Syaikh Umar Tilmisani Sang Da'i dan Murobbi


Anwar Sadat terkejut dan gementar, kemudian meminta agar Ustadz Umar Tilmisani menarik kembali pengaduannya.......Syaikh Umar mengadu kepada Allah SWT...
 “Siapapun yang berlaku zalim kepadaku, maka biasanya saya adukan kepada Anda.  Karena Anda rujukan tertinggi – setelah Allah Ta’ala – buat orang-orang yang mengadu. Sekarang, kezaliman itu datang dari Anda, karena itu saya adukan Anda kepada Allah Ta’ala !”

Mursyid ‘Aam III Ikhwanul Muslimin, 1322 – 1406 H/1904 – 1986 M
Syaikh Umar Tilmisani adalah salah seorang dari tokoh-tokoh da’i dan murobbi.  Nama lengkapnya Ustadz Umar Abdul Fattah bin Abdul Qadir Musthafa Tilmisani.  Beliau pernah menjabat sebagai Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin setelah wafatnya Mursyid ‘Aam kedua, Hasan Hudhaibi pada bulan November 1973.

MASA KECIL SYAIKH UMAR TILMISANI
Asal-usulnya kembali kepada wilayah Tilmisani di al-Jazaair. Lahir di kota Kairo pada tahun 1322 Hijriah, atau 1904 Masehi, di jalan Hausy Qadim di Al-Ghauriah. Kakek dan ayahnya bekerja sebagai pedagang pakaian dan batu mulia. Kakeknya adalah seorang salafi yang banyak mencetak buku-buku karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab. Karena itu ia tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari bid’ah.
Syeikh Umar Tilmisani belajar di Sekolah Ibtidaiyyah Jam’iyyah Khaeriyah, lalu melanjutkan di Sekolah Tsanawiyah al-Hilmiyah. Setelah itu, ia kuliah di Fakultas Hukum. Setelah menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1933, ia kemudian menyewa sebuah kantor advokat di jalan Syabiin al-Qanathir, dan bergabung dengan jamaah Ikhwanul Muslimin.
Ustadz Tilmisani adalah pengacara pertama yang bergabung dengan Ikhwan. Di sinilah ia mengerahkan usaha dan pikirannya demi membela jamaah ini. Ia juga adalah orang terdekat Imam Syahid yang kerap menemani beliau dalam perjalanan yang dilakukannya di wilayah Mesir atau di luar negeri. Imam Syahid juga sering meminta bantuan kepadanya dalam berbaga perkara.

Ustadz Umar Tilmisani menikah saat masih duduk di Sekolah Tsanawiyah Negeri, dan Istrinya wafat pada bulan Agustus 1979 setelah hidup bersamanya lebih dari setengah abad. Mereka dikarunia empat orang anak; Abid dan Abdul Fattah, serta dua orang anak perempuan.
Pekerjaan beliau sebagai pengacara tidak membuatnya lupa memperkaya dirinya dengan wawasan keislaman. Karena itu, ia banyak membaca dan menelaah berbagai jenis buku, seperti tafsir, hadits, fikih, sirah, sejarah dan biografi. Ia juga mengikuti dengan seksama berbagai konspirasi dan strategi musuh-musuh Islam di dalam dan luar Mesir, mengamati, mempelajari, menentukan caranya bersikap, cara menghadapinya dengan bijak dan nasehat yang baik. Ia juga berusaha menangkal propaganda yang mereka tiupkan, mendustakan ucapan-ucapannya, dan menepis kecurigaan mereka dengan sikap seorang mukmin penuh percaya diri yang mengetahui keunggulan yang dimilikinya, dan kelemahan yang ada pada lawan-lawannya. Bahwa tidak ada selain Allah yang dapat menolong, dan tak ada agama lain kecuali Islam.
Saya mengenalnya saat pertama kali tiba di Mesir untuk kuliah pada tahun 1369, bertepatan dengan tahun 1939, dimana kami bertemu dengan para tokoh dan petinggi Ikhwan setelah syahidnya Imam Hasan al-Banna, dan sebelum pemilihan mursyid kedua, ustadz Hasan al-Hudhaebi. Disana kami mendengar nasehat dan arahan yang disampaikan para tokoh Ikhwan.
Kami juga dapat merasakan kesopan-santunan ustadz Umar, kerendahan hatinya dan kasih sayangnya terhadap Ikhwan, khusunya para pemuda yang di dalam jiwa mereka bergelora semangat membara untuk segera memetik buah yang mereka tanam. Mereka juga berusaha melakukan pembalasan atas kezaliman yang terjadi atas diri Ikhwan. Namun ustadz Umar Tilmisani berwasiat agar mereka tetap bersabar, teguh pendirian, santun, tenang dan senantiasa mengharap pahala dan ganjaran Allah Azza wa Jalla.

KOMITMEN DIRI SYAIKH UMAR TILMISANI
Syaikh Umar Tilmisani meninggalkan kesan positif pada setiap orang yang mengenal dan berhubungan dengannya.  Beliau dikaruniai kejernihan hati, kebersihan jiwa, kehalusan ucapan, keindahan ungkapan yang keluar dari lisannya, lidah yang fasih dengan teknik berdebat dan dialog yang sangat tersusun.  Beiau menceritakan tentang dirinya : “Karena itu saya tidak bermusuhan dengan siapapun, kecuali dalam rangka membela kebenaran atau mengajak menerapkan Kitabullah.  Kalaupun ada permusuhan, maka itu berasal dari pihak mereka, bukan dariku.  Saya bersumpah untuk tidak menyakiti seorangpun dengan kata-kata kasar, meskipun tidak setuju dengan kebijakannya atau bahkan dia menyakitiku.  Karena itu, tidak pernah terjadi permusuhan antara diriku dengan seseorang karena masalah pribadi”.
Tidak berlebihan kalau disimpulkan bahwa siapapun yang keluar dari majelisnya pasti mengagumi, menghormati, dan mencintai da’i unik yang menjadi murid Imam Hasan Al-Banna ini.  Da’i yang lulus dari madrasah Ikhwan, bergabung dengan jama’ahnya sebagai da’i yang tulus dan ikhlas.

AKHLAK DAN SIFAT SYAIKH UMAR TILMISANI
Syaikh Umar Tilmisani sangat pemalu, seperti diketahui orang-orang yang mengenalnya dari dekat.  Orang yang sering duduk dan berdialog dengan Syaikh Umar Tilmisani merasakan betapa keras dan lamanya ujian yang beliau alami di penjara, malah mensterilkan dirinya sehingga tiada tempat di dalam dirinya kecuali kebenaran.  Beliau mendekam di penjara selama hampir dua puluh tahun.  Beliau masuk penjara pada tahun 1948 dan masuk lagi pada tahun 1954.  Penguasa Mesir memenjarakannya untuk ketiga kalinya tahun 1981.  Namun ujian-ujian itu tidak mempengaruhi dirinya, bahkan justru menambah ketegasan dan ketegarannya.
Dalam wawancara dengan majalah Al-Yamamah Arab Saudi edisi 14 Januari 1982, Syaikh Umar Tilmisani berkata, “Tabiat yang membesarkanku membuatku benci kekerasan, apapun bentuknya.  Ini bukan hanya sekedar sikap politik, tapi sikap pribadi yang terkait dengan struktur keberadaanku.  Bahkan, andai dizalimi, saya tidak akan menggunakan kekerasan.  Mungkin saya menggunakan kekuatan untuk mengadakan perubahan, tetapi tidak untuk kekerasan.”

SURAT UNTUK PRESIDEN
Dalam surat terbuka untuk Presiden Mesir yang dimuat dalam surat kabar Asy-Sya’ab Al-Qahiriyyah edisi 14 Mei 1986, Syaikh Umar Tilmisani berkata, “Wahai Presiden Yang Mulia, yang terpenting bagi kami, kaum muslimin Mesir adalah menjadi bangsa yang aman, stabil dan tenang di bawah naungan syari’at Allah Ta’ala.  Sebab kemaslahatan umat ini terletak pada penerapan syari’at-Nya.  Tidak berlebihan bila saya katakan, bahwa penerapan syari’at Allah Ta’ala di Mesir akan menjadi pembuka kebaikan bagi seluruh wilayahnya.  Dengan itulah, penguasa dan seluruh rakyat mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan.”

NASEHAT-NASEHAT SYAIKH UMAR TILMISANI
Dalam untaian nasehat yang disampaikan kepada generasi muda Ikhwan, Syaikh Umar Tilmisani berkata, “Tantangan yang dialami da’i sangat berat dan sukar.  Kekuatan material berada di tengah-tengah musuh-musuh Islam yang bersatu untuk memerangi umat Islam, meskipun mereka memiliki kepentingan yang berbeda.  Jama’ah Ikhwanul Muslimin sekarang menjadi sasaran tembak mereka.
Menurut logika dan akal manusia, pasukan Thalut yang beriman tidak mampu melawan Jalut dan tentaranya.  Tetapi, ketika pasukan kaum mukmin yakin kemenangan itu datang dari Allah Ta’ala, bukan hanya bergantung pada jumlah pasukan dan kelengkapan persenjataan, maka mereka dapat mengalahkan Jalut dengan izin Allah Ta’ala.
Saya tidak meremehkan kekuatan pribadi, juga tidak meminta da’i selalu membisu, zikir dengan menggerakkan leher ke kanan dan ke kiri, memukulkan telapak tangan dan menengadahkan dagu, karena itu semua bencana yang membahayakan dan mematikan.  Sesungguhnya yang saya inginkan ialah berpegang teguh dengan wahyu Allah Ta’ala, berjihad dengan kalimat yang benar, tidak menghiraukan gangguan, menjadikan diri sebagai teladan dalam kepahlawanan, bersikap ksatria, istiqomah dan yakin bahwa Allah Ta’ala pasti menguji hamba-hamba-Nya dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, agar dapat diketahui siapa yang tulus dan siapa yang munafik.  Aspek-aspek inilah yang merupakan faktor-faktor penyebab kemenangan.  Kisah-kisah di dalam Al-Quran merupakan argumen paling baik dalam masalah ini.
Semangat pemuda yang diiringi pemahaman mendalam tidak memerlukan banyak eksperimen, tetapi sangat memerlukan kesabaran, kekuatan dan komitmen pada aturan Al-Quranul Karim, dan mengkaji sirah generasi pendahulu yang telah menerapkannya di setiap aktivitas mereka.  Itu penting, agar Allah Ta’ala mengkaruniakan kemengangan, kemuliaan dan kekuasaan yang hampir dianggap mustahil”.

ARAHAN DAN PETUNJUKNYA
Dalam rangkaian nasehat dan arahannya yang ditujukan kepada para pemuda dan penyeru dari kalangan Ikhwan, beliau berkata:
“Sesungguhnya berbagai kesulitan yang dihadapi para da’i pada saat ini sangat berat dan penuh bahaya. Kekuatan material masa kini berada di tangan musuh-musuh Islam dimana mereka bersatu untuk menyingkirkan berbagai perbedaan yang ada di tengah mereka demi memerangi kaum Muslimin, dan khususnya Ikhwanul Muslimin.”
Bila didasarkan pada pertimbangan logika manusia, pasukan Thalut yang beriman sebenarnya tidak memiliki kekuatan melawan pasukan Jalut dan balatentaranya. Namun ketika keimanan mereka meyakini bahwa kemenangan itu berasal dari sisi Allah Ta’ala dan bukan karena faktor jumlah dan bekal yang dimiliki, mereka akhirnya sanggup menghancurkan pasukan Jalut dengan izin Allah Ta’ala.
Sesungguhnya saya tidak meremehkan kekuatan dari sisi jumlah, dan juga tidak menyeru kepada para du’at agar mereka hanya berpasrah diri, berzikir hingga mulut berbusa-busa sambil menggerakkan leher-leher ke kanan dan kiri lalu menepukkan tangannya. Karena semua ini adalah bencana mematikan dan membinasakan. Tapi berpegang teguh kepada wahyu yang diturunkan oleh Allah Ta’ala, berjihad dengan kalimat yang benar secara berkesinambungan, tidak peduli berbagai gangguan, menjadikan diri sebagai tauladan dalam kepahlawanan, keteguhan dan keberanian, disertai keyakinan bahwa bahwa Allah Ta’ala akan menguji mereka dengan rasa takut, lapar, berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan agar Ia mengetahui manakah orang-orang yang jujur dan pengecut, maka semua itu sesungguhnya adalah faktor-faktor hadirnya kemenangan sesuai sunnatullah. Kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an yang mulia adalah saksi terbaik yang menunjukkan hal itu, dan mengandung pelajaran yang sangat banyak.
Adapun para pemuda yang memiliki semangat dan tekad kuat menyertai kesadaran mereka yang dalam, maka sesungguhnya mereka tidak membutuhkan banyak eksperimen. Yang mereka butuhkan adalah kesabaran dan komitmen dengan petunjuk wahyu yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw., dan kemudian dari sirah Salafushshalih yang telah terikat prilaku dan moral mereka dengannya, dan Allah Ta’ala kemudian memberikan kemenangan dan kekuasaan yang seakan mustahil untuk diraih.

ISTIQOMAH DAN KEBERANIAN SYAIKH UMAR TILMISANI
Ustadz Umar Tilmisani dikenal sebagai seorang yang tegas di dalam maupun di luar penjara.  Beliau tidak pernah tunduk pada ancaman atau intimidasi.  Beliau juga dikenal sebagai seorang yang zuhud, ‘iffah (menjaga kehormatan), hanya takut kepada Allah Ta’ala dan selalu mengharap ridho-Nya. 
Syaikh Umar Tilmisani berkata, “Saya tidak pernah takut kepada siapapun selama hidupku, kecuali kepada Allah Ta’ala.  Tidak ada yang dapat menghalangiku mengucapkan kebenaran yang saya yakini, meskipun orang lain merasa berat dan saya mendapatkan kesusahan karenanya.  Saya katakan apa yang saya yakini dengan tenang, mantap dan sopan, agar tidak menyakiti pendengar atau melukai perasaannya.  Saya juga berusaha menjauhi kata-kata yang mungkin tidak disukai lawan bicaraku.  Dengan cara seperti itu, saya mendapatkan ketenangan jiwa.  Andai cara ini tidak dapat merekrut banyat kawan, maka berdiam diri menjagaku dari kejahatan lawan.”
Sikap tulus dalam ucapan, serius bekerja, berani menghadapi persoalan, istiqomah dan teguh menghadapi tantangan dari dalam maupun dari luar adalah ciri khas Ustadz Umar Tilmisani.  Dalam dialog terbuka di kota Ismai’iliyah yang dihadiri Ustadz Umar Tilmisani dan disiarkan langsung di radio dan TV, Presiden Anwar Sadat menuduh jama’ah Ikhwanul Muslimin sebagai dalang dari fitnah Sekretariat.  Anwar Sadat juga melontarkan tuduhan palsu lainnya kepada Ikhwan.  Tidak ada pilihan bagi Ustadz Tilmisani kecuali berdiri menjawab tuduhan Anwar Sadat, “Siapapun yang berlaku zalim kepadaku, maka biasanya saya adukan kepada Anda.  Karena Anda rujukan tertinggi – setelah Allah Ta’ala – buat orang-orang yang mengadu. Sekarang, kezaliman itu datang dari Anda, karena itu saya adukan Anda kepada Allah Ta’ala !”.
Mendengar itu semua, Anwar Sadat terkejut dan gementar, kemudian meminta agar Ustadz Umar Tilmisani menarik kembali pengaduannya. Ustadz Tilmisani menjawab dengan tegas, sopan, dan menegaskan, "Saya tidak mengadukan Anda kepada pihak yang zalim, tapi kepada Zat Yang Maha Adil. Dialah yang mengetahui segala yang saya katakan!"

Gaya Hidup Syaikh Umar Tilmisani
Gaya menawan dalam dialog yang mewarnai setiap tindakan Syaikh Umar Tilmisani bukanlah tindakan yang dibuat-buat. Itulah ciri khas yang melekat pada ucapan, perilaku, akhlak, dan interaksinya; baik dengan individu, jamaah,pemimpin, penguasa, dan majoriti manusia, tanpa membeda-bedakan orang kecil atau orang besar, orang miskin atau orang kaya. Syaikh Umar Tilmisani sangat meyakini prinsip Ikhwanul Muslimin yang diambil dari Al-Qur'an, As-Sunah, dan ijma’ para ulama’.

Jamaah Syaikh Umar Tilmisani
Syaikh Umar Tilmisani berpendapat, Jamaah Ikhwanul Muslimin adalah gerakan Islam yang tulus dan murni. Syaikh Umar Tilmisani berkata, "Orang yang menghayati langkah-langkah Ikhwanul Muslimin, semenjak berdirinya pada tahun 1347 H./I928 hingga hari ini, tidak akan menjumpai sesuatu pun kecuali serangkaian pengorbanan berkesinambungan untuk menegakkan aqidah, potensi optimum yang produktif di semua sektor kegiatan sosial, berupaya mengukuhkan ikatan persaudaraan antara berbagai-bagai bangsa muslim, dan usaha menyebarkan perdamaian di seluruh negara.
Ikhwanul Muslimin diperangi berbagai aliran; baik dari dalam maupun luar negeri.
Meskipun demikian, Ikhwanul Muslimin tidak pernah sekali-kali berusaha menyebarkan fitnah, memecah-belah persatuan, menghancurkan lembaga-lembaga lain, berdebat secara anarkis, atau menbuat fitnah untuk menjatuhkan seseorang."
Ciri khas lain Syaikh Umar Tilmisani ialah menyejukkan, membangunkan semangat, dan dasar interaksinya yang setia, meskipun terhadap orang yang tidak pernah mau sepakat, bahkan memerangi Ikhwanul Muslimin. Syaikh Umar Tilmisani berwasiat, "Muslim tidak mengenal istilah 'agama milik Allah dan tanah air milik semua orang." Setiap muslim meyakini segala yang ada di alam ini milik Allah Ta'ala semata. Siapa yang berusaha mengubah makna ini merupakan penipu yang ingin merampas sumber kekuatan negara, agar mudah dikhianati. Orang muslim tidak mengenal pemisahan
antara agama dan negara. Mereka yakin sepenuhnya pemerintah tidak mempunyai hak
bersama Allah Ta'ala., sebab apabila diyakini pemerintah mempunyai hak bersama Allah Ta 'ala, maka pemerintah menjadi sekutu bagi-Nya. Sedang muslim tidak mengakui kemusyrikan dalam bentuk apa pun."

Sifat Zuhud, Tawadhu, dan Sederhana Syaikh Umar Tilmisani
Ustadz Umar Tilmisani adalah dai, murabi, dan pemimpin yang hidup secara tulus dengan Allah Ta 'ala, berjuang untuk menegakkan agama-Nya, aktif dalam dunia dakwah, bersabar, selalu meningkatkan kesabaran, berjaga, berjihad, berpegang teguh pada tali agama Allah Ta'ala yang kokoh, dan bekerjasama dengan mujahid yang tulus, baik ketika menjadi perajurit atau pemimpin, di penjara atau di luar penjara. 
Beliau tidak pernah mengubah sikap, pembohong, menyimpang, tamak terhadap keindahan dunia dan kekuasaan. Beliau meninggalkan kehidupan yang penuh dengan bunga-bunga dunia, untuk menghadap Allah Ta 'ala.Beliau tinggal di apartment yang sangat sederhana dan bersyukur dengan hidupnya, tanpa memaksakan diri. Saya (penulis artikel ini-Red) sedih hingga air mataku ingin keluar membasahi pipi, tapi saya berusaha menahannya karena khuatir beliau menyadarinya. Apalah artinya kita jika dibandingkan dengan orang-orang yang telah dibebaskan imannya dari penyakit cinta dunia, dan mengorbankan apa saja untuk memperjuangkan agama! Apartment Syaikh Umar Tilmisani berada di lorong sempit Komplek Al-Mulaiji Asy-Sya'biyah AI-Qadimah, wilayah Ath-Thahir Kairo. Tangga menuju ke kediamannya sudah tua dan usang, dan perabotnya sangat sederhana. Padahal beliau berasal dari keluarga yang kaya-raya dan berstatus tinggi. Ini semua mencerminkan kezuhudan, kesederhanaan, dan ketawadhuannya. Syaikh Umar Tilmisani dicintai pemuka masyarakat Mesir di semua lapisan. Orang-orang Qibthi juga mencintai dan menghormatinya. Bahkan ahli kerajaan pun amat menyeganinya dan mengakui sifat-sifat mulianya.
Seluruh anggota Ikhwanul Muslimin menganggapnya sebagai contoh teladan, berlomba-lomba untuk menimba ilmunya, dan berebut untuk melaksanakan seruannya. Ini karena cinta kepada Allah Ta 'ala merupakan landasan interaksi mereka, penerapan syariatNya merupakan target mereka, dan keredhaanNya tujuan mereka.
Kunjungan Syaikh Umar Tilmisani ke berbagai negara Islam; baik Arab maupun non-Arab, dan kaum muslimin di tempat pengasingan, adalah penglipur lara luka-luka
umat, sekaligus memberi bimbingan untuk kaum muslimin dalam melakukan apa yang
seharusnya dilakukan untuk agama, umat, dan tanah air mereka. Seluruh kajian, ceramah, dialog, nasihat, bimbingan, dan ucapan Syaikh Umar Tilmisani memberi motivasi kepada umat, terutama para pemuda, intelektual, dan golongan ulama, agar memikul tanggungjawab dan menunaikan peranan dalam mengembalikan kejayaan Islam, sesuai dengan posisi dan bakat masing-masing. Inilah tugas dai di setiap masa dan tempat, sebab inilah risalah yang dibawa oleh para rasul yang diwariskan kepada ulama, aktivis pergerakan, dai yang tulus, dan kaum mukminin yang ikhlas.

Karya-Karya Syaikh Umar Tilmisani
Ustadz Umar Tilmisani menyumbangkan khazanah pemikiran Islam menerusi beberapa karya tulisan dalam beberapa tema. Antara karyanya yang paling terkenal ialah:
1. Syahidul Mihrab 'Umar Ibnu Al-Khathab.
2. Al-Khuruj Minal Ma'zaqil Islamir Rahin.
3. Al-Islamu wal Hukumatud Diniyah.
4. Al-Islamu wal Hayah.
5. Araa Fid Din Was Siyasah.
6. Al-Mulhimul Mauhub Hasanul Banna;Ustadzul Jil.
7. Haula Risalah (Nahwan Nur).
8. Dzikrayat La Mudzakkirat.
9. Al-Islam wa Nazhratuhus Samiyab Lil Mar'ah.
10. Ba'dhu Ma 'Allamanil Ikhwanul Muslimun.
11. Qalan Nasu Walam Aqulfi Hukmi 'AbdinNasir.
12. Ayyam Ma'as Sadat.
13. Min Fiqhil I'lamil Islami.
14. Min Sifatil 'Abidin.
15. Ya Hukkamal Muslimin, Ala Takhafunallah?.
16. Fi Riyadhit Tauhid.
17. La Nakhafus Salam, Walakin.

Ditambah lagi karya tulisan berupa pengantar redaksi didalam majalah Ad-Dakwah Al-Qahiriyah, makalah tentang persoalan Islam yang dimuat dalam berbagai majalah dan surat khabar, ceramah di seminar; baik di negara-negara Arab, Islam, maupun Barat, kajian, dan bimbingan yang disampaikan dalam program-program Ikhwan.

Komentar Umum tentang Syaikh Umar Tilmisani
Dalam bukunya, 'Umar Tilmisani Al-Mursyid Ats-Tsalis Lit Ikhwan Al-Muslimun, Ustadz Muhammad Said Abdur Rahim menyatakan, " Thaghut (penguasa zalim; Abdun Naser) meninggal dunia, lalu para tahanan yang meringkuk di dalam penjara selama bertahun-tahun dikeluarkan, Ujian yang menimpa mengukuhkan jiwa, dan menguatkan tekad mereka. Fisik mereka memang menjadi lemah, tetapi ruh mereka semakin rindu
kepada apa yang ada di sisi Allah Ta 'ala dan menganggap dunia tidak ada artinya. Bahkan, ketakutan hilang dari hati mereka. Mereka keluar dari penjara menjadi manusia yang istiqomah dan kukuh, laksana gunung-ganang karena di penjara mereka menghafal AI-Qur'anul Karim dan menimba ilmu. Dalam penjara, mereka berjaya
menundukkan syahwat dan mengenal watak asli manusia. Benar, penjara menjadi madrasah dan guru yang memberi lebih banyak kepada mereka, daripada yang diminta dari mereka.
Di antara orang yang keluar dari penjara ialah Ustadz Umar Tilmisani. Allah Ta 'ala
menyiapkannya memimpin Jamaah pada fasa menakhodai bahtera yang sedang mengarungi gempuran badai samudra dengan bijaksana, sabar, tenang, dan lembut disertai keteguhan iman dan semangat baja.
Pada zaman kepimpinan Syaikh Umar Tilmisani, dakwah berkembang pesat melebihi
masa-masa sebelumnya. Para pemuda yang ingin tahu kepada Islam, hingga semangat
keislaman menjadi warna dominan di berbagai kampus dan persatuan, bahkan di Mesir secara keseluruhannya. Beliau mampu menakhodai bahtera secara piawai, tangkas, dan profesional. Dan hasilnya, bahtera dapat melintasi berbagai-bagai perangkap dan gelombang bahaya, hingga akhirnya tiba di pantai yang aman.
Umar Tilmisani —rahimahullah- mengalami berbagai ujian dan menghabiskan sekitar dua puluh tahun umurnya di penjara. Beliau tabah dan sabar menghadapi penyiksaan dari penjaga penjara. Meskipun mendapat siksaan keras dan perlakuan kasar dari penjaga penjara, lisannya tidak pernah bosan berzikir kepada Allah Ta 'ala dan mengajak saudara-saudaranya bersabar dan istiqomah. Bahkan, lisannya tidak
pernah mengucapkan kata-kata keji kepada penjaga penjara dan orang-orang yang
menzaliminya. Beliau menyerahkan urusan mereka kepada Allah Ta 'ala kerana Dialah sebaikbaik pihak yang diserahi.

Kembali ke Rahmatullah

Ustadz Umar Tilmisani pulang ke rahmatullah pada hari Rabu, 13 Ramadhan 1406, bersamaan dengan 22 Mei 1986 di rumah sakit, karena menderita sakit, dalam usia hampir 82 tahun.
Syaikh Umar Tilmisani disholatkan di Masjid Jami' Umar Mukarram, Cairo, dengan dihadiri pelayat yang jumlahnya mendekati seperempat juta manusia. Bahkan ada yang mengatakan setengah juta manusia dari penduduk Mesir dan utusan yang datang dari luar Mesir.
Alhamdulillah, Allah Ta'ala memberikan kesempatan padaku (penulis artikel ini-Red) untuk ikut melayat beliau bersama beberapa Ikhwan dari negara-negara Arab. Inilah biografi ringkas Ustadz Umar Tilmisani, Mursyidul Am Ketiga Ikhwanul Muslimin,
Semoga Allah Ta 'ala menerima dan memasukkannya ke dalam golongan hambahamba-Nya yang shalih, serta menyertakan kita bersama mereka di sisi-Nya.
  
QS An-Nisa 4 : 69. dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.

[314] Ialah: orang-orang yang Amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan Inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.


Risalah Tsulasa Edisi 1, 11 Rabiul Awwa 1426 H/20 April 2005 M, Terbitan Bahan Tarbiyah Online.
dakwatuna.com
ariefmu.multiply.com


0 comments:

Posting Komentar

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Popular Posts

agusonpapers. Diberdayakan oleh Blogger.