Kisah Perjalanan Mukhoyyam antara Aku dan Murobbiku


Bingung darimana harus dimulai cerita ini…yang pasti aku hanya melihat jari-jari ini terus menari diatas keyboard laptopku, mengalir dan terus mengalir tanpa kusadari memori memori melankolisku mengalirkan kisahnya dan menyalurkannya melalui  laptop ini.

Ini adalah cerita sebuah perjalanan bersama yang panjang antara aku dan murobbiku…yah aku sangat mencintai dan menghormati murobbiku, diumurnya yang tidak lagi muda dan juga tidak terlalu tua awalnya sama sekali tidak terbesit sedikitpun dalam benakku, bisa melaksanakan mukhoyam bersamanya...kenapa, karena Murobbiku memiliki riwayat  penyakit dalam yang banyak menurut penilaian orang tidak mungkin bisa melakukan aktifitas yang melelahkan, belum lagi fisik yang lemah dan kadang beberapa waktu harus bolak balik berurusan dengan Rumah Sakit untuk dirawat…apalagi untuk melaksanakan kegiatan seperti mukhoyyam. Tapi aku tidak pernah memandangnya seperti itu, taujih taujih yang keluar dari lisannya, azzam dan izzah yang terpancar dari diri beliau tidak menampakan sedikitpun kelemahan itu ada dalam tubuh beliau..
Dimulai pada 10 tahun yang lalu sekitar tahun 2003 dimana saat itu kurikulum tentang mukhoyyam menjadi perihal wajib dalam halaqoh kami…bukan mukhoyyam yang biasa diadakan oleh DPD ataupun DPC , melainkan Mukhoyyam yang khusus dilakukan oleh holaqohku. Saat itu aku ditunjuk menjadi Mas’ul  untuk urusan Mukhoyyam Liqo’at dibantu temanku Arman yang kini ia salah seorang Korsad di kota Depok. Saat itu aku sudah membuat program kecil perjalanan Mukhoyyam yang dilaksanakan setahun 2 kali dan wajib diikuti oleh seluruh anggota halaqoh kami, dan semua itu dibuat bagaimana caranya agar Murobbiku bisa senantiasa ikut dalam setiap perjalanan itu.


Mulailah kubuat perjalan kecil dahulu sebagai latihan bertahap mengikuti kondisi fisik teman2 dan khususnya Murobbiku ini.  Mukhoyyam dimulai dari  perjalanan jarak pendek namun menginap dari Curug ke Curug, lalu Jungle Tracking, Sisir Sungai,  dari yang paling ringan sampai yang kurasa cukup sulit dan panjang…seperti Curug Cilember,Curug Panjang, Curug Barong, dan Curug Luhur di Mega Mendung, Curug Cigamea dan seribu di Cibatok beralih ke Ke Curug Surken di Sukamantri, bergeser ke Curug Ciherang Diujung jonggol perbatasan dengan Cipanas dan banyak curug lainnya yang ada dikota bogor dari yang sering dikunjugi sampai ke Curug yang jarang disinggahi oleh orang.

Subhanallah..berjalan waktu tahun demi tahun dari sana aku dan teman temanku kagum atas apa yang telah di lakukan oleh Murobbiku, tidak satupun perjalanan di lewatkan olehnya, jelas sama sekali tidak nampak segala kelemahan apalagi penyakit yang ada dalam tubuhnya. Saat Mukhoyyam dilaksanakan disana kami dirajut dan di tenun hati dan ruh kami dengan ikatan dan simpul yang sangat kuat, saling mengevaluasi, menangis bermuhasabah di tengah riuh air terjun, qiyamul lail ditengah hembusan angin malam di dalam rimbunan vegetasi hutan...dan saling berpelukan untuk meminta maaf atas kekhilafan..sungguh ini adalah hal yang tidak akan didapatkan di kajian2 biasa, dimana ini adalah bagian bagaimana melekatkan pondasi ukhuwah dalam jama’ah.

