Keluarga Lawu, The Days without Sunrise





The Days without sunrise…ha ha ha, judul apa lagi ini ga jelas amat sih…tadinya mau nyari judul macem-macem tapi karena dah ngebet ngupload video trailer ke youtube akhirnya apa yang terlintas di otak ya itulah yang tertuang, malah sebelumnya lebih parah lagi The Days Never Sunrise..hahaha setelah di komplain depan belakang kiri kanan soal grammer yaa akhirnya revisi sekenanya…huuffhh apalah arti sebuah judul.

Mumpung lagi mood nulis, nulis hasil trip kemarin aja kali ya…tp kali ini saya ga akan bercerita soal catatan perjalanan seperti sebelumnya…tp sy akan bercerita soal apa yang sy pikirkan soal perjalanan trip pada tanggal 21-24 Desember 2014 kemaren ke Puncak Hargo Dumilah Gunung Lawu bersama kawan kawan gila namun baik hati ,,,Petualang Nusantara *bener ga yaa..

Seperti kebiasaan dari trip Penus adalah ketidaksengajaan agenda trip..ya trip Lawu ini sangat diluar rencana dari semua kru, cuma karena dikomporin tiket promosi ke Solo 60rb…kaya saya sendiri ngga ada rencana bulan ujan gini ngetrip ke gunung, padahal di tahun sebelumnnya dah kebiasaan pasti bakalan basah basahan kalau maksain naik di bulan desember. Masing masing dr kita juga lagi over deadline kerjaan…jadi emang kayanya ga mungkin lah bisa trip bareng lagi pasca rinjani. Tapi ya itu..Kalau Gelombang Cinta dah berbicara akan lain ceritanya, hubungan kami di Petualang Nusantara itu unik,walau karakternya beragam tp dasar cintanya sama..ha ha ha…cuma karena satu orang beli tiket promo Solo..seolah olah kaya Tukang Sol nusuk benang sol ke karet sepatu…kok Ndilalah semua dari kita ikut pesen tiket daan akhirnya jadiin trip bersama akhir tahun..ya sudahlah, memang selalu seperti itu sih.

21-24 Desember 2014 menjadi perjalanan manis menutup tahun…sebulan mendekati waktu trip, terbuka wacana kenapa kita ga open trip aja…! ajak aja kawan lo semua yang mau ikut di trip kita kali ini, okay kalau gitu…masing masing dari kami pun mulai direct selling siapa yang mau ikut perjalanan Penus kali ini…hahay sadar diri lah..emangnya PENUS itu Jejak Petualang atau Consina  atau Khyberpass, yang punya daya tarik buat bikin perjalanan bersama…ngga lah…Alamiah mengikuti takdir aja, kalau memang akan ditakdirkan menjadi perjalanan yang seru dengan wajah dan persahabatan baru yaa itulah yang menjadi pemenang untuk mendapatakan kisah penutup akhir tahun tersebut.

Sherly, Sarah, Atiyah, Ayu, Aldo, Chikal, Bagas, dan Dani..adalah wajah baru di trip Penus kali ini, sy ga tau motivasi awal mereka mau merapat dan ikut dan kenal dengan kami di Petualang Nusantara pastinya mereka punya motivasi sendiri dan yang terpenting adalah TRUST..mahal banget nih kepercayaan..mereka punya segudang dan background cerita masing masing baik yang misterius atau yang over up…Tapi setelah kami semua masuk dalam grup Whasapp ternyata kita Chemistrynya sama..haha sama gilanya, ups baiknya jugaa…

Atas dari Kiri : Hendro, Sherly Agus, Arif, Aldo, Dhani, Chikal
Tengah : Ayu, Sarah, Juli, Atiyah
Bawah: Bagas, Koto, Olied, Agus Gigsy.

Cerita dikit ah soal wajah wajah baru ini

Sy kenal Aldo cuma di fb dan grup wasapp ngga pernah ketemu dan kenal personal sebelumnya tp dia mau meluncur dari Samarinda Balikpapan dengan waktu yang mendadak tiket yang mendadak pastinya ga cukup cuma sejuta…tp dia datang dan muncul serta menjadi bagian dari cerita pendakian kami…dengan motivasi yaa sy juga ngga tau motivasi terbesarnya apa akhirnya mendarat bersama dan menjadi bagian dari keluarga pada akhirnya…hahay pastinya ada yang membuatnya sangat bersemangat..apa yaa!

Sherly, hmmm ini lebih singkat dan easy lagi…kenal sekelebet di Komunitas Pendaki Gunung Facebook  saat saya posting soal Triip Lawu dia cuma bales..Ngikuut dong Oom…saya bales “Serius”…djawab lagi Hu’uh…dibales lagi..Konfirm tiket ya..dijawab lagi Yes..lalu sy bales lagi..”Masuk Grup waya..dijawab lagi Okay…daan akhirnya blab la bla…mengalirlah jadi bagian cerita kami…Sherly punya background nature dan bacpaker yang ga diraguin lah untuk daki mendaki kadang ke Ibuan, kadan muda banget kadang laki laki banget...lainnya paling hal ke gokilan-hahaha

Bagas, Ini orng lama sebenernya tp baru di takdirin kali ini bisa ngetrip bareng dan jadi bagian keluarga Penus…sekarang hahay doktrin doktrin penus dah masuk didalam otaknya untuk selanjutnya akan ikut di setiap agenda, bagas dah seperti keluarga buat kami,

lalu ada Sarah Utami…ini nama versi bloggnya sebagai penulis walaupun sy ga tau yang ditulisnya apaan..hahaha. Tapi Sarah termasuk yang berkarakter unik, ngejengkelin tapi dibutuhkan…punya cerita banyak, rusuh tapi penakut, kadang tambeng kadang penurut.. Sarah datang gitu aja di kehidupan Penus awalnya via Sherly sih, tp ngga tau deh..pokoknya tau tau nongol aja orang ini..hahaha, semakin bergam karakter smakin seru perjalanan.

Muncul lagi Ayu, perempuan yang sesuai namanya Kemayu…paling muda, angkatan 90an asal Sragen, pengembara Solo Life dijakrta, kuliah sambil kerja mau nyobain dunia pendakian katanya…yang ada dibayangannya naik gunung itu enak dan gampang…haha walau pada akhirnya…

Ada lagi Atiyah..kalau perempuan satu ini pernah mendaki bareng sebelumnya dengan saya bareng dengan trip Myqpala…, Atiyah ini pendaki pemula yang punya tenaga dan semangat bagus, bahkan bisa di bilang kecanduan mendaki pasca pendakian gunung gede. Saya ngga tau kalau ada motivasi lain ikut dalam trip saya kali ini bersama Penus, awalnya saya khawatir atiyah akan punya pandangan lain melihat personil dari petualang Nusantara yang secara penampilan tampak agak berantakan dan urakan dibanding dengan dunia pergaulanya selain Penus sebelumnya…. Atiyah sempet galau dan bimbang sebelumnya antara jadi dan ga jadi untuk ikut pendakian, tapi dia tetep mencari dan membeli perlengkapan..seperti keril, sepatu dsb..sampai pada akhirnya di hari hari terakhir sia memutuskan ikut pendakian…Kaya ada sesuatu yang membisikan hatinya menjadi semangat mengambil keputusan untuk ikut…

Yang terakhir adalah Chikal dan Dhani…2 Jumbo bersaudara ini, sy ga kenal sebelumnya, muncul dan ada dalam dunia kami saat di Stasiun Senen…itupun blm dapet Chemistrynya, perkenalan kami mulai terajut ketika Dhani cidera dalam perjalan Pos 1 menuju ke Pos 2 insiden itulah yang membuat sy menjadi kenal dengan 2 jumbo ini.

Seperti yang sy bilang sebelumnya...apapun landasan dan dasar motivasi mereka tapi buat saya takdirlah yang pada akhirnya menuat kami menjadi satu bagian keluarga dalam trip kali ini. Tidak saling kenal awalnya, tapi sekarang….hmmmh ya itulah indah nya cinta.

Perjalanan bersama Petualang Nusantara bukan hanya sekedar Pendakian Saja, tapi ada diskusi sejarah, belajar hikmah..mencari petilasan, mengenal Nusantara, dan menjadi keluarga..sekali lagi menjadi Keluarga…bukan hanya di trip atau gunung saja tapi juga  setelahnya dalam kehidupan sehari hari baik dalam pekerjaan maupun lainnya.

“Kita mendaki cape cape ya memang ga buat apa apa…lawong kita ini mau nyetor Kok….Ya nyetor ke Tuhan, bercinta dengan alamnya, Bercinta dengan Udaranya, dengan Airnya…sampai merasakan orgasme bersama Semesta, Mendaki Dengan Cinta…Spiritual Journey”
–Mbah Jiman-

Ya begitu itu kalau salah satu dari kami berbicara soal hakikat pendakian. Diskusi diskusi Kereta sampai akhir perjalanan membuahkan pencarian pasca pendakian. Tahun lalu paska pendakian sy cari artikel tentang Nusantara  dan budaya lantaran diskusi panjang saat perjalanan membicarakan nusantara..sampe akhirnya saya makin cinta Nusantara dengan sejarahnya yang memang hebat didunia.
Kali ini paska pendakian sy direpotkan untuk mencari dan nonton film Band of Brother gara gara diskusi dan cerita di kereta seputar persahabatan dan ketulusan dalam berjuang…sampe pada akhirnya saya suka Film ini walau telat, padahal ini film lama. Life of Pie, Terminal, Case Away lewat Tom Hanks, lalu banyak pembahasan film di kereta yang akhirnya diaplikasikan menjadi perjalanan individu individu kami dalam hidup untuk menjadi manusia tangguh dan baik.

Kembali ke Lawu, awal pikiran saya saat memutuskan open trip…bisakah menyelaraskan pemikiran kawan kawan baru ini dengan gaya kami di Penus yang selalu gonta ganti kaya iklim cuaca.. Kalau cuma sekedar naik gunung dan haha hehe haha hehe sih ga akan ada masalah, tapi ngedapetin hakikat hikmahnya itu dalam kebersamaan…Alhamdulillah ternyata semua itu mengalir alami dan sempurna.

Diawal Pendakian selalu ada wejangan..

“Puncak adalah bonus, yang terpenting adalah Bagaimana menjadikan perjalanan menujunya itu menjadi Hikmah, Cerita, Belajar untuk tidak Mengeluh, dan selalu Riang Gembira ! “Pertahankan Apinya kawan kawan jangan sampai Padam…!
–Mbah Sentolo_

kata-kata itu menjadi sakti bagi kami untuk terus selalu riang gembira dalam setiap permasalahan dalam perjalanan…Tidak mengeluh dan selalu mempertahankan api semangat…pastinya bersama-sama.

awal perjalanan

Pada tanggal 22-23 Desember merupakan hari yang terberat dalam pendakian kami, walau sebelumnya pada tanggal 21 nya kami sudah melalui satu tahapan yang nyaris memecahkan tim…mulai dari SARAH yang ketinggalan kereta lalu nyusul dengan bus malam terpisah dengan Sherly. Aldo yang Stuck oleh tiket dibandara menuju ke Solo…sampe harus mengelarkan kocek besar dan berjuang transit ke beberapa tempat dan melanjutkannya dengan bis…Tim penus yang terpecah lantaran menemani Atiyah yang terpisah kereta…dsb...semua masalah tersebut pecah ketika Kami semua berkumpul Lengkap di Pintu Gerbang Cemoro Sewu tanpa kurang suatu apapun….

Hujan lebat yang terus menurus mengguyur perjalanan kami selama 2 hari ini menjadi sangat tidak mudah…ini Gunung Lawu looh yang terkenal dengan korban Hypotermianya, anginnya, dinginnya…daan beberapa diantara kami ini adalah pendaki pemula… ternyata kekhawatiran itu lah yang membuat cerita menjadi semakin seru.

Diawal perjalanan Ayu sudah mulai sulit beradaptasi dengan jalur, berkali kali berhenti dengan nafas terisak serta kesulitan beradaptasi dengan dingin. Sampai akhirnya di Pos 1 Ayu  sy coba membuat perapian dan focus menstabilkan kondisi fisik ayu sampai akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali.



Perjalanan antara Pos 1 menuju Pos 2 semua kru tampak sudah beradaptasi dengan jalur, sehingga ada penambahan kecepatan dalam mendaki menuju ke pos 2 ketimbang dari pos utama ke Pos 1. Tapi itu tidak berlaku buat saya, Koto Dhani dan Chikal yang menikmati tiap jengkal tapak batu dengan Kram Kaki yang di alami Dhani. Dhani ini hebat,,,badannya besar tapi saat cedera kaki dia sama sekali ngga ngeluh, ngga bawel malah betul betul menikmati sakit kakinya. Berkali kali sy menyemprotkan aerosol dan mengangkat kakinya untuk meringankan kram sampai langit menjadi gelap..dan perjalanan menjadi sangaaat lambat. “Dhaann…kalau lo sampe ke atas, Sepatu TIMBERLAND gw yang baru buat lo deeh…Hahay..semangat Timberland jadi pamungkas saat itu. Chikal tuh abang kembarnya yang ngiming ngimingin..walau pada akhirnya Apes si Chikal harus merelakan tuh TIMBERLAND untuk Dhani…Dhani bukan cuma sampe Pos 2 Bro…TAPI SAMPE PUNCAAK..!!

18.30 tim sweeper alias tim sakit sampai di Pos 2…didalamnya semua kru lengkap sudah nguyung dengan sleeping bag dan Edo dengan sumbu utama perapian membuat masakan. Hujan tiada mereda malah trus bertambah derasnya…akhirnya diputuskanlah kami semua bermalam di Pos ini tanpa tenda. Ditengah tampyasnya hujan kami menggelar matrass dan sleeping bag mengambil posisi ternyaman untuk beristirahat, karena perjalanan pada mala mini tidak mungkin dilanjutkan.

Bermalam di Pos 2 
Dhani sempet mengurungkan niat dan memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian besok harinya tapi langsung turun karena kramnya itu…masuk akal, tapi menurut saya itu biasa, coz berkali kali sy pernah mengalami hal yang sama menghadapi pendaki seperti Dhani yang kram namun tetep berhasil sampai keatas…Sebelum tidur sy coba sempatkan untuk mengurut kaki Dhani, dan melakukan peregangan otot diantara sendi dan engkel kakinya. Dilanjutkan dengan Sholat Isya di Qashar dengan Maghrib berjamaah didalam Pos 2 dalam suasana dingin di dalam balutan sleeping bag. Kondisi malam itu sangat berkesan buat saya pribadi juga pastinya buat yang lain…banyak sendau gurau dan canda di pos ini sampe akhirnya mata terlelap semua, karena ngantuk ngga bisa dibohongi…Tapi dingin lebih tidak bisa dibohongi..sesekali diantara kami bergeser dan merubah posisi karena kedinginan, dan saya…malam itu terkena mountain sicknes..yang diawali dengan pening dan panas dei sekitar sendi leher. Jam 01.00 say bangun dan melompat keluar pos untuk buang air kecil…wow pekatnya gelap di Pos dua ini disaat hujan mengingatkan saya dengan pekatnya gelap di Puncak Salak 1 disaat Hujan malam…
Sebutir Paracetamol sy minum malam itu sambil sesekali menyenteri suasana sekitar pos dan menyenteri kru dari grup kami…semuanya pules, lalu akhirnya sy lanjutkan tidur hingga pagi suara rame dan gelisah kanan kiri dari kawan kawan yang kedinginan membangunkan saya.

Ternyata di Pos 2 ini meninggalkan banyak cerita mistis buat beberapa peserta diantara kami...tapi buat saya, itu tidak menjadi prinsip pokok dari pendakian kami karena sugesti mendaki saya bukan untuk menanggapi masalah itu, walau tidak menafikan semua itu ada dan terjadi di gunung..ya biarkan saja selama tidak menjadi maslah dalam grup kami, kalau sudah membuat masalah tentunya akan berbeda penanganannya…spiritual jorney tujuan yang baik dan positif tentunya akan berjalan sesuai dengan koridor berfikirnya yang baik…

Benar saja…Kegundahan Dhani yang rencananya akan tidak melanjutkan perjalanan batal..dan akhirnya memilih melanjutkan pendakian walau dengan tertatih…dan kali ini CLOSED untuk wacana gagal lanjut..hahaha

Pos 2 ditanggal 23 Desember kali ini kami diberikan bonus rahmat dengan redanya hujan…dan munculnya cahaya, walau gada matahari…tapi lumayan lah bisa menyegarkan psikis kami saat itu. Semua bersemangat bergegas untuk melanjutkan pendakian, dan sempat meneriakan yel bersama..”PERTAHANKAN APINYA KAWAN, JANGAN SAMPAI PADAM”…lanjutlah kami dalam perjalanan selanjutnya…

Langit kembali memberikan ujiannya di hari itu…Hujan deras sepanjang hari, grup sudah terbagi 2..satu grup mengikuti instruksi untuk terus berjalan sampai ke Pos 5 atau mbok yem menyiapkan  air dan makanan..sedang kan Tim 2 adalah Tim Slowly Sweeper…tim belakangan yang isinya pendaki dengan langkah tertatih karena cidera dan sakit. Slowly sweeper ngga ada artinya sebenernya..ini alami terbentuk aja lantaran memang salah satu diantara kami sudah mulai sakit yaitu si Ayu.

Saya, Hendro, Dhani, Chikal dan Koto adalah pengisi dalam perjalanan tim belakang…jalannya sangat lambat, …menikmati Hujan dan berkali kali saya dan koto harus Tidur di Jalur karena ngantuk dan lelah lantaran harus mengimbangi pergerakan dari Ayu yang mulai Sakit. Saya merasakan apa yang dia rasakan, bagi Ayu…Pos 2 menuju Pos 5 pasti sangat lah berat, tapi setidaknya dia dalam posisi aman karena bersama tim yang siap dengan dengan segala kemungkinan yang terjadi..baik logistik dan perlengkapan…

Kemudian Pos 5 menjadi Klimaks antibody tubuh ayu bertahan, jalur Lembah antara Pos 5 dan sendang derajat memvonisnya dengan status Hypotermia, saat itu yang harus saya lakukan adalah mengamankannya dulu ke tempat yang aman dari angin lembah sambil mentransfer panas skin to skin melalui telapak tangan sambil memboyongnya ke tempat aman. Alhamdulillah skin to skin selama melewati lembah angin sedikit berhasil dan membuatnya bertahan sampai sendang derajat, walau sempat beberapa kali tubuhnya juntai mau pingsan.

Sesampai di Sendang Derajat, kami Koto, saya, Hendro, Chikal dan Dhani persis seperti Pit Stop Sentul dalam balapan Mobil yang harus serba cepat melakukan tindakan. Saya membuat Api dan masak makanan dan minuman sambil terus melakukan prosesi Skin to skin lewat telapak tangan.

Air mata sudah keluar dan gigil sudah menghilang dari tubuh ayu tanda Hypo sudah merasuki dan suhu sudah turun dari 35 derajat…Pit Stop tetap dengan kesibukannya…Hendro Menggantikan kaos kaki yang basah, Koto membongkar perkap kering dan menyiapkan obat. Dhani dan Chikal memasangkan Flysheet untuk menyiapkan tempat dan menutup Gua dan menggelar matrass..karena setelah ini Ayu akan kami masukan ke gua itu dan membuat api didalamnya agar lebih hangat.

Gua samping Sendang Derajat
Ayu masih stuck pada kondisi tadi, namun setelah masuk energen panas ke dalam mulutnya beberapa menit kemudian keluar gigil melalui bibirnya..sebuah peningkatan yang bagus..akhirnya saat itu kami pindahkan Ayu ke dalam gua di sisi Sendang Derajat, Saya kembali buatkan api dan memasakan makanan didalam gua sambil kami terus mengajak interaksi ayu agar tidak larut dalam serangan Hypotermia…segala sesuatu yang basah pada tubuh Ayu sudah diganti dengan pakaian yang kering, asupan makanan dan motivasi mempercepat pemulihan kondisinya…Ayu sudah kembali menggigil menandakan  baiknya pemulihan, dan pada akhirnya berangsur angsur membaik, tak lama kemudian Juli dan Aldo rekan kami di tim 1 yang sudah berada di Mbok Yem dating membawakan obat dan Nesting sesuai dengan Message yang sy titipkan kepada pendaki lain yang kebetulan mengarah ke Hargo Dalem…Sy dan Hendro titip pesen bila bertemu dengan rombongan pendaki Jakarta di Mbok yem agar kembali ke sendang derajat membawakan obat dan nesting karena ada peserta yg hypo di sendang derajat. Pesan tersampaikan dan Akhirnya setelah kondisi Ayu semakin membaik Ayu Di pandu oleh Aldo dan Juli dibawa menuju Mbok yem dibawah balutan jaket tebal dan pakaian super tebal…dan kami masih berleha leha dulu beristirahat di sendang derajat setelah berperan menjadi Pit Stop..hahahaha

23 Desember sore itu ditengah hujan kami semua bekumpul lengkap, bersyukur diberi kekuatan sampai sejauh ini, untuk saya juga untuk semua dam tim kami…saat itu pnus memutuskan untuk tinggal satu malam lagi untuk pemulihan di Hargo Dalem, Bila Allah memberikan kesempatan dan takdirnya niscaya kami akan sampai ke Puncak Hargo Dumilah pada malam nanti atau mungkin besok pagi bila hujan reda…daan kalau pun tidak, kita sudah ikhlas walaupun tidak sampai puncak, yang terpenting adalah jadikan waktu di Hargo dalem ini dengan sebaik baiknya…Ooh pasti itu.
 Buat saya Hargo dalem bukan cuma sekedar Pos Akhir persinggahan melainkan bahan untuk membuka Khazanah Diskusi kembali soal Nusantara. Sesampai Di Hargo Dalem, saya, Olied, dan Koto langsung menuju petilasan Brawijaya entah ini makam atau hanya sebuah petilasan pastinya saya dating kesana untuk berziarah dan berdoa lalu mencari cerita tentang Brawijaya dengan mendengarkan dongeng koto dan orang orang yang mengerti soal aktivitas dari petilasan ini.

Mbok Yem….Namanya sudah terkenal diseluruh Indonesia bagi semua pendaki yang pernah menginjakan kakinya di Lawu. Beliau tinggal dipuncak lawu, membuka warung dan senantiasa menyambut para pendaki yang hendak menuju puncak. Pertanyaannya kenapa Mbok Yem mau tinggal diatas ketinggian seperti itu dan hanya turun bila ada sesuatu yang penting saja lalu kembali lagi keatas….Mbok Yem merupakan seorang Abdi Dalem dari keraton yang memang di tugaskan untuk menjaga Puncak Lawu dan Melayani para Pendaki dan tamu yang hendak menuju ke Puncak Lawu…masuk akal..


Mbok Yem

Malam semakin larut Hujan juga tidak berhenti..gerimis trus berjalan, serta dingin terus memeluk sy malam itu menunggu pagi, rencana muncak malam hari pun batal…yah mengalir saja lah..kl memang muncak ya muncak kalau ngga ya ga apa apa, perasaan itu hilang sampai akhirnya mata terlelap oleh ngantuk.

Shubuh hari ditanggal 24 Desember adalah saat dimana Penus harus membuat keputusan dan berhitung….Masalahnya Semua dari kami telah mengantongi kami Tiket kereta Pulang kejakarta hari ini Pukul 03.45 sore artinya kalau mau muncak..bersegeralah atau turun sekalian.
Saya pribadi memutuskan muncak dengan catatan pukul 07.00 sudah kembali ke Hargo dalem dan turun kebawah..karena saat itu kawan kawan sudah memutuskan dan berhitung soal waktu akhirnya kami turun melalui jalur yang sama yaitu Cemoro Sewu. Akhirnya kami menaiki Puncak Hargo Dumilah pada pukul 05.30 pagi bersama cerahnya mentari pagi di halaman Mbok yem yang seoralh olah menyapa dan memberikan semangat untuk meneruskan tujuan mencapai puncak.
Puncak Hargo Dumilah dilihat dari halaman Mbok Yem
Sunrise di halaman Mbok Yem
Days Without Sunrise tidak berlaku pada hari ini….Matahari menampakan Cahayanya di hari ketiga pendakian…Allah memberikan kami Bonus sampai ke Puncak dengan Lengkap…ya LENGKAP dengan Dhani dan Ayu yang awalnya sempat sakit dan ragu…LENGKAP…Dipuncak..silahkan kalian berfikir, menafsirkan dan bercerita tentang diri kalian sendiri…tentang perjalanan kali ini…Kita sudah di puncak Broo..!  silahkan simpan dalam memori pandangan dan otak  kita betapa indahnya takdir dan hikmah perjalanan bukan..?






Hahahaha…buat sebagian Puncak lawu memang tampak mudah, tapi buat Penus pada kali ini...Luar biasa…boleh dibilang lebay, bisa dibilang norak,  boleh disebut apa saja yang pasti kami sangat bahagia saat itu bukan karena lawu nya tapi persahabatan barunya.

Perjuangan kami masih dilanjutkan dengan perjuangan memburu kereta, dan waktu tempuh…lagi lagi semua itu bisa tercapai cika sema sudah merasakan semangat yang sama, rasa yang sama, dan juga cinta yang sama untuk mau berbesar hati…Sampai Akhirnya kereta Berantas masih setia untuk menunggu kami untuk menaikinya di Pukul 03.45 di stasiun Solo Jebres dengan pasukan penus yang lengkap dengan keluarga baru yang lengkap dengan kelucuan yang lengkap pula….trip kali ini trus berbuah hingga saat ini,  Hingga kami Menjadi Keluarga Petualang Nusantara dalam kehidupan sehari hari….


Salam Cinta Petualang Nusantara

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Nitip Jejak ah kang Agus

    BalasHapus
  3. Gue OKSIMORON banget di mari. Tapi emang iya, sih. Gue keren. #Nyambitin-semut.

    BalasHapus
  4. haha...kang Indra, Muhun dah mampir di blogg urang nya...
    Sarah...ngapain mampir mampir dimari..! Huusshh!!

    BalasHapus
  5. Hidup itu memang harus take it easy brader..
    and yes you are definitely right.. soul untuk Friendship-nya DAPET!
    can't hardly wait for Semeru and other mountains trip.. MERDEKA!!

    BalasHapus
  6. harus pake google translate nih nerjemahinnya...hahaha, thank ya Sakuranotes8 dah mampir di gubuk onpapers...

    BalasHapus

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Popular Posts

agusonpapers. Diberdayakan oleh Blogger.