lagi, boleh ikut gabung ? ?.......

    BalasHapus
  2. dengan senang hati mas.....perjalanan kami rutin kok pendakiannya, btw trims dah mampir di blogg saya

    BalasHapus

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Popular Posts

agusonpapers. Diberdayakan oleh Blogger.