Selepas 2007 mulailah perjalanan Mukhoyyam kami ditingkatkan levelnya hanya saja intensitasnya dikurangi, yang tadinya 2 kali dalam setahun kali ini hanya satu kali namun perjalanannya dibuat panjang dan berkesan. Akhirnya mulailah kupindahkan orientasi medannya yang tadinya jungle tracking atau curug to curug, kali ini adalah pendakian yang sebenarnya dan seperti biasa umumnya Gunung Gede adalah pilihan utama sebagai basic dalam pendakian. Tentu saja pilihan ini membuatku, Pak Armand an Pak Devry sangat sibuk dalam mepersiapkan perjalanan di setiap pendakian. Momen yang paling berkesan adalah pada saat Pendakian ke Gunung Gede Via jalur Salabintana pada tahun 2009 lalu, dimana pada saat itu peserta yang ikut dalam Mukhoyyam kami hampir mencapai  35orang. Karena pada saat itu ada grup Halaqoh lain yang diikut sertakan untuk ikut bersama dalam pendakian ini, menjadi hal yang rumit buatku saat itu karena pertama, rekanku Arman berhalangan karena sakit dalam pendakian ini, kedua hampir semua keseluruhan peserta adalah bapak-bapak dan beberapa cukup berumur, ketiga hampir keseluruhan peserta baru pertama kali melakukan pendakian dan beberapa diantara pernah namun belum pernah tau soal soal jalur salabintana, keempat tentu saja aku memikirkan kesehatan Murobbiku yang pada saat itu antara yakin dan tidak yakin bisa untuk melaluinya.

Bismillah apapun yang terjadi ini adalah keputusan yang sudah kubuat dan telah tiba waktunya…aku yang telah memutuskan tripnya tentunya aku yang harus bertanggung jawab, namun dengan keyakinan yang kuat semua pun berjalan dengan semestinya. Saat itu hanya aku dan Pak Devry rekanku yang telah menjajal jalur salabintana sekitar 3 minggu sebelum pendakian halaqoh ini berlangsung, untuk itu aku merasa yakin akan perhitunganku dalam membawa 35 peserta ini.

Pada malam keberangkatan berlangsung, Hari Jum’at pukul 21.00 malam saat itu seluruh peserta sudah berkumpul di truk tronton yang telah kami sewa untuk memberangkatkan kami menuju Cipelang Sukabumi. Namun pada malam pukul 20.00 aku masih ada di SERPONG ditempat kerjaku karena ada pekerjaan urgent yang tidak bisa ditinggal. HP pun sahut sahutan untuk membalas pesan, semua peserta sudah kumpul tinggal aku saja yg belum hadir, sedangkan semua surat SIMAKSI ada padaku…karena waktu tidak memungkinkan untuk menunggu akhirnya kuminta rombongan peserta berangkat duluan menuju cipelang dengan tronton itu sedangkan aku menyusul dengan angkot saja…ke kirimkan petunjuk denah melalui sms untuk menuju Cipelang.

Dari Serpong aku menginjak gas melaju pulang melalui tol pukul 21.00, setelah sampai rumah bergegas mandi ganti baju, kuambil keril dan perkap lalu izin kepada istriku sambil terus jari membalas sms untuk mengetahui posisi  tronton sudah sampai dimana. Pukul 22.30 aku meninggalkan rumah lalu naik ojek menuju cibubur untuk menaiki angkot tujuan kp. Rambutan. Sampai rabutan sambung ciawi dan langsung kunaiki Col L300 yang orang menjulukinya Mobil Setan, bukan karena angkernya tapi karena ngebutnya yang bukan main mengerikan. Setiba di Sukabumi, kucarter angkot menuju ke cipelang melawati Kebun Teh Goal para, akhirnya Alhamdulillah pukul 03.30 WIB aku sampai di Cipelang dan bertemu dengan rombongan peserta yang akan ikut pendakian kali ini.

Setelah sedikit berbincang, makan dan repacking lalu sambung dengan Sholat Shubuh berjamaah, lalu kami briefing sejenak berkumpul membagi grup pendakian. Saat itu rombongan kubagi 3 group, grup pertama adalah grup advance langsung dibawah koordinasiku, lalu grup dua di bawah koordinasi pak Gunawan ia adalah rekan kerjaku yang kuajak dalam pendakian ini, dan yang terakhir dibawah koordinasi pak Devry sekaligus beliau merangkap sebagai sapujagad.

Pukul 05.30 Pos Utama Panthera, Alhamdulillah ranger yang saat itu bertugas sudah bangun…segera saja kuurus perijinan untuk memulai pendakian. Setelah SIMAKSI beres berangkatlah kita dengan semangat dan senyum riang menapaki jalur awal vegetasi hutan cipelang. Kami berjalan berbondong-bondong yang terbagi menjadi 3 grup tadi, aku ada di depan bersama grup satu sebagai tim advance dengan target sampai ke alun-alun suryakencana secepatnya lebih dulu agar bisa mendirikan tenda, menyiapkan makanan dan tempat untuk grup 2 dan grup 3. Sedangkan Murobbiku berada di grup 3 bersama beberapa bapak-bapak lainnya dibawah koordinasi pak Devry.

Aku meneruskan ritme perjalananku agar teman2 di group satu bisa mengikuti alur perjalanan dan nafas…sebelumnya sudah kubriefing kepada seluruh peserta bahwa 4 jam pertama perjalanan ini akan dihiasi dengan pacet, jadi jangan panik dan takut bila ada pacet (Sejenis lintah penghisap darah) menempeh di seluruh bagian tubuh baik di kaki, betis, dalam sepatu, di leher, punggung, pipi, dsb. Namun juga sudah keberikan cara bagaimana menanggulangi pacet dan melepaskan pacet dengan cepat bila sudah terlanjur menempel dan membesar.

Benar saja, anggota grup 1 yang bersamaku sibuk di setiap perjalanannya mencopot pacet yang menmpel di bagian bagian tubuh. Tak terasa  5 jam perjalanan aku telah sampai di simpang Cigeber, disana kami hentikan perjalanan dan beristirahat sambil membuka snack dan menunggu grup 2 sampai. Setengah Jam Kemudian munculah grup 2, dibawah koordinasi gunawan ia memberitahukan bahwa di grup 1 ada satu orang yang turun kembali karena fisiknya yang gemuk sehingga tidak bisa menyesuaikan jalur perjalanan awal salabintana….pak Devry sedang mengantarnya turun kembali sehingga antara grup 2 dan grup 1 terputus jarak yang lumayan lama. Dari situ pikiranku sudah mulai tidak tenang akan kelanjutan perjalanan ini, namun dari kabar terakhir bahwa peserta di grup 1 selain yang turun itu sehat semua, akhirnya kuputuskan grup 2 ikut bersamaku melanjutkan perjalanan dan tidak boleh putus rombongan,  dengan harapan semaksimal mungkin bisa sampai di Pos Cileutik yang akan ditempuh sekitar 2 jam lagi dari cigeber. Pos Cileutik adalah sumber air satu satunya dalam jalur pendakian salabintana, maka itu aku memprioritaskan untuk STOP disana untuk bisa istirahat besar Sholat dan makan siang. Aku berjalan menyusuri hutan gelap basah didepan  bersama grup 1 dan grup 2, seperti diketahui  jalur salabintana ini terkenal sangat Asri, karena jalur ini adalah jalur yang sangat tidak diminati oleh para pendaki umumnya untuk menuju ke puncak Gede, karena tingkat kesulitan jalur dan panjangnya jarak tempuh. Namun buatku jalur salabintana adalah jalur yang sangat eksotis, bersih bebas sampah dan masih bersliweran ayam hutan dan burung liar dan kadang monyet yang melompat dan berlari disekitar kita…keasrian inilah yang membuat ku selalu rindu bila sudah ada dirumah. Setelah 2 jam perjalanan sampailah kami di Pos Cileutik, lalu kuperintahkan peserta untuk masak, makan dan sholat sambil menunggu grup 3 lewat.

Kecemasanku berlanjut setelah 1,5 jam berada di pos cileutik ini, jangan dikira pos cileutik  adalah sebuah bangunan rumah seperti pos umumnya…tidak pos cileutik hanya sebuah dataran yang besarnya stengah lapangan badminton di tengah hutan lebat dan terdapat sungai kecil mengalir dibawahnya...jungan jumlah yang peserta yang banyak ini terasa sangat sempit sekali, langit pun sudah mulai gelap menandakan hujan akan turun, kabut juga turun naik disertai hawa dingin mulai menyelimuti. Sampai selama ini grup 1 tidak juga kelihatan, dari stiap rombongan pendaki yang lewat selau kutanya “Apakah lihat rombongan bapak2 dengan cirri bla..bla..bla..bla…” namun kebanyakan jawabannya adalah tidak.  Situasi ini sangat membuatku tidak nyaman sekali, bagaimanapun aku harus mengambil keputusan harus bagaimana dan bagaimana. Setelah sedikit sharing dengan Gunawan dan melihat kondisi fisik peserta yang ada di grup 1 & 2 yang terlihat masih bugar akhirnya segera kuambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan. Karena dari Cileutik sampai ke Simpang Gunung Gumuruh menuju ke Alun-alun Surya kencana jalurnya sudah terlihat jelas dan tidak bercabang akhirnya kuinstruksikan peserta grup 1 & grup 2 melanjutkan perjalanan sampai ke Alun-alun tanpa diriku. Ku instruksikan Jalan terus ikuti jalur bila bertemu simpang dan ragu berhentilah, istirahat kalau perlu buka tenda dan sampai tunggu sampai saya datang…dan tolong taatilah instruksi ini…Alhamdulillah peserta bapak-bapak ini mengerti dan mereka melanjutkan perjalanan, sedang kan aku dan Gunawan tetap di Cileutik menunggu perkembangan selanjutnya menanti kabar grup 1. Satu jam kemudian kabut gerimis mulai membasahi jaketku, tak lama berselang ada rombongan pendaki yang sampai di cileutik namun tidak lama berhenti, segera kutanyakan info tentang group 1.

“Mas Liat ada Rombongan ngga kira-11 orangan lah, bapak-bapak ada yang pake sarung diantaranya..?”, mereka menjawab “Iya mas ada, Cuma mereka Nenda tadi saya lihat mas, ada yang cidera kayanya, soalnya ada yang jalannya dipapah, karena dibawah dah ujan, mereka buka tenda”
Aku bertanya lagi “Jaraknya berapa lama dari sini mas?”, mereka menjawab “ Yaah kira-kira 2 jaman lah mas, td sempet berenti juga sy disana, lagi pada masak kok mereka mas..”
Ok deh mas, makasih ya infonya…langsung jalan lagi nih…? …”Iya Mas, nanggung mau ujan lagian”, mas nungguin nih ya rombongan yang dibawah.??
“Iya, sambil liat sikon nih…..!...”Baiklah mas hati-hati ya, saya duluan nih..!!
Ok…ujarku

Aku masih pada posisiku menunggu setengah jam lagi di cileutik, kali ini sudah sangat sepi sekali, hujan sudah mulai turun, jam sudah menunjukan pukul 15.00WIB kali ini mulailah aku berhitung bersama gunawan soal kemungkinan kemungkinan..apakah harus turun menuju tenda Grup 1 yang sudah jelas dalam kondisi aman dalam tenda dan terdapat logistic memadai, kalaupun ada yang cedera, disana ada 10 orang yang menemani untuk mengambil  tindakan dan beberapa diantaranya adalah berprofesi perawat di RS, selain itu ada Pak Devry yang kenal medan bila sewaktu waktu dibutuhkan untuk turun, pak Devry masih bisa memandu jalur turun menuju Phantera.

Sedangkan aku dan Gunawan Di Cileutik hanya berbekal Aqua satu botol serta beberapa coqelat, semua perkap masak logistic, tenda dan tetek bengek lainnya sudah dibawa rombongan grup 1 dan 2 mengikuti instruksiku untuk di dirikan dan masak di Surya Kencana. Hujan mulai sedikit deras mngguyur aku dan gunawan, keputusan yang kuambil adalah ngetrek lanjutkan perjalanan mengejar rombongan grup 1 & 2 yang saat ini belum diketahui rimbanya, apakah sampai apakah stagnan di simpang Gunung Gumuruh atau lain-lain…

Perjalanan dari Cileutik menuju Simpang Gumuruh dan Alun-alun lumayan membuatku rada letoy, maklum lamanya istirahat di Cileutik, dan belum istirahatnya dari malam menjadi factor penurunan kondisi fisik ku saat itu bersama gunawan. Sambil hujan hujanan tanpa ponco kulibas trus hutan gumuruh tanpa bicara dan obrolan, ngetrek trus melalui pos demi pos selanjutnya tanpa kutemui rombongan grup 1 & 2. Akhirnya setelah keluar dari hutan Gunung Gumuruh dan tiba di Surya Kencana tak jauh dari mata air ada beberapa tenda yang sangat kukenal dan yang sangat khas tertanda adalah adanya bendera PKS dan Kepanduan yang berkibar di sekitar tenda…tidak salah lagi itu adalah grup 1 & 2. Setelah kudekati terlihat sedikit kesibukan, ada yang sedang pilih2 tenda, ada yang memasak air, dan sebagainya. Kulihat saat itu jam menunjukkan pukul 17.00WIB.

Aku dan Gunawan Segera memasuki  Tenda dan salin Pakaian dan beristirahat sejenak, setelah itu aku instruksikan kepada semua peserta untuk menyiapkan tenda kosong, masak besar, masak air yang banyak sebagai persiapan untuk diberikan kepada grup 1 ketika tiba nanti. 

Pukul 17.45 setelah mengisi perutku, segera kukeluarkan konco dan senter lalu kembali menuju ke Gunung Gumuruh jalur tadi untuk  menghampiri grup 1 bersama sorang lagi temanku, karena menurut perhitunganku bila firasatku benar grup 1 melanjutkan perjalanan disaat aku masih di cileutik lalu lanjut ke surya kencana, pastinya aku akan berpapasan dengan mereka di Simpang Gumuruh…Langkahku pun mulai mengayun menyusuri kabut maghrib diiringi gerimis tipis memasuki kembali hutan Gumuruh.

Ternyata benar, tak jauh dari jalur masuk hutan gumuruh muncullah pak devry sendirian membawakan keril seorang peserta, kami pun berpapasan dan saat itu Pak Devry menginformasikan salah sorang peserta keseleo kakinya sehingga harus dipapah, dan beberapa kondisinya payah, tapi Alhamdulillah posisinya sudah kira-kira 15 menitan dari tempatku berdiri. Lalu kulanjutkan perjalanan memasuki hutan gumuruh, 15 menit kemudian tampaklah rombongan grup 1 dengan Murbbiku didepan diiringi 2 orang dibelakangnya berjalan lunglai sambil mendengarkan murojaah hafalan 2 orang dibelakangnya….Subhanallah, pemandangan yang akan jarang diliat situasi seperti ini…pakaian mereka basah, akupun segera menghampiri dan mengambil keril Murobbiku dan temanku membawakan keril peserta lain yang sudah payah kondisinya. Suasana saat itu sunyi senyap tidak ada pembicaraan…yang terdengar hanya murojaah quran yang sedang dibacakan oleh seorang peserta di grup 1. Lau kupandu mereka memasuki tenda yang sudah disiapkan, makan dan recovery total mala mini untuk beristirahat.

Saat berjalan di belakang Murobbiku menuju tenda…kuperhatikan beliau, takjub hatiku bahwa ustadz mampu mengalahkan penyakitnya..tidak ada yang tidak bisa bila hati sudah dibakar oleh semangat dan disekitarnya ada kipas yang senantiasa meniupkan angin agar bara terus menyala. Di Suryakencana setelah perjalanan itu seperti biasa kami terus di berikan taujih taujih untuk membangkitkan ruhiyah dan bermuhasabah, semua cidera, beban mental dan tekanan psikologi sembuh semua, bahkan para pendaki yang lain yang mendirikan tenda di sekitar kami melihat heran ketika melihat orang orang yang berkumpul di depan tenda kami bertakbir, menangis, sampai melompat lompat menyanyikan nasyid perjuangan sambil mengibarkan bendera….bahkan dari ujung tenda lain ikut berteriak Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar


Kurasa ini adalah momen terbaik dari setiap momen mukhoyyam yang kami adakan dan kadang aku berpikir apakah semua yang kurasakan ini dirasakan juga oleh para ikhwah lain….sampai sekarang Murobbiku pun masih sakit, dan masih suka bolak balik kerumah sakit kadang harus dirawat dan kadang menjalani pengobatan sendiri dirumahnya. Untuk gunung ini Murobbiku sudah ke-4 kalinya melakukan pendakian bersamaku dan ke empat-empatnya dilalui dengan tanpa masalah berarti, malahan temanku yang lain yang sakit atau drop saat pendakian. Pendakian terakhir bersama beliau adalah pertngahan 2011 lalu ke Puncak Pangrango, beliau membawa putranya yang masih berumur 12 tahun alau tidak salah dan semua pencapaian dilakukan dengan sangat baik, Subhanallah.

Hal yang sangat berarti dalam Muhoyyam, didalam mukhoyyam lah terbentuk sebuah ikatan hati, keikhlasan, obat, dan hakikat penyempurnaan dari rangkaian dakwah ini, terbangunnya pondasi yang kuat dalam jama’ah dan yang terutama adalah Cinta karena Allah. Wahai Ikhwah, selingilah Aktivitas pencarian Maisyahmu dengan Mukhoyyam dengan teman2 terdekatmu, dari sanalah nanti akan kau temukan hakikat kebersamaan sebuah ikatan jamaah yang sesungguhnya yang tidak terlepas saat kau kembali keduniamu sebenarnya..

Duhai Ustadz, semoga hutan, sungai, daun daun, kabut dan udara sejuk yang pernah kita temui menjadi saksi dalam perjalanan dakwah ini bahwa kita bernah bersama berdo’a dan membicarakan segala hal tentang tugas kami sebagai jundi dakwah walaupun belum semuanya bisa kami tunaikan.

-Agus Setiawan-

0 comments:

Posting Komentar

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Popular Posts

agusonpapers. Diberdayakan oleh Blogger.