Kereta Setan (True Story) Part.2

Cerita Sebelumnya (Kereta Setan True Story) disini <<

Aku : '""PPPaPPApAA...maaf Pak begini…..pak…hmmmh..anu…saya mahasiswa dari Jakarta pak, lagi study banding ke Yogya, lalu ada bagian acara yang mengharuskan ke Klaten, saya cuma bertiga pak, ini dua teman saya, yang ini punya gangguan jiwa pak, sambil aku menunjuk kearah Ujang, trus yang ini hidupnya sebatang kara pak, hidupnya susah…(sengaja aku meninggikan suaraku agar didengar oleh kedua temenku yang menjengkelkan ini, lantaran kesel banget).” “Kami dah ketinggalan rombongan kampus saya untuk pulang ke jakarta.....PPPaapappaak, saya ga punya uang lagi pak dah abis buat beli oleh-oleh...nah kaya kendi itu pak (sambil nunjukin kendi dan nunjukin kartu mahasiswa)…”Tolong saya pak…! saya ngga mau ngumpet-ngumpet pak di WC, apa lagi kejar-kejaran sama bapak, saya juga ga mau bohong pak, maka itu kita langsung duduk disini aja biar bisa ngomong langsung sama bapak!.”

Kondektur: “Alesaan aja kamu…!, tadi baca tulisan di stasiun tidak?, yang kedapatan tidak memiliki karcis harus apa..?” 

Aku: “Tau pak, tapi uang saya tinggal lima ribu pak, tolong saya lah pak…saya doain Bapak rejekinya lancar, sehat terus pak, umurnya panjang, selalu dimudahkan, dijauhkan dariii…..””

Kondektur: “Halaaaaah!…sudah-sudah nyerocos aja kamu, kalian disini saja, ngga usah kemana-mana! Kalau mau nurut sama saya, aman kamu, jangan bikin ulah macem-macem kalau mau tetap ada di kereta ini…saya mau periksa karcis dulu.” 

Aku: “ Jadi Pak…..? kami boleh tetep disini numpang pak….(sambil rada senyum melongok mencari kepastian)”

Kondektur : “Iyaa….nanti kalau ada petugas lain ngedapetin dan menanyakan kalian lagi, bilang aja dah ketemu dan diurus oleh saya.”!

Aku: “Subhanalloh…Alhamdulillaaaaaah paaak!” (aku menatap nama dada disebelah kanan yang bertuliskan Soemarno), kemudian meraih tangan kanannya kemudian aku ciuum seraya mengatakan…”Terima kasiiih Pak Sum…eh Pak marno, pak Sumarnooo maksud saya..maaf pak….Alhamdulillah Ya Alloh…!”, kemudian aku balik badan menghadap si Gondrong dan Ujang sambil melakukan selebrasi gerakan lebay dan berteriak…Yeess..yeess…yeeeeess aamaaan cooooy!!

Pak Soemarno pun meninggalkan kami untuk melanjutkan kegiatannya ke gerbong belakangku untuk memeriksa karcis. Saat itu aku masih melakukan gerakan lebay selebrasi mendekati Gondrong dan si Ujang….Pertama aku ngeledekin Gondrong dengan mencabut topi dan membuangnya ke lorong tengah gerbong sambil berkata…”Eluu reseee..eluu reseee…!, kemudian  aku tarik sweater rajutnya si Ujang, aku buka paksa sambil mendorongnya jatuh sambil bilaang…”Eluu jugaa resee..eluuu resee dodoool tasiiik!!! 

Pelukan dan tawaa ngakak bahagiaa diantara kami bertiga pun pecaah saat itu, aku mereview menuntut perlakuannya yang tidak ikut berdiri saat menghadapi kondektur tadi. Sesaat kemudian aku kembali duduk bersila dan kembali menjadi bagian dari mereka berdua.

Gondrong: “Sorry Sraak…tadinya gue mau berdiri, cuma gue dari pada berdiri juga ngga ngomong apa-apaan, pan ada elu komandannya, daripada malah ngeribetin palingan jongkok lagi abisannya…Nah dari pada begitu keterusan jadi niat berdiri gua batalin, lagian kebayang coba tadi kalau ngomong bertiga-tigaan yang ada belibeet….bla…bla…bla (membela diri dengan alesan yang ora nggenah, kalau orang jawa bilang."

Ujang pun tak mau ketinggalan beralibi, “Waah kang Gusrak sayaah mah apalagii, beneran tadi dah mau berdiri, dah ngangkat pantat saya kang…Sok atuh kalau ga percaya tanya kang Gondrong tah!" sayah dah setengah nungging kang beginih nih (sambil mraktekin pantatnya yang nunggin ngeselin)…eeeh terus liat kang Gondrong masih duduk ya tuh saya kebawa kang Gondrong jadinya…!

Gondrong langsung ngeplak kepala Ujang, “Aaaah eluuuu mah ngikut-ngikut ajaaah, ngapain gue merhatiin lu nungging…dasar Dodol Tasiik!

Ujang: Beneran kang…untungnya kita tetep duduk, jadinya bener-bener Persib pisaan tadi itu mah kang Gusrak ngadepin Pak Polisi tadiii…..kereeen heroik euy.

Aku: Polisiii….Kondektuur itu namanyaa pla’uuun..!, gua heran kok orang kaya lu bisa masuk jurusan akutansi siih hadeeeeuh…!!


Ujang malah tertawa sambil nyender ke dinding kereta, “hahahah lega yah Alhamdulillah duuh seneng sayah euy, tadi mah deg-degan pisan!...kang Gondrong ngomong-ngomong bagi rokoknya atuh, asem euy…punten kang…
Gondrong: “Uenaak aja luu, Puasaaaa dulu!…macem juragan, kelar perkara ngerokok..minta lagi!!...kaga-kagaaa..!

Kemudian suasana mencair dan kemudian lebih tenang, kami bertiga duduk dilantai menyender dinding kereta dibalik dinding ruangan bahan baku gudang restorasi yang tidak besar. Saat itu aku mengambil buku kecil beserta pulpennya dari tas Alpinaku, dan mulai menarik nafas pajang, lalu menuliskan beberapa bait Puisi untuk mengisi ketenangan situasi saat itu.


"Yang Tertinggal Dari Bayat"

Tak ku kira ada senyum manis yang tetap melekat,
Sesaat dan sewaktu menjauh dari Bayat.
Diantara kelokan-kelokan itu,
dan laju angin yang menampar wajah,
diatas kuda besi yang tak sabar ingin membuangku di stasiun klaten.

Namun manisnya rona wajahmu,
seolah mendekapku agar tak beranjak.
Beberapa tragedi memang terjadi….
Dan tragedi itu membuat bayang hilang beberapa saat tadi.

Namun kini…..kamu tahukah?
Aku yang telah bersandaar……………………

Baru sampai bait itu aku menulis puisi tiba-tiba Ujang memanggilku, sedangkan disebelahnya Gondrong yang sedikit sayu terlelap berusaha untuk tidur karena sudah disergap oleh rasa kantuk. “ Kang Gusraaaak….Nulis apaan siih?, bisa banget nulis sambil goyang-goyang gini gerbong…


Aku tidak menjawabnya....

“Kang Gusrak….Ngomong-ngomong tadi teh, pas sama polisi kondektur kenapa saya dibilang sakit jiwa kang..?” namanya pelecehan eta mah kang…(sambil ngelap-ngelap kendinya).

Lagi-lagi aku hanya melirik menatapnyaa, tanpa menjawab…konsentrasi puisiku mulai kacau…

Ujang: “Ah nanti kalau dah sampe Jakarta, sampe kampus saya mah mau saya tempelin tulisan ah di mading, Ketua Himpunan Mahasiswa ngatain sayah sakit jiwa didepan polisi kondektuur…..(terus meracau ngga karuan sambil ngelap kendi)…gimana Kang Gusrak setuju nggaaa…kalau saya bikin gituh…!

Aku pun merobek selembar dari buku kecilku, lalu meremasnya menjadi bola kertas…kemudiaan….”Pluuuuuk!, lemparan kertas ku mengenai bibirnya yang lagi manyun-manyun berhadapan dengan kendi yang dilap tapi ga bersih-bersih….”Hadoooooooooh….rusaaaak dah puisiii guaaaa dodooool tasiiiiiik!!! Beriisik amaat sih lu Jang ah….

Lantaran Stuck, puisi tak selesai pun hanya berakhir disitu, feel dan idenya menghilang, jikalau dipaksakan jadi jelek puisinya pasti. Tak berselang lama dari situ setelah sekitar 30 Menit berlalu, Pak Soemarno yang tadi memeriksa karcis kini sudah kembali ke tempat kami berada, aku pun tersenyum memberikannya salam kembali.

Kondektur: “Oh iyaa…sebentar lagi sampai di stasiun Lempuyangan, kemudian stasiun Tugu Yogyakarta, semua nanti petugas yang ada disini akan tukeran shift dengan petugas yang baru. Kalau ada pemeriksaan lagi bilang aja kalian titipannya saya, tetaplah disini.

“iya pak,…baik Pak, Siaap….kami bertiga bersahutan menjawab pesan pak Soemarno dengan perasaan senang. Kira-kira pukul 16.30 wib sore kereta memasuki stasiun Lempuyangan, berhenti beberapa saat kamudian bergerak lagi menuju stasiun Tugu. Di stasiun Tugu kereta berhenti cukup lama, lebih 30 menit. Terus terang lamanya waktu berhenti dengan pintu gerbong terbuka, sedangkan kami duduk lesehan di lorong pinggir gerbong tersebut, perasaanku kembali menjadi tidak enak dan jantung mulai berdegup kembali, meskipun tadi sudah ada jaminan dari pak Soemarno untuk kami bertiga memastikan dalam keadaan aman. Dihadapanku lalu lalang petugas kru kereta yang berganti shift tugas, bahkan pak Soemarno masih sekali lagi jalan melewatiku dengan berpamit dan mengucapkan kalimat hati-hati diperjalanan semoga sampai tujuan dengan lancar, beruntung aku bertemu dengan orang baik seperti pak Soemarno.

Setelah 45 menit, pintu kereta mulai ditutup, hatikupun berasa sedikit lega rasanya karena perjalanan dilanjutkan. Saat itu suasana hening, hampir tidak ada pembicaraan diantara kami bertiga, kecuali hanya tatapan-tatapan kosong, perut berasa lapar, haus juga…”huuuuufttt seandainya megang uang yang cukup, rasanya ingin sekali membeli roti dan minuman saat berhenti tadi.

Kereta yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Stasiun Tugu. Posisi kami belum berubah sama seperti kondisi kami memasuki stasiun lempuyangan.

Aku: “Hmmmm…Perasaan gue kok ga enak ya, mau masuk maghrib lagi ini….!” Beda kaya tadi daah…
Gondrong: “Srak abis ini berenti lagi ngga sih tiap stasiun, kaya KLR Jakarta gitu..?”

Aku: Ngga sih, berhentinya cuma di stasiun-stasiun yang lumayan gede, feeling gue ini nanti berhenti di stasiun Wates.”

Gondrong: “Mudah-mudahan ga ada masalah, lancar ini…Inget srak, nanti sama kaya tadi yang pak Soemarno bilang, lu aja lah yang gandepin, dah gampang jelas ini posisi kita.

Aku: “Ya liat nanti lah…”.

Tak lama berselangnya waktu, mulai lagi drama Karcis dimulai. Kali ini ada dua orang yang bertugas untuk memeriksa Karcis penumpang yang naik dari Yogyakarta. Pertama Kondekturnya, usianya tampak lebih tua dari Pak Soemarno, hitam, perawakannya mirip orang sumatera, namun saya lupa namanya, jika tak salah ingat namanya Pak Hengky. Kemudian petugas salah satunya lagi masih muda, tampaknya seperti asissten kondektur untuk membantu aktivitasnya.

Kedua petugas tersebut kini ada dihadapanku seraya mengatakan….”KARCISSS.!!

Aku berdiri dan mulai menjawab diplomatis seperti yang pak Soemarno pesankan, dan juga aku sampaikan alasan-alasannya, kali ini aku menghadapinya dengan lebih tenang ketimbang yang pertama tadi.

Aku : “Saya mahasiswa dari jakarta pak, lagi study banding ke Yogya lalu ada bagian acara yang mengharuskan ke klaten, kami cuma bertiga disni, kemarin ketinggalan rombongan kampus saya untuk pulang ke Jakarta, dan betul-betul tidak punya uang lagi. Tadi saya sudah menghadap Pak Soemarno, dan beliau mengijinkan kami menumpang disini ini, tidak boleh kemana-mana, begitu pak.”

Kondektur 2 : “Heh…Kalian pikir ini kereta punya Bapak Moyangmu apaa…punyanya Mbahmu..??? Hah..!!”

“Yang namanya naik kereta itu harus bayar dan punya karcis…NGERTI..!! (sambil tangan kanannya mendorong bahu kananku), sambung ucapannya.”


Aku : “Saya faham pak maka itu saya kasih tahu alasan saya, sama tadi yang saya sampaikan ke pak Soemarno…!” saya cuma minta tolong pak baik-baik.

Kondektur 2 : “Weeeeessss…banyak alesaan, Mahasiswa kok guoooblook ra ngerti aturaan! (Ngga tau aturan) 

Asisten Kondektur : “Wess di guang ae pak lempar men kapok…nek ora ditindak, kebiasaan!! (daah dibuang aja lah lempar keluar biar kapok, kalau ngga ditindak makin kebiasaan)

Aku : “Mas….Cangkeemmu kae looh..sompral ! (mas, mulutmu itu loh songong) , sampeyan disini cari makan aja sombong….sekolahin tuh mulut yang beneer..!

Suasana memanas, Gondrong pun berdiri dari duduknya dengan tangan mengepal hendak memukul namun tertahan oleh badanku.., Ujang setengah berdiri sambil mengumpulkan menyatukan kendi-kendi. Aku meyakinkannya lagi kepada kedua orang tersebut, “Saya tahu saya salah, tapi saya ngga songong…….bapak yang tadi aja bisa nerima alesan kita kok, masa yang ini ngga, ngomong yang enak dong…!

Kondektur 2 : “Saya ngga mau tau, pokoknya stasiun depan (Wates) kalian turuun..!, kalau saya sampai balik lagi kesini masih lihat kalian, Saya akan gunakan cara yang biasa berlaku dalam peraturan didalam kereta ini.

Assisten kondektur sombong itu tidak berbicara lagi, dia kemudian berjalan mengikuti Kondektur 2 untuk melanjutkan memeriksa karcis, saat melewati depanku, matanya menatap wajahku dengan nanar namun tidak melakukan gerakan yang membuat keributan.

Stasiun Wates sebentar lagi sampai, aku segera menggunakan ranselku, begitu juga dengan Ujang dan Gondrong. Kami bertiga tidak berbicara, karena perasaan kami sedang diliputi rasa kesal dan ketidakjelasan dengan apa yang harus kami lakukan selanjutnya. Aku pun mendekati pintu dan menunggu detik detik sampai di stasiun Wates sambil menatap jendela didekatnya. Dibelakangku ada Gondrong dan di sisi kananku Ujang yang membawakan kendiku.

“Jang, sorry ya…pegangin dulu kendi gue….gue mau mikir dulu harus ngapain”…Ujarku.

Gondrong: “Rencana B lu srak, gimana..?”

Aku: “Ngga ada, dan gue belum mikirin soal rencana B.” (saat itu otakku sedang berputar dengan RPM tinggi untuk mencari rencana B itu sambil menantikan detik-detik tiba di stasiun Wates) dan ini sedang gue lakuin…

Gondrong: “Rasanya gue pingin nampol orang dah niih…”!

Aku: “Lu tampol aja nih Ujang,……issssshhhh lu ngapain siih Jang mepet-mepet ginii iggghhh risiih gua, kaya hombreeng…..sanaan-sanaan..!” (ujang berdiri mepeet ke tubuhku sembari nyender)


Ujang: “Yeeee…kalau sayah ditampol, pecah semua ntar nih kendi, satu buat nangkis, satu sayah buang keluar, satu lagi simpeen..kan tinggal kendi sayaah"…hahahah (dia melucu)


Aku dan Gondrong pun sontak jadi nyengir dan ketawa, perasaan tegang lumayan menurun. Kereta pun berhenti di Stasiun Wates, pintu gerbong dibuka….aku membiarkan penumpang yang ada dibawah untuk naik kedalam gerbong terlebih dahulu, kemudian aku yang turun. Penumpang dari stasiun wates saat itu yang naik di pintu gerbong aku berdiri tidak begitu banyak, aku perhatikan hanya ada kurang lebih tujuh orang, diantaranya keluarga dengan membawa anak, dan selebihnya hanya laki-laki paruh baya yang bepergian sendiri, sepertinya mereka penumpang dengan tujuan akhir Purwokerto.

Kini tiba giliranku untuk turun, saat kakiku sampai di anak tangga paling bawah, perasaanku galau, langkahku terhenti, pandanganku kosong, namun otakku terus berfikir keraas. Ujang yang kini ada dibelakangku pun mendorong ku agar turun lebih cepat, namun tertahan oleh tubuhku yang tidak juga ingin menapakkan kakiku menuruni kereta. Hatiku seperti sedang menghitung kancing dengan kalimat…turun…ngga…turun…ngga…turuun…ngga…! dan…..Engga adalah kata akhirnya yang ada dalam benakku.

Aku: “Balik…balik, naik lagiii….kita ga usah turun….Rencana B..!” Ndrong lu siap-siap ya, gue pengen tau kalau kita terus disini, bakalan apa yang terjadi…

Ujang: “Duuuh Kang Gusrak jangan nakutin gitu kang…nanti kalau ada apa-apa gimana kang”!


Gondrong: “Asal dah nemu rencana B, gue ngikut aja….percaya gue ma lu Srak..!!


Aku: “Ya udah, kita hadapin lagi tuh kondektur, maunya apa..!” dan gua minta ma lu juga, tahan tuh tangan jangan sampe ada tampolan, gue pengen cantik mainnya jalanin rencana B ini…huuuuufftt, mudah-mudahan berhasil.


Langit sudah gelap, pintu pun ditutup dan kereta melanjutkan perjalanan, sedangkan kami bertiga kembali ke titik semula tadi. Lima belas menit kemudian kedua petugas yang berseteru denganku sebelumnya telah kembali, dan kageet melihat kami bertiga belum turun dan masih dalam posisi yang sama.

Kondektur 2: “Heeeh kurang ajar, masih disiini….Dipikir saya bercanda yaa…!”

Kondektur itu menunjuk-nunjuk wajahku, namun aku tidak menjawab sama sekali. Kami bertiga hanya diam saja, Ujang dan Gondrong diam karena mengikuti aku diam. Kemudian Kondektur itu melewatiku, dan memanggil petugas lainnya untuk meminta bantuan. Petugas lainnya pun keluar, ada tiga orang orang lagi di depanku, badannya cukup besar, dan memintaku, Ujang dan Gondrong mengikutinya. Aku pun mengikuti apa yang mereka mau, kami dibawa disebuah ruangan, dengan sedikit bicara aku meresponnya, mereka menggeledah semua bawaan kami, memeriksa kartu, tas dompet dan sebagainya. Diruangan itu kami didata semacam penyidikkan, kemudian dicatat disebuah kertas yang entah apakah itu ditanda tangani tau apa, aku tidak peduli…

Belakangan aku tahu, kalau ternyata ruangan itu adalah ruangan buat kurungan para penumpang yang memiliki nasib sama sepertiku, dijaga ketat oleh awak kereta, meskipun ada seseorang diantara mereka itu yang baik memberikan kami minum air mineral gelas. Beberapa waktu kemudian, datang seseorang ke ruangan kami berada…., aku menangkapnya dia semacam kepala kereta jabatannya, lumayan koorporatif orangnya, dilihat dari caranya memulai pembicaraan kepada kami.

Kepala Kereta: “Mahasiswa….?”

Aku: “Iya…Pak…..saya sudah jelaskan tadi kenapa kami ada disini, saya Cuma tidak mau disamakan dengan penumpang yang berkasus biasa dikereta tanpa karcis.”


Kepala Kereta: “Gini ya, KAI juga baru saja menerapkan peraturan dan sanksi tegas, dan memang peraturan ini harus dijalankan tanpa terkecuali, jadi Mas-mas ini kami data, nanti tiba stasiun akhir ikut ke pihak berwenang, kemudian tunaikan sanksinya 10x harga tiket normal, jika tidak bisa maka nanti biar pihak berwenang yang akan melanjutkan proses selanjutnya, atau Kalian bertiga turun di stasiun berikutnya.


Mendengar itu, aku sudah malas berdebat soal alasan dan sebagainya, sebenernya aku hanya ingin mengulur waktu, untuk bisa berjalan lebih jauh lagi.

Gondrong: “Srak….Sebenernya rencana B lu apaan sih, dari tadi anteng manut manut ajaa perasaan gue, jadi bingung gue nih..! (berbisik sambil mendekatkan mulutnya ke telingaku.
Aku: Sabar……!, aku melanjutkan dialogku dengan Kepala Kereta itu.


Aku: “Pak, Begini…saya diperiksa sudah, digeledah sudah, identitas dan kartu mahasiswa saya sudah dilihat, dari awal naik kami tidak berbuat hal-hal yang mengganggu kenyaman penumpang, kami juga langsung mengutarakan masalah kami secara koorperatif tidak ngumpet atau kabur-kaburan, kami juga tidak membawa barang bahaya, narkoba, dan sebagainya…..Kami cuma mau pulang pak, uang habis!. Oke kami terima memang dengan peraturan yang diterapkan ini, kami sudah tidak mungkin bisa menumpang sebagi penumpang sampai stasiun terakhir,…Tapi saya minta kebijaksanaan bapak, jika diperkenankan biar saya turun di stasiun Karang Anyar Kebumen." (bagian dari rencana B, Karang Anyar adalah stasiun menuju ke kampungku)

Kepala Kereta: “Maaf itu tidak bisa…harus distasiun berikutnya ini.


Negosiasi berjalan sedikit alot, namun Kepala Kereta sedikit lebih melunak, akhirnya ia mengijinkan kami menumpang sampai stasiun Kutuarjo, artinya kami harus turun di stasiun Kutuarjo, dan menyepakatinya tanpa ada sanksi administrasi, dsb. Perbincangan pun berakhir, Kepala Kereta meninggalkan ruanganku, namun aku tetap dalam penjagaan ketatp para petugas lainnya yang ada di sekitar kami saat itu.

Aku: “Jadi rencana B yang bisa gw sampein adalah, kita harus abis-abisan apapun caranya pokoknya harus sampe stasiun Karang Anyar…Harga mati itu…! Sementara itu dulu, gue kasih tau lanjutannya kalau kita bener-bener sampai disana.

Ujang: “Tapi kita tadi sepakat di Kutuarjo, dari Kutuarjo ke Karang Anyar ada berapa stasiun lagi kang?


Gondrong: “Dah malem lagi nih…!” dari Kutuarjo untuk ampai ke Karang Anyar bisa naik apaan lagi selain kereta, dah gelap gini..?


Aku: “Agak lupa gue, kalau ngga salah, abis Kutuarjo, Purworejo, trus Karang Anyar…dah deket siih…Hmmmmh…lo pada masih percaya ma gue kan…pokoknya ini kaki harus nginjek Karang Anyar dengan kereta ini….!! Ngerti ga kira-kira maksud gw…kita harus apa…? Hehe


Gondrong, Ujang: “Kagak”!


Aku: “Dah lah…istirahat dulu.., kita bakalan cape nanti…siap-siaap.”


Aku sedikit terlelap ringan saat itu, sampai tidak sadar ternyata kereta sudah mau berhenti di stasiun Kutuarjo. Kami bersiap, dengan kawalan petugas kami dikawal sampai pintu gerbong kereta untuk meyakinkan kalau kami betul-betul turun dari kereta.

Kereta pun berhenti, dengan perasaan yang berusaha menghibur, aku sengaja menyalami petugas yang mengawalku sampai pintu, semacam pamitan, meskipun petugas itu hanya senyum ringan menanggapi kelakuan kami saat itu.

“Makasiih ya paak,…..Jangan kangen loooh sama kitaaa…, jangan galak-galak juga kalau nemu lagi yang kaya kita ini…”Ujarku setelah bersalaman dan turun menginjakan kaki, aku coba meledek petugasi itu..”

Ujang: “Nuhun ya pak tumpangannya…pokoknya persib pak!

Setelah berdadah-dadah dengan petugas yang masih berdiri di pintu kereta, aku berjalan berjajar bertiga di sisi kereta dengan gerakan yang tenang. Aku memandangi tiap bagian dari stasiun Kutuarjo yang ada di hadapanku malam itu, sampai kemudian bunyi pengumuman dari stasiun, bahwa kereta yang kami tumpangi tadi akan segera berangkat melanjutkan perjalanan….Disitu aku kembali menepuk pundak Ujang dan Gondrong tanda bersiap menerima instruksi selanjutnya…

Aku : “Tenaaang boooy…kalem jalannyaa….Gue itung sampe sepuluh, dihitungan kesepuluh lo pada lari mencar yaaa….kita pisah, pilih gerbong masing-masing yang jauh, jangan sampe ketauan lo pada naik lagi ke keretaaa….Gua naik gerbong kedua dari terakhir, itu titik kumpul kita….!”

Gondrong: “Oke, gua gerbong 6 deh…, kelamaan lu itung ampe sepuluuuh, gua duluan dah misaaah yaaa..!”


Ujang: “Kaang….saya naik dimanaa…”!


Gondroong: “Udaah lu jangan ngeselin, jangan bikin curigaa oraaang…! Terseraaah pokoknya ketemu di gerbong kedua dari terakhir…Paham lo Jang..!”


1…….2…….3………4…………5……….dah sekarang daaaaah….Mencaaar!!.....jangan sampe keliatan, pinter-pinter loo yaa….., Ujarku memberi instruksi terakhir.

Gondrong langsung memisahkan diri, aku berlari ke kiri meninggalkan Ujang menuju rel yang berbeda, menuju tukang dagang kopi, pura-pura duduk sebentar dan kemudiaan berlari kecil sampai cepat dan Haaaaaap….!! aku sudah berhasil sampai di pintu gerbong kedua terakhir dan menaikinya. Aku pun duduk disitu, menunggu Gondrong dan Ujang merapat yang saat itu aku belum tau dimana posisinya, rasanya tidak terlalu lama, gerak cepatnya gondrong menyusuri lorong demi lorong kini dia sudah berdiri didepanku, sementara klakson kereta dan pluit sudah berbunyi, kereta pun mulai bergerak melaju.

Aku: “Ujang mana….?
Gondrong: “Ngga tau……kaga liat gue, coba bentar gw liat aman ga dipintu…"

Gondrong melangkahiku menuju pintu dan mengeluarkan badannya untuk melongok ke gerbong depannya…

Gondrong: “Anjriiiit…Sraak…!, kondektur yang tadi ngeliat gue…ah sueeee, ketauan kita disini….!

Aku: “aaaah abiiiis dah kita disini..!,mati aja lu ndrong dah….,! aku shock, mendengar gondrong mengucapkan itu..

Gondrong: “Halaaaaah….dah lah sekaliaan ajaaaalaah….!...F**k looo ah…..!


Aku melihat Gondrong mengeluarkan tubuhnya lagi menggelantung di pintu keretaa sambil mengacungkan jari tengah kearah gerbong terdepan, sepertinya ia mengacungkannya ke petugas tadi gerbong kami bermasalah, sambil berteriak F**k luuu!! Sesaat setelah itu ia merubuhkan badannya duduk disampingkuu….

Gondrong: “Sekalian deh Srak, sorry deh kesel banget gue, biarin deh abis-abisan dah...gue bakalan hadapin, cape banget kitaa..!

Aku tidak menjawap perkataanya, kecuali tatapan kosong menatap jendela pintu dari area toilet tempat aku duduk. Lima menit kemudian, grusaak…grusaaak, Ujang muncul dihadanku membawa dua kendi yang salah satunya adalah milikku. “Alhamdulilllah ketemu jugaa, duuh kaaang itu dibelakang ada petugas restorasi lagi ngarah kemari…..tadi sayah ngelewatin untung dia ga ngenalin sayah kaang, lagi ngarah kesini..”, ujang yang baru saja tiba langsung memberikan kabar menegangkan.

Gondrong: “Gue rasa, orang-orang itu semua pasti mengarah kesini ngejar kita..!” Tinggal dua stasiun lagi kan nih, ga jauh kan srak lu bilang?

Aku: “Sial….!, kenapa ga mulus sih ini rencana, ada aja masalah!, kalau nasib kita baik, kita bisa sampe tujuan sebelum mereka sampe sini….” Dengerin nih, Stasiun Karang Anyar setelah stasiun Purworejo depan yang ngga lama lagi sampai ini..”


Ujang: “Kita mencar lagi…?”


Aku: “Kita mecah deeh, jangan ngumpul gini, pokoknya bertahan…kita turun di stasiun setelah stasiun depan ini..” Yuuuk gerak sekarang…!!


Keadaan kereta saat itu sedang penuh penumpang, ada yang duduk di lorong jalan gerbong juga, zaman dulu, meskipun kereta penuh, berdiri tidak mendapatkan kursi, namun tetap memiliki karcis. Keadaan penumpang tersebut sedikit membantu kami menyamrkan dan memperlambat pergerakan para petugas-petugas kereta.

Aku bergerak ke gerbong paling belakang dan duduk jongkok dekat kursi pojok, nimbrung dengan penumpang keluarga yang aku tidak kenal seolah menjadi bagian dari keluarganya. Aku mengeluarkan sarung dari tasku dan melilitkannya menjadi seperti syal di leher dan setengahnya menutupi kepalaku, demi penyamaran.

 Kali ini kami jadi buronan gerbong yang paling diburu, Jantungku kembali berdegup cepat..dag dug dag dug tak bisa tenang,…sambil zikir dan berdo’a “Ya Alloh jangan sampaikan itu para petugas ke posisi kami berada sebelum sampai ditujuaaan…”

Lampu di gerbong tempatku memang sedikit redup, dan itu membuat suasana menjadi agak mencekam, sampai-sampai tak terasa sedikit lagi kami mulai memasuki stasiun Purworejo, dan aku tidak melihat lagi Gondrong dan Ujang saat itu. Tiba-Tiba terdengar suara sedikit gaduh, aku melirik ke ujung lorong gerbang ternyata itu adalah kondektur yang sudah sampai di gerbongku……


DAG…DUG…DAG…DUG….DAG….DUG……! jantungku semakin berdegup diatas ambang wajaar..! karena aku tidak tau bagaimana nasib Ujang dan Gondrong, hatiku hanya bergumam…”Perjuangan belum berakhir kawaan…!, semoga kalian bernasib baik…..!



Bersambung


3 komentar:

  1. Lagi seru bacanya eh bersambung, Hufftt ditunggu kelanjutan ceritanya >.<

    BalasHapus
  2. Aduh kentang..
    Ternyata masih bersambung lagi..
    (>_<)

    BalasHapus
  3. Beda orang, beda kebijakan. Kalo Pak Sumarno membolehkan numpang dan Pak Hengky malah sebaliknya.

    BalasHapus

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Popular Posts

agusonpapers. Diberdayakan oleh Blogger